Frensia.id – Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia memberikan tanggapan terhadap usulan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, tentang penyelenggaraan pertemuan puncak kedua untuk mencari penyelesaian damai konflik Ukraina.
Dalam pidatonya, Lavrov menekankan bahwa Rusia hanya akan berpartisipasi dalam pembicaraan yang berlangsung tanpa ultimatum dan tekanan. Hal ini sebagaimana disampaikan Sergey Lavrov pada tanggal 27 Agustus 2024.
Pernyataan Zelensky yang disampaikan kepada media India baru-baru ini mengungkapkan keinginannya untuk mengadakan pertemuan di negara-negara Global South.
Lavrov menilai bahwa langkah Zelensky tidak lebih dari sekedar lanjutan dari apa yang disebutnya sebagai inisiatif yang telah berubah format dari format Kopenhagen menjadi konferensi Burgenstock, tanpa menghasilkan kemajuan nyata.
“Semua proses ini bergantung pada formula perdamaian yang suram dan tidak efektif yang diusulkan oleh Zelensky,” ujar Lavrov.
Lavrov mengingatkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah secara konsisten menyatakan bahwa dialog yang efektif adalah dialog tanpa pemaksaan ultimatum.
Ia mengutip peristiwa Februari 2014, ketika kesepakatan yang dicapai antara mantan Presiden Ukraina, Viktor Yanukovich, dan oposisi untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional hancur keesokan harinya karena campur tangan dari Amerika Serikat dan negara Barat lainnya.
Lebih lanjut, Lavrov menyinggung kesepakatan Minsk Februari 2015 yang disetujui oleh Dewan Keamanan PBB, di mana pemimpin Ukraina saat itu dan pemimpin Eropa tidak berniat mematuhinya, menurut pengakuan mereka sendiri.
Ia menjelaskan bahwa keputusan Minsk adalah alasan mengapa konflik masih berlangsung hingga saat ini.
“Pembicaraan jujur diadakan di Minsk, namun mereka memilih untuk tidak melanjutkannya,” kata Lavrov.
Menteri Luar Negeri Rusia juga mengecam upaya Barat untuk mendorong Ukraina ke dalam lebih banyak konflik daripada mengejar solusi damai.
“Barat, termasuk kaum Anglo-Saxon dan politisi Eropa, telah menghalangi Ukraina untuk terlibat dalam perundingan berdasarkan prinsip-prinsip yang diterima secara universal,” tegasnya.
Lavrov menegaskan bahwa Rusia tetap berkomitmen untuk melindungi rakyatnya serta etnis dan kelompok minoritas di Ukraina yang, menurutnya, diperlakukan tidak adil oleh pemerintah saat ini di Kiev.
“Kami tidak akan terprovokasi. Jika Barat sungguh-sungguh ingin menormalisasi situasi di Eropa, kami siap duduk berunding tanpa pra-syarat,” pungkasnya.