Frensia.id- Wake Me Up When September Ends, ternyata ditulis atas kesedihan yang mendalam. Lagu yang ini ada pada album Green Day dengan konsep kisah dari Jesus of Suburbia dipublikasi pada tahun 2004.
Seluruh lagu dalam album yang dimaknai sebagai perjalanan Suburbia dalam melihat fenomena yang menyayat hati. Salah satu yang meledak di pasaran adalah Wake Me Up When September Ends.
Lagu tersebut dinyanyikan dan dikait-kaitkan dengan tragedi pengorbanan para penyintas di USA. Bahkan ada yang menghubungkan dengan tragedi-tragedi perang yang terjadi.
Nada dan lirik dalam lagu tersebut memiliki lapisan makna emosional yang mendalam, yang berakar dari pengalaman pribadi vokalis Billie Joe Armstrong. Lagu ini ditulis sebagai penghormatan kepada ayahnya yang meninggal ketika Armstrong masih kecil, dan melalui lirik-liriknya.
Ia mengekspresikan rasa kehilangan, duka, dan keputusasaan yang dirasakannya pada masa itu. Frasa dari judul lagu tersebut saja, menunjukkan menjadi simbol keinginannya untuk menghindari rasa sakit emosional dan menunggu hingga masa-masa kelam itu berlalu.
“Saya rasa itu sesuatu yang membekas dalam ingatan saya; bulan September adalah hari peringatan yang selalu, entahlah, agak menyebalkan”, katanya pada temannya sebagaimana dilansir dalam Song Writer, 0 Juni 2022 lalu.
Seiring waktu, makna lagu ini telah melampaui pengalaman pribadi Armstrong dan menjadi relevan bagi berbagai peristiwa sejarah yang menyentuh banyak orang. Lagu ini diadopsi oleh banyak pihak sebagai simbol duka dan kerentanan dalam konteks yang lebih luas, seperti gerakan anti perang yang muncul akibat Perang Irak dan tragedi Badai Katrina.
Liriknya yang penuh emosi dan resonansi rasa kehilangan berhasil menangkap perasaan trauma kolektif yang dialami oleh masyarakat yang terhimpit oleh berbagai tragedi global.
Dengan nuansa melankolis yang mendalam, Wake Me Up When September Ends menawarkan semacam refleksi universal tentang rasa duka yang tidak mudah diatasi, tetapi sekaligus memberikan secercah harapan untuk akhirnya bisa melewati masa-masa sulit.
Lagu ini tidak hanya menjadi cerminan dari rasa sakit yang dialami Armstrong secara pribadi, tetapi juga menjadi suara bagi banyak orang yang merasa terjebak dalam situasi sulit, baik secara pribadi maupun dalam skala global. Lagu ini telah menjadi semacam anthem bagi mereka yang mencari kekuatan untuk bangkit dari penderitaan, baik itu karena kehilangan orang yang dicintai, konflik, maupun bencana alam.