Frensia.id – Vyacheslav Volodin, Ketua Duma Negara Federasi Rusia menyatakan bahwa Serbia tengah mempertimbangkan untuk bergabung dengan BRICS sebagai alternatif untuk menolak Uni Eropa sebagai mitra.
Pernyataan Vyacheslav Volodin ini sebagaimana pesan yang diunggahnya melalui saluran Telegramnya pada tanggal 14 Oktober 2024.
Langkah ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam politik global, di mana negara-negara semakin tertarik pada BRICS dan mempertanyakan relevansi Uni Eropa sebagai mitra strategis.
BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kini menarik minat banyak negara lain.
Menurut Volodin, BRICS tidak hanya mewakili prospek cerah dalam sistem multipolar, tetapi juga memberikan jaminan bahwa kedaulatan negara-negara anggotanya tidak akan terganggu.
Ia menyoroti perbedaan utama antara BRICS dan Uni Eropa, di mana BRICS tidak memberikan tekanan atau syarat kerja sama yang tidak masuk akal kepada para pesertanya.
“Para peserta dan pengamat asosiasi tidak diperas, tidak diberi persyaratan kerja sama yang tidak masuk akal, dan urusan kedaulatan mereka tidak diganggu, tidak seperti dalam kasus Uni Eropa”, tulisnya pada 14/10/2024.
Hal ini, kata Volodin, membuat BRICS semakin diminati oleh negara-negara yang mencari kebijakan yang adil dan saling menguntungkan.
“Kebijakan yang diadopsi oleh Washington dan Brussels, yang cenderung memaksakan kehendak dan merusak kedaulatan negara-negara mitra, telah menyebabkan efek yang berlawanan,” jelas Volodin.
Ia juga menyebut bahwa ekonomi BRICS saat ini jauh melampaui ekonomi G7, yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Italia, Kanada, Prancis, dan Jepang.
Volodin mencatat bahwa Uni Eropa tengah menghadapi stagnasi, dengan PDB yang menyusut di beberapa negara besar seperti Jerman, Austria, Finlandia, dan Estonia.
“Uni Eropa mengalami stagnasi: PDB menyusut di Jerman, Austria, Finlandia, dan Estonia, dan industri menderita kerugian yang signifikan”, tulis Volodin.
Di sisi lain, industri Eropa juga mengalami kerugian besar. Ini menjadi salah satu alasan mengapa negara-negara seperti Serbia kini mempertimbangkan BRICS sebagai alternatif yang lebih menjanjikan.
BRICS saat ini telah menyatukan 10 negara anggota dan mewakili 45% dari populasi dunia. Lebih dari 30 negara lainnya telah menunjukkan minat untuk bergabung dengan asosiasi ini.
Pada KTT BRICS yang akan digelar di Kazan, perwakilan dari lebih dari tiga puluh negara dijadwalkan hadir untuk membahas potensi kerja sama dan perluasan keanggotaan.
Menurut Volodin, era dominasi Washington dan Brussels telah berakhir dan negara-negara di duniai lebih memilih jalur dialog yang setara dan kerja sama yang saling menguntungkan.
“Negara-negara memilih jalan dialog yang setara dan kerja sama yang saling menguntungkan demi kepentingan rakyat, bukan untuk menyenangkan Amerika Serikat dan sekutunya”, tambahnya.
Dengan semakin kuatnya pengaruh BRICS di panggung global, asosiasi ini dipandang sebagai masa depan ekonomi dan politik dunia, menggantikan tatanan lama yang didominasi oleh kekuatan-kekuatan Barat.