Frensia.id- 2 pisang unggulan kebupaten Lumajang memang telah lama menarik minat para peneliti. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur melalui tim penelitinya, P.E.R. Prahardini, Yuniarti, dan Amik Krismawati, mengupas tuntas keunggulan dua varietas pisang lokal yang menjadi kebanggaan kabupaten tersebut.
Hasil penelitian mereka, yang diterbitkan dalam Buletin Plasma Nutfah tahun 2010, menyoroti betapa besar potensi pisang Lumajang di pasar lokal maupun nasional.
Kabupaten Lumajang memang sudah dikenal sebagai sentra produksi pisang di Jawa Timur dengan keanekaragaman plasma nutfah yang tinggi. Tercatat, ada 33 kultivar pisang yang tumbuh subur di wilayah ini, termasuk pisang raja dan pisang ambon.
Namun, yang menjadi bintang utama dari penelitian tersebut adalah varietas pisang Raja Agung (Musa x paradisiaca) dan Mas Kirana (Musa acumunata). Kedua varietas ini mampu tumbuh dengan baik pada ketinggian 450 hingga 650 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sangat cocok untuk daerah pegunungan Lumajang.
Penelitian yang dilakukan di dua wilayah, yakni Senduro dan Pasrujambe, dari Mei 2006 hingga Maret 2007, bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai potensi pisang-pisang ini. Inventarisasi, eksplorasi, hingga karakterisasi dilakukan secara menyeluruh untuk mengenali ciri-ciri unik yang dimiliki oleh masing-masing varietas.
Pisang Raja Agung Semeru, salah satu varietas unggulan, memiliki keunikan pada warna batang semunya yang merah muda. Bentuk buahnya juga khas dengan hanya 1-2 anakan per tandan dan ukuran buah yang mengesankan—panjang mencapai 33-36 cm dan lingkar hingga 19 cm.
Berat setiap tandan berkisar antara 10-20 kg, menjadikannya salah satu pisang yang mengesankan dari segi fisik dan bobot. Selain itu, keunggulan lain dari Raja Agung Semeru adalah kulit buahnya yang tebal dan daya simpannya yang cukup lama, mencapai 3-4 minggu pasca panen. Hebatnya lagi, meski kulit buah berubah warna menjadi hitam, daging buah tetap segar dan layak konsumsi. Pisang ini juga berpotensi sebagai bahan baku industri kecil dan menengah.
Tak kalah menarik, varietas Mas Kirana menunjukkan daya tariknya dengan batang semu berwarna merah kecoklatan. Pisang ini memiliki 2-3 anakan per tandan dan menghasilkan buah berukuran kecil yang sangat digemari konsumen.
Bobotnya yang mencapai 11-13 kg per tandan dan rasa manis serta daging buah segar dan renyah menjadi daya tarik tersendiri. Lebih dari itu, masa produksi yang singkat dan ketahanannya terhadap penyakit Sygatoka menjadikannya unggul dibandingkan kultivar lainnya.
Pisang Raja Agung dan Mas Kirana bukan sekadar buah biasa. Keduanya adalah potensi besar bagi Lumajang untuk meningkatkan produksi pisang yang berkualitas tinggi, tidak hanya untuk konsumsi lokal tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Dengan karakteristik unggul seperti daya tahan, rasa manis, dan keunikan fisik, tak heran jika keduanya dijadikan fokus penelitian. Siapa sangka, dua pisang lokal ini menyimpan potensi besar bagi dunia agrikultur, sekaligus menjadi kebanggaan yang tak ternilai bagi Kabupaten Lumajang.