Frensia.id – Kehadiran seorang anak sangat dinanti semua pasangan yang telah melangsungkan pernikahan, karenanya dalam Islam hal ini menjadi salah satu tujuan adanya pernikahan yakni menjaga keturunan (hifdzun nasl).
Islam sebagai agama yang mengatur segala lini kehidupan juga mengatur bagaimana hak-hak anak sejak ia dilahirkan.
Dilansir Frensia.id dari Kitab Al-Adzkar karya Abu Zakariyah Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi menjelaskan bahwa disunnahkan untuk memberikan bayi yang baru dilahirkan pada hari ketujuh dari hari kelahirannya atau pada hari saat ia dilahirkan.
Hal ini berdasarkan hadits kualitas Hasan yang diriwiyatkan oleh Imam Turmudzi:
اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّرَ بِتَسْمِيَّةِ الْمَوْلُوْدِ وَوَضْعِ الْأَذَى وَالْعَقِّ
“Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW memerintahkan memberi nama kepada anak yang baru lahir pada hari ketujuh dari kelahirannya, menghilangkan kotoran darinya, dan mengorbankan akikah aqiqah baginya” (HR. At-Turmudzi)
Selanjutnya, Imam Nawawi juga mengutip hadits bahwa Rasulullah juga menganjurkan untuk memperbagus nama karena kelak di hari kiamat umat manusia akan dipanggil berdasarkan namanya dan nama bapaknya. Berdasarkan Hadits:
إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَاَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا اَسْمَائِكُمْ
“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan ayah-ayah kalian. Oleh karena itu, perbaguslah nama kalian” (HR. Abu Daud dengan Sanad Jayyid)
Adapun nama-nama bagus yang dimaksud, Imam Nawawi mengutip tiga hadits yang menyebutkan salah satu nama disukai oleh Allah SWT ialah Abdullah dan Abdurrahman.
تَسَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الْأَنْبِيَاءِ وَأَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى: عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَأَصْدَقُهَا : حَارِثٌ وَهَمَّامٌ وَأَقْبَحُهَا: حَرْبٌ وَمُرَّةٌ
“Berilah nama dengan nama para nabi, dan nama yang paling disukai Allah Ta’ala ialah Abdullah dan Abdurrahman, sedangkan nama yang paling benar ialah Harits (yang rajin bekerja) dan Hammam (Yang tinggi Cita-citanya), sedangkan nama yang paling buruk ialah Harb (perang) dan Murrah (pahit).” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i dan lainnya).
Doktor Muhyiddin Dib dalam mensyarahi kitab al-Adzkar dalam kitabnya Lawaami’ al-Anwar menjelaskan bahwa paling baiknya disebutkan Hammam (yang memiliki cita-cita tinggi) ialah karena semua orang bergerak berdasarkan cita-cita, sedangkan cita-cita ialah awal dari keinginan kemudian untuk melanjutkan keinginan harus terus dijaga dengan bekerja (Harits).
Demikian juga, berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan nama seorang anak ialah dianjurkan mengambil nama-nama dari orang-orang terdahulu termasuk salah satunya ialah seorang nabi.
Oleh karena itu, tips dari Frensia.id dalam memberikan nama anak selain dengan mengambil dari hadits diatas, juga tidak usah-usah repot mencarikan nama dengan arti yang bagus, cukup mengambil nama para nabi, orang-orang sholeh, serta tokoh-tokoh berpengaruh, dengan harapan kelak anak-anak itu akan memiliki kesamaan sifat dan hal lainnya.
Di Indonesia banyak para tokoh yang mempraktikkan hal ini, sebut saja Anies Baswesdan yang memberikan nama anaknya dengan nama seorang nabi putra dari Nabi Ibrahim, yakni Ismail. Ismail Hakim Baswedan. Serta dengan malaikat, yakni Mikail. Mikail Azizi Baswedan
Selain itu, juga ada Ahmad Dhani yang memberikan nama tiga anaknya hasil pernikahannya dengan Maia Estianti dengan tiga tokoh yang sangat berpengaruh dalam Islam, yakni Ahmad Al Ghazali, Ahmad Jalaluddin El Rumi, dan Abdul Qadir Jaelani, dengan panggilan-panggilan yang tidak ketinggalan zaman.
Ahmad Al Ghazali, dipanggil Al, Ahmad Jalaluddin El Rumi dipanggil El, serta Abdul Qadir Jaelani dipanggil Dul.
Tips selanjutnya, dalam memberikan panggilan terhadap nama anak dapat meniru apa yang dilakukan oleh Buya HAMKA yang merupakan singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Abdullah.
Sebagai contoh, Ahmad Ali Murtadho: Ahmad nama lain Nabi Muhammad, Ali Murtadho, nama Sayyidina Ali beserta julukannya, dipanggil Aam.