Frensia.Id- Tempat bersejarah, terletak di jalan Peneleh VII No. 29-31 Surabaya. Di tempat ini, pernah terjadi jalinan kasih Soekarno dan anak pak kostnya, Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto.
Oetari seorang gadis cantik, putri dari pimpinan Sarekat Islam, pernah menjadi Istri Soekarno. Pernikahan ini terjadi pada tahun 1921. Ketika Soekarno masih berusia muda dan baru saja menyelesaikan pendidikannya di Surabaya.
Kala itu, ayah Oetari, adalah tokoh pergerakan nasional yang sangat dihormati dan menjadi guru bagi Soekarno. Sedangkan ibunya, sedang sakit.
Soekarno sendiri tinggal di rumah tersebut, yang sekaligus tempat diskusinya. Kedekatan Soekarno dengan ibu Kostnya, istri HOS Tjokroaminoto, sangat erat. Terbukti, ia sangat simpatik padanya.
Rasa simpatinya, ia tunjukkan dengan menikahi Oetari, putri sang ibu kost. Pernikahan pun terjadi pada usia Oetari yang masih sangat belia. Umurnya, 16 tahun dan Soekarno telah 20 tahun.
Gelar pernikahan dilaksanakan sukses dilaksanakan di Kos-kosan itu. Oetari resmi menjadi istri pertama Soekarno.
Namun, pernikahan antara Soekarno dan Oetari tidak seperti pernikahan pada umumnya. Soekarno mengakui bahwa pernikahan ini lebih sebagai bentuk penghormatan dan rasa kasihan terhadap Tjokroaminoto yang telah banyak berjasa dalam hidupnya. Soekarno menyebutnya sebagai “kawin gantung“.
Pernikahan tersebut, dapat dikatakan tanpa kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Mereka tidak pernah hidup bersama sebagai suami istri, dan akhirnya, pernikahan ini berakhir.
Kisah ini menggambarkan betapa kompleksnya kehidupan pribadi Soekarno, yang diwarnai oleh berbagai pengorbanan dan keputusan yang diambil demi kepentingan yang lebih besar. Keputusannya untuk menikah dengan Oetari menunjukkan dedikasinya terhadap gurunya dan perjuangan nasional, meskipun hal itu berarti mengorbankan kebahagiaan pribadinya.
Pernikahan ini juga menunjukkan sisi lain dari Soekarno, yaitu bagaimana ia menghormati dan menghargai orang-orang yang berjasa dalam hidupnya. Hal ini sejalan dengan semangatnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, di mana ia selalu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadinya.
Kisah ini adalah bagian dari perjalanan hidup Soekarno yang penuh dengan liku-liku, termasuk dalam aspek pribadi dan politiknya.
Kos-kosan bersejarah HOS Tjokroaminoto, dengan pengalaman ini, tentu juga membentuk karakter dan pandangan hidup Soekarno. Yang pada akhirnya, ia mampu menjadi pemimpin besar dan proklamator kemerdekaan Indonesia. (*)