Frensia.id- Setiap tahunnya, tanggal 9 Februari diperingati sebagai Hari Kavaleri Indonesia sejak tahun 1950. Hari tersebut menandai pembentukan satuan lapis baja oleh KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution melalui Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat nomor 5/KSAD/PNPT/50 pada tanggal 9 Februari 1950.
Adapun runtutan sejarahnya adalah sebagaimana berikut;
Awal Terbentuk Kavaleri
Hari Kavaleri tidak hanya merupakan peringatan semata, namun juga melibatkan pengorbanan dan perjuangan tokoh-tokoh yang terlibat dalam sejarahnya.
Pada tahun 1949, dalam kondisi di mana para pejuang tidak memiliki senjata yang memadai, muncul niat untuk merebut kendaraan tempur (ranpur) panser dari Jepang, Belanda, dan Inggris guna melawan sekutu.
Senjata tempur hasil rampasan pertama kali digunakan di Palembang pada tahun 1949, lalu di Pulau Jawa dan Medan pada awal tahun 1950.
Pada tahun yang sama, 1950, satuan organisasi ini akhirnya resmi dibentuk dengan nama Komando Pasukan Berlapis Baja di bawah kepemimpinan Letkol Kav KGPH Soerjo Soejarso. Letkol Soerjo Soejarso memimpin empat eskadron kavaleri di Bandung, Magelang, Palembang, dan Medan.
Eskadron kavaleri ini dilengkapi dengan berbagai jenis alat tempur bekas KNIL, seperti Ford Link, Humber Scout, Otter Body Car, Universal Carrier, dan Stuart.
Meskipun hanya menggunakan peralatan tempur yang terbatas, satuan kavaleri Angkatan Darat turut serta dalam operasi untuk menumpas pemberontakan di berbagai daerah. Ini menunjukkan semangat dan dedikasi para anggota kavaleri dalam menjalankan tugas mereka, meskipun dalam kondisi yang sulit pada saat itu.
Perkembangan Kavaleri
Pada tanggal 7 Juni 1956, organisasi yang awalnya Inspektorat Kavaleri diubah menjadi Pusat Kavaleri sesuai dengan Surat Keputusan KSAD nomor KPTS/78/6/1956.
Perubahan ini mencerminkan evolusi peran dan tanggung jawab satuan kavaleri dalam lingkungan TNI AD. Selama periode 1958 hingga 1965, terjadi restrukturisasi di TNI AD, termasuk Pusat Kavaleri yang kemudian diubah menjadi Pusat Kesenjataan Kavaleri.
Eskadron kavaleri diakui sebagai Batalyon Kavaleri yang mencakup beberapa komponen. Selama periode 1965 hingga 1980, satuan kavaleri secara aktif terlibat dalam penumpasan pemberontakan G.30.S/PKI.
Brigade Kavaleri 1/Limpung Alugoro di bawah kepemimpinan Letkol Kav R. Wing Wiryana berperan penting dalam menyelamatkan Ibukota dan wilayah lainnya. Pasukan di Magelang berhasil menguasai Kota Semarang, sementara pasukan di Malang merebut Blitar Selatan yang menjadi basis pemberontakan PKI.
Antara tahun 1980 hingga 1990, dilakukan proyek Beta dengan menggadaikan ranpur AMX-13/105 sebanyak 100 unit untuk menggantikan AMX-13/75 Kostrad dan mengisi kebutuhan Batalyon Kavaleri Kewilayahan. Pusat Kavaleri, di bawah pimpinan almarhum Brigjen TNI Haryono P., direorganisasi menjadi Pusat Kesenjataan Kavaleri pada 27 Mei 1985.
Perubahan ini mengakibatkan Pusat Kesenjataan Kavaleri berada langsung di bawah KSAD. Pada tahun 1984, dilakukan pengadaan ranpur Co. Scout dan Co. Ranger dari Amerika, dengan menjalankan proses pemeliharaan dan pengadaan ranpur tank Scorpion dan Stormer dari Inggris. Pada periode 2001 hingga 2007, dilakukan penataan ranpur ke satuan-satuan kavaleri di Pulau Jawa sebanyak 130 unit, serta pengadaan 32 unit panser VAB-NG yang merupakan produksi dari Perancis. Ini mencerminkan upaya untuk memperbaharui dan meningkatkan kekuatan ranpur dalam satuan kavaleri.
Periode Modernisasi Kavaleri
Dalam periode ini, TNI AD merencanakan pembelian Tank MBT Leopard untuk memperkuat Alutsista (alat utama sistem persenjataan) kavaleri mereka.
Antara tanggal 30 Januari hingga 4 Februari, tim delegasi Indonesia melakukan kunjungan ke Belanda untuk melakukan negosiasi dan pemeriksaan terhadap kondisi Tank MBT Leopard. Pada 26 Juli 2012, KSAD mengambil keputusan untuk membeli tank MBT Leopard 2 RI dari Jerman, dan hal ini langsung diklarifikasi oleh pihak Rheinmetall Landsysteme GmbH. Program modernisasi Alutsista Kavaleri TNI AD juga melibatkan pengadaan ranpur “TARANTULA”, menunjukkan komitmen untuk terus meningkatkan kemampuan dan kekuatan kavaleri dalam menghadapi tuntutan zaman.