Frensia.id – Memulai setiap doa dengan bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW, sangat dianjurkan dalam Islam. Karena hal diyakini dapat mempercepat terkabulnya hajat. Akan tetapi, sebagian golongan masih ada yang beranggapan bahwa tawassul kepada Rasulullah itu hanya sebatas pada waktu Rasulullah masih hidup. Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki anggapan tersebut tidak berdasar, karena banyak Hadits Nabi dan keterangan dari Sahabat Nabi yang menguatkan bahwa tawassul kepada Nabi tidak hanya sewaktu Nabi masih hidup saja.
Lebih jelasnya, berikut frensia.id merangkum dari Kitab Mafahim Yajibu an Tushohha karya Ulama’ Masjidil Haram tersebut:
Pemahaman bahwa ruh itu tetap ada namun keberadaannya tidak cukup dengan panca indera tapi dengan kemampuan batin manusia. Hal itu tidak lain karena ruh adalah sesuatu yang abstrak, tak terlihat dan tak terjamah namun bisa dirasakan dan ditemukan oleh ketajaman dan kepekaan mata hati.
Mazhab Ahlu Sunnah wal Jamaah menyakini bahwa meski jasad sudah hancur tapi ruh masih tetap utuh. Ruh itu masih bisa melihat dan merasa. Masih bisa merasakan manfaat dan berbahagia sebab adanya kebaikan. Pun juga masih merasa susah dan sedih sebab kejelekan. Semua itu dirasakan oleh ruh semua manusia tanpa pengecualian. Hal ini didasarkan pada sikap nabi ketika memanggil orang-orang kafir Qurais yang sudah meninggal seperti `Atabah, Syaibah, dan Rabi’ah.
Oleh karena itu jika semua manusia ruhnya bisa mendengar dan merasakan setelah jasad tiada maka tentu bagi nabi tak perlu ditanyakan dan diragukan lagi. Apalagi nabi adalah manusia terpilih dan paling mulia yang memiliki kesempurnaan mata hati. Pasti Nabi mendengarkan dan menjawab salam dari umatnya, jelas baginya kondisi umatnya, memintakan ampunan dan memuji kepada Allah atas kebaikan-kebaikan yang dilakukan umatnya.
Manusia akan bernilai bukan karena dia hidup melainkan tingkatan kepekaan dan katajaman mata hatinya. Banyak kiranya contoh jasadnya hidup namun tidak memiliki mata hati sebab keangkuhan dan perwatakannya bahkan yang bersangkutan tidak memberikan manfaat bagi sesama tak beda dengan yang sudah tiada jasadnya.
Kesimpulannya adalah meski manusia itu sudah meninggal tapi ruhnya masih tetap dan bisa melihat, mendengar dan merasakan apalagi bagi manusia pilihan seperti Nabi dan para hamba shalih.
Pertanyaannya adalah bagaimana ketajaman mata hati itu dipahami sesuai konteks generasi millenial hari ini?