Isra Mi’raj merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada tahun terakhir periode Makkah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
Dalam peristiwa ini, Nabi melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan kemudian naik ke langit untuk bertemu dengan Allah SWT.
Perjalanan Isra Mi’raj ini termasuk mu’jizat yang luar biasa, karena dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam satu malam.
Nabi Muhammad SAW dibawa oleh malaikat Jibril menggunakan seekor binatang yang disebut Buraq. Selama perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW melewati berbagai tempat suci dan bertemu dengan para nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa.
Di langit, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Allah SWT dan menerima perintah untuk melaksanakan sholat lima waktu sehari semalam. Sholat merupakan salah satu rukun Islam yang sangat penting, dan perintah ini menjadi landasan bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah sehari-hari.
Selain menerima perintah sholat, Nabi juga menerima hadiah dari Allah SWT yang tidak pernah diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya.
Melansir dari berbagai sumber, frensia.id rangkum 4 hadiah istimewa yang diterima Rasulullah saat Isra Mi’raj:
Pertama, Surat Al-Fatihah
Surat Al-Fatihah adalah surat pertama dalam Al-Quran yang terdiri dari tujuh ayat. Surat ini diturunkan di Makkah dan disebut surat pembukaan, karena sebagai surat pembuka al-Qur’an dan Sholat.
Surat ini mengandung pengakuan atas keesaan Allah SWT, pengakuan identitas sebagai seorang hamba, permohonan bantuan petunjuk, serta penegasan tentang jalan orang-orang yang mendapat nikmat, bukan jalan orang-orang dimurkai dan sesat. Surat Al-Fatihah juga merupakan surat yang paling sering dibaca oleh Umat Islam dalam setiap ibadah.
Kedua, Telaga Al-Kautsar
Telaga Al-Kautsar adalah sebuah telaga yang terletak di surga, yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Telaga ini memiliki air yang lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih wangi dari minyak kasturi.
Telaga ini juga memiliki banyak bejana yang lebih banyak dari bintang di langit. Barangsiapa yang minum dari telaga ini, maka ia tidak akan haus selamanya. Telaga ini adalah salah satu nikmat yang Allah berikan kepada umat Nabi Muhammad SAW di akhirat kelak.
Terakhir, Dua Ayat Terakhir Surat al-Baqarah
Dua ayat terakhir surat al-Baqarah adalah ayat 285 dan 286. Ayat 285 berbunyi: “Orang-orang yang beriman itu, beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya, dan mereka tidak ragu-ragu tentang (kebenaran) iman mereka. Mereka berjuang dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” Ayat ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi juga harus dibuktikan dengan perbuatan. Orang-orang yang beriman harus bersedia mengorbankan apa yang mereka miliki untuk membela agama Allah. Orang-orang yang beriman juga harus yakin dan teguh dalam keyakinan mereka, tanpa ada keraguan atau kebimbangan.
Ayat 286 berbunyi: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Ayat ini mengandung beberapa hikmah, di antaranya adalah:
- Allah Maha Adil dan Maha Penyayang, Dia tidak akan meminta manusia untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan mereka. Dia juga akan memberikan balasan yang setimpal dengan amal perbuatan manusia, baik itu pahala atau siksa.
- Manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh kekurangan, mereka bisa saja lupa atau salah dalam menjalankan perintah Allah. Oleh karena itu, mereka harus selalu memohon ampun dan rahmat dari Allah, serta mengakui kesalahan mereka.
- Manusia juga membutuhkan bantuan dan perlindungan dari Allah, terutama dalam menghadapi musuh-musuh agama yang ingin menjatuhkan mereka. Mereka harus berserah diri kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya.