Aktivis Sosial Mesti Baca, Novel “Cantik Itu Luka” Berani Melawan Poskolonial

Kamis, 3 Oktober 2024 - 16:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Aktivis Sosial Mesti Baca, Novel

Gambar Aktivis Sosial Mesti Baca, Novel "Cantik Itu Luka" Berani Melawan Poskolonial (Sumber: Imam/Grafis)

Frensia.id Aktivis sosial selalu identik dengan penindasan. Ada salah satu karya sastra berbentuk novel yang baik dan direkomendasi untuk dibaca anda-anda, para aktivis. 

Novel yang dimaksud, salah satunya adalah Karya Eka Kurniawan. Isinya tentang perlawan pada penindasan dan penjajahan.

Karyanya yang berjudul “Cantik Itu Luka” adalah pertama kali diterbitkan pada tahun 2002 melalui kerja sama antara Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Penerbit Jendela.

Sejak edisi kedua yang diterbitkan pada tahun 2004, novel ini kemudian dilanjutkan penerbitannya oleh Gramedia Pustaka Utama. Cantik Itu Luka dikenal sebagai salah satu karya yang menandai kebangkitan sastra Indonesia di awal abad ke-21, dengan gaya penulisan yang memadukan realisme magis, sejarah, dan unsur-unsur budaya Indonesia.

Novel ini menggambarkan resistensi pribumi terhadap penjajahan Belanda dengan penuh kompleksitas dan kedalaman. Dalam novel ini, perlawanan tidak hanya diartikan sebagai tindakan fisik melawan penjajah, tetapi juga sebagai upaya pembebasan diri dari hegemoni budaya Barat yang mengakar dalam kehidupan kolonial.

Melalui tokoh-tokohnya, Kurniawan menggambarkan penolakan terhadap dominasi sistem kolonial yang memisahkan kehidupan antara pribumi dan Belanda, serta mempertahankan tradisi dan nilai-nilai Barat.

Salah satu bentuk resistensi yang paling mencolok adalah kesadaran tokoh utama bahwa ia berhak mendapatkan kesetaraan hidup dengan orang-orang Barat. Penolakan untuk tunduk kepada sistem yang menindas ini mencerminkan semangat perlawanan pribumi terhadap penjajahan.

Baca Juga :  Dibarengi Prof. Babun Soeharto, Mantan Menpora Sebut Stadion Bola UIN KHAS Rumputnya Bagus

Tokoh tersebut menyadari bahwa sebagai pribumi, mereka tidak harus selamanya diperbodoh dan dikendalikan oleh kekuatan asing. Kesadaran ini menjadi dorongan utama bagi tokoh untuk memperjuangkan hak kebebasannya, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat yang tertindas.

Upaya mempertahankan kebebasan ini memperlihatkan penolakan terhadap narasi kolonial yang menggambarkan pribumi sebagai inferior dan tidak berdaya.

Namun, perlawanan dalam Cantik Itu Luka tidak hanya terlihat pada level individu, melainkan juga pada level kolektif. Kurniawan menggambarkan beragam reaksi rakyat pribumi terhadap kolonialisme. Ada yang secara tegas menolak dan melawan penjajah, tetapi ada juga yang memilih bekerja sama dengan Belanda atau bahkan menerima kondisi kolonial dengan sikap apatis.

Di sinilah terlihat bahwa resistensi tidak selalu berbentuk gerilya atau perlawanan fisik, tetapi bisa berupa penolakan terang-terangan terhadap tatanan sosial yang menindas. Dalam novel ini, resistensi juga digambarkan sebagai upaya terbuka untuk meraih kemerdekaan, meski harus menghadapi risiko besar seperti kehilangan harta benda dan nyawa.

Baca Juga :  Apa Peranan Tentara Apabila Tidak Ada Perang? Begini Penjelasan Pakar Politik Militer

Makna perlawanan dalam novel ini juga mencakup dimensi pengorbanan. Bagi para tokoh, perlawanan terhadap kolonialisme bukanlah sesuatu yang mudah, melainkan membutuhkan keberanian besar dan kesediaan untuk menanggung konsekuensi, baik dalam bentuk materi maupun kehilangan jiwa.

Eka Kurniawan dengan jelas menggambarkan bahwa perjuangan untuk kebebasan dan kemerdekaan adalah jalan yang dipenuhi dengan pengorbanan dan rasa sakit, tetapi tetap diperlukan untuk meraih kedaulatan penuh.

Secara keseluruhan, Cantik Itu Luka menampilkan resistensi poskolonial yang bukan hanya digerakkan oleh semangat nasionalisme, tetapi juga oleh kesadaran akan hak dan martabat sebagai manusia.

Pada intinya, anda yang membaca novel ini akan merasakan bagaimana rakyat pribumi, yang selama ini tertindas, mulai bangkit dan melawan penjajah untuk mencapai kemerdekaan.

Membacanya, melahirkan kesan bahwa kecantikan fisik dari seorang perempuan hanya menimbulkam penderitaan. Kecantikan hakiki ada hanya pada mereka, perempuan-perempuan yang berani resisten pada diskriminasi.

Tentu, resistensi ini tidak hanya fisik, tetapi juga intelektual dan kultural. Sebagaimana tokoh yang novel tersebut, kecantikan dijadikannya pembebasan dari dominasi kolonial.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran
Pandangan Plato Mengenai Swasembada
Tentang Protes RUU TNI, Komentar Deddy Corbuzier Dianggap Keliru
Apa Peranan Tentara Apabila Tidak Ada Perang? Begini Penjelasan Pakar Politik Militer
Akademisi Jadi Budak Politisi: Hilangnya Marwah Perguruan Tinggi
Dituding Adanya Pungutan Pada Sekolah di Jember, Begini Tanggapan MKKS SMK Swasta Kabupaten Jember
Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan Jember: Jodoh Perjuangan Gus Dur dengan Pendiri Yayasan
Dibarengi Prof. Babun Soeharto, Mantan Menpora Sebut Stadion Bola UIN KHAS Rumputnya Bagus

Baca Lainnya

Selasa, 1 April 2025 - 08:23 WIB

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Senin, 24 Maret 2025 - 20:45 WIB

Pandangan Plato Mengenai Swasembada

Minggu, 23 Maret 2025 - 19:15 WIB

Tentang Protes RUU TNI, Komentar Deddy Corbuzier Dianggap Keliru

Jumat, 21 Maret 2025 - 11:12 WIB

Apa Peranan Tentara Apabila Tidak Ada Perang? Begini Penjelasan Pakar Politik Militer

Selasa, 18 Maret 2025 - 00:31 WIB

Akademisi Jadi Budak Politisi: Hilangnya Marwah Perguruan Tinggi

TERBARU

Don Quixote, Tokoh fiksi karangan Miguel De Cervantes

Kolomiah

Kita Adalah Don Quixote yang Terhijab

Jumat, 4 Apr 2025 - 13:02 WIB

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB