“Violence experienced by students in romantic relationships includes psychological, physical, economic, and sexual violence, such as coercion into sexual activities”
Frensia.id- Ungkap bentuk kekerasan perempuan, niscaya dapat memahami langkah penanganan siksaan psikologisnya. Proses tersebut dilakukan oleh Syaidah, seorang akademisi Universitas Islam Negeri Kiai Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember guna menemukan langkah resilensi psikologis pada mahasiswa yang menerima kekerasan dari pasangannya saat pacaran.
Ia mengumpulkan data dari sejumlah mahasiswi di kampus sendiri, UIN KHAS Jember. Data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui upaya mereka dalam menangani trauma pasca menerima kekerasan dari pasangannya.
Berdasarkan data yang dikumpulkan tersebut, terlebih dahulu, Syaidah mengurai bentuk-bentuk kekerasan yang terima mahasiswi UIN KHAS Jember saat berpacaran. Setidaknya ada empat bentuk kekerasan yang dideteksi di jurnal penelitiannya yang telah diterbitkan dalam PSYCHOSPIRITUAL.
Kekerasan Psikologis
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa yang ditelitinya, mengalami siksaan psikologis. Ada yang mengaku dihina menggunakan kata-kata kasar, dianggap tolol, gendut dan hingga hinaan karena berkulit hitam,
Bahkan ada juga yang tertekan karena cemburu berlebihan, terlalu posesif, dikekang dan dibentak. Semua kejadian tersebut dianggap merupakan kekerasan psikologis.
Kekerasan Fisik
Bukan hanya psikologis, mahasiswi UIN KHAS Jember saat berpacaran juga ada yang mengalami kekerasan secara fisik. Beberapa fenomena yang ditemui, diantaranya, mulai dari dicubit, dipukul, dibenturkan ke dinding, menarik tangan, bahkan ada yang hingga menarik jilbabnya.
Kekerasan Ekonomi
Para mahasiswi yang diteliti juga ada yang mengalami kekerasan pada sisi ekonominya. Syaidah menemui sebagian dari mereka menghadapi diskriminasi ekonomi.
Ada banyak kejadian yang dicatat dalam penelitiannya. Beberapa diantaranya, dipaksa menanggung kebutuhan, uangnya dipinjam tapi tak dikembalikan hingga sok berkuasa dalam pengelolaan keuangannya.
Kekerasan Seksual
Hal mencengangkan, Syaidah juga menemukan data adanya kekerasan seksual yang dialami pada mahasiswi UIN KHAS Jember saat berpacaran. Mulai dari disentuh di area intimnya, hingga dipaksa melakukan hubungan badan yang tak semestinya.
Bentuk kekerasan yang diterimanya di atas, menurut Syaidah telah berdampak negatif pada kondisi psikologisnya. Mereka teridentifikasi mengalami trauma emosional yang mendalam.
Namun, hebatnya beberapa narasumbernya mengaku terus berusaha untuk bangkit dari trauma yang dialami dengan berbagai cara yang positif. Misalnya, ada mahasiswi UIN KHAS Jember yang kemudian bergabung dalam berbagai kegiatan positif.
Ada yang berusaha menjaga emosinya dengan baik, melalui sosial dengan orang lain, dan membentuk pandangan hidup positif. Pasca trauma mereka cenderung melakukan analisis pada masalah-masalah yang mereka hadapi, kemudian mencari jalan keluarnya.
Proses tersebut yang disebut Syaidah sebagai resilensi psikologis. Artinya, mereka berupaya bertahan dan bangkit dari kesulitan serta untuk keluar dari situasi sulit, kesedihan, dan keterpurukannya sendiri.
Bahkan Syaidah juga menemukan bahwa proses resilensi diri mereka juga melibatkan dukungan dari lingkungan sosialnya. Ada teman dan keluarga, ternyata dapat berkontribusi besar dalam mengatasi trauma pasca menerima kekerasan saat berpacaran.
Pada intinya, untuk mengatasi trauma pasca menerima kekerasan dari pacarnya, Mahasiswa UIN KHAS Jember mengombinasikan kekuatan internal dan dukungan eksternal untuk bangkit kembali. Dan terbukti, mereka mampu mengatasi pengalaman traumatis dengan lebih baik dan berkembang menjadi individu yang lebih kuat.(*)