Frensia.id- Tradisi tahlilan merupakan salah satu ritual yang kental disebut-sebut sebagai bentuk membuminya Islam di Nusantara. Hingga era modern ini, eksistensinya tetap kuat. Akademisi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijagan Yogyakarta membongkar 3 faktor kekuatannya.
Sangkot Sirait berupaya melakukan kajian pada tradisi tahlilan yang ada di Kotagede. Hasil penelitiannya telah terbit pada bentuk jurnal dalam Journal of Indonesian Islam di tahun 2016 silam.
Latar kajiannya tampak berlatar pemikiran Islam modernis yang tampak kontras dengan praktik budaya dan keagamaan yang diamati di Kotagede. Ada ketegangan antara interpretasi ketat Islam, yang berusaha untuk membuang tradisi yang tidak berakar kuat pada hukum Islam.
Mereka cenderung menolak pendekatan yang lebih inklusif dalam hal menerima adat dan ritual lokal. Dalam pemikiran Islam modernis, penekanannya adalah pada pemurnian praktik keagamaan. Seluruh inovasi atau elemen yang tidak berakar kuat pada hukum Islam, dianggapnya sesat.
Pemikiran tersebut menurutnya, sebenarnya bertujuan untuk berpegang teguh pada praktik Islam yang dianggap otentik dan tidak berubah. Namun, Kotagede baginya berbeda, tradisi tahlilan tetap kuat seolah tak berlawanan dengan kalangan Islam modernis.
Di Kotagede, praktik tradisional yang mungkin diberi label sesat oleh standar modernis tidak hanya dilestarikan tetapi juga dirayakan. Komunitas di Kotagede berhasil menyelaraskan warisan budaya mereka yang kaya dengan keyakinan keagamaan mereka, menampilkan perpaduan unik antara tradisi dan iman.
Ada tiga faktor yang menurutnya menjadi sebab tradisi tahlilan tetap menguat. Ketiganya juga dapat disebut sebagai keistimewaan tradisi yang oleh beberapa kalangan disebut sebagai bid’ah.
Tradisi Tahlilan Pada Masyarakat Transisi
Masyarakat sedang pada proses transisi menuju modern. Dalam masa transisi daerah seperti Kotagede, menurutnya, menganut sistem nilai yang memberikan ruang subur bagi tahlilan untuk berkembang.
Doktrin Islam modernis normatif yang melarang tradisi ini, sangat lemah. Wacananya tidak mampu mengalahkan sistem pemikiran mistis masyarakat.
Klaim Profan Kalangan Reformis
Kalangan terpelajar atau reformis cenderung melihat tahlilan sebagai budaya Profan. Padahal fungsi sosiologisnya telah dianggap memperkuat tradisi masyarakat hingga sekarang.
Masyarakat sejak lama menganggap tahlilan sebagai bagian dari ajaran Islam. Mereka menikmatinya sebagai bagian dari konsumsi spiritual mereka.
Tahlilan Banyak Diinterpretasikan Positif
Salah kekuatan tradisi tahlilan adalah karena banyak interpretasi yang positif. Tradisi demikian dapat dipahami, dimaknai, ditafsirkan ulang, atau bahkan dimodifikasi oleh masyarakat sesuai dengan keyakinan mereka sendiri.
Mereka yang percaya bahwa tahlilan adalah bagian dari ajaran agama, merasakan aspek spiritual dari ritual ini dan mendapatkan perasaan khidmat saat melakukannya. Sedangkan bagi mereka yang melihat tahlilan sebagai tradisi, menganggapnya sebagai hal yang dapat memperkuat ikatan persaudaraan dalam masyarakat.