Frensia.id- Tahun 1953 novelis Ernest Hemingway memperoleh penghargaan Pulitzer, sebuah apresiasi tertinggi dalam bidang jurnalisme di Amerika. Tidak lama kemudian disusul dengan Award of Merit Medal dari American Academy of Letters. Puncaknya adalah pengakuan tertinggi atas prestasinya saat memperoleh nobel sastra pada tahun 1954.
Nominasi dan penghargaan yang diraih oleh Hemingway merupakan titik tertinggi dari karir kepenulisannya. Dari berbagai novel dan cerita pendek yang ia karang ternyata ada satu tulisan yang menjadi alasan atas penghargaan-penghargaan tersebut dan menunjukkan pengaruhnya dalam dunia kesusasteraan, yaitu the Old Man and the Sea yang terbit pertama kali pada tahun 1952.
Novel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pertama kali pada tahun 1973 dengan judul Lelaki Tua dan Laut oleh Sapardi Djoko Damono.
Novel yang dirasa cukup ringkas tersebut, dengan tebal halaman 127, menceritakan tentang kesungguhan dan perjuangan seorang lelaki tua untuk mendapatkan seekor ikan Marlyn raksasa di tengah laut.
Digambarkan Lelaki Tua yang bernama Santiago tersebut adalah nelayan yang kurang beruntung. Terhitung selama 84 hari ia tidak pernah sekalipun memperoleh tangkapan. Sampai-sampai seorang laki-laki muda dilarang oleh orang tuanya untuk ikut berlayar dengannya.
Pada hari ke 85, dengan rasa percaya akan dirinya sendiri yang sempat terkoyak akibat nasib yang kurang beruntung tersebut, Santiago berangkat ke tengah teluk Meksiko.
Setelah mempersiapkan segala yang dibutuhkan termasuk mengatur kailnya, seekor ikan Marlyn dengan ukuran cukup besar menggigit umpannya.
Setelah peristiwa tersebut, tampak benar sekali bagaimana kepiawaian Hemingway dalam menggunakan narasi-narasinya. Penggambaran perasaan simpatik Santiago terhadap lawannya ditengah laut cukup ekspresif. Pembaca akan dihadirkan dengan sebuah fantasi seolah menonton langsung kejadian seru tersebut, sekalipun kenyataannya hanya membaca kata per-kata.
Pada hari ketiga, dari perjuangan ikan Marlyn yang masih terikat dengan kail dan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Santiago mengambil langkah terkahir dengan menancapkan harpun, sebuah alat panjang seperti tombak untuk menangkap ikan.
Tanpa terasa darah bercucuran sehingga tercium oleh kawanan Hiu dan bergerak mengancam hasil tangkapannya. menjadi tugas baru bagi Santiago setelah berhasil menangkap Marlyn dan memprediksi harganya di pasar Ikan.
Beberapa Hiu mampu ia kalahkan sayangnya ikan buas yang mencoba mengincar tersebut berjumlah cukup banyak. Selama waktu menuju ke tepi pantai dan tarik ulur dengan Hiu-Hiu tersebut, nasib masih kurang memihak kepada dirinya. Ia berhasil membawa ikan Marlyn tetapi dalam kondisi tulang belulangnya, yang telah habis dalam perjalanan digerogoti Hiu-Hiu tersebut.
Cerita diakhiri dengan kondisi Santiago yang cukup lelah, setelah menambatkan perahu kecilnya di dermaga ia lantas pergi ke gubuknya dan melanjutkan tidur panjangnya.
Penulis yang juga mantan serdadu pada perang dunia pertama tersebut, meunyuguhkan cerita minimalis yang bermuatan makna cukup kompleks. Dari ringkasan ceritanya pembaca bisa menyimpulkan secara mudah. Akan tetapi bagi yang mencoba langsung untuk membaca novel tersebut akan memperoleh sensasi yang berbeda, lebih-lebih mengenai kedalaman makna dan bukan sekedar cerita penangkapan ikan Marlyn.
Pengaruh Hemingway sangat besar terhadap sastra Amerika. Banyak penulis yang menggali inspirasi darinya atau secara tidak langsung melalui penulis-penulis yang secara sengaja meniru gaya tulisannya. Dalam sastra Amerika Latin, pengaruh Hemingway sangat terasa dalam karya-karya Gabriel Garcia Marquez, yag sering kali menggunakan laut sebagai latarnya.