Dunia Ini Formal, Tapi absurd

Tuesday, 17 December 2024 - 21:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Dunia Ini Formal. “Sepintar apapun seseorang kalau tidak pegang SIM tidak boleh mengemudi. Sealim apapun seseorang kalau tidak punya ijazah sarjana tidak bisa jadi dosen. Selengang apapun kondisi lalu lintas kalau lampu merah sedang menyala kendaraan tidak boleh terus”. Petuah KH. Afifuddin Muhajir ini terkesan sederhana, tapi siapa sangka, dibaliknya terselip pesan mendalam tentang dunia yang terkungkung oleh simbol dan aturan formal.

Dunia ini tampaknya sangat serius dengan urusan-urusan legalitas, apalagi Indonesia yang sejak lama sudah mendeklarasi sebagai negara hukum. Legalitas menjadi ukurannya. Surat Izin Mengemudi (SIM), misalnya, bukan hanya izin mengemudi, namun simbol kuasa atas  akses ke jalan raya. Tidak bisa seorang sekalipun jago bak Valentino Rossi saat ditilang dan tak punya SIM, lalu bilang ke polisi “Pak, saya ini supir jagoan keluarga”. Sang polisi bisa saja dengan tenang merespon, “keluargamu bukan yang bikin aturan.”

Begitu pula berlaku bagi ijazah. Santri yang hafal dan paham kitab kuning gagal jadi tenaga pendidik di perguruan tinggi karena ia tak punya gelar sarjana. Lalu mau protes “ilmu saya sudah diuji dan lulus mumtaz di pesantren”, kampus tetap menolak. Di dunia akademik yang serba formal seperti perguruan tinggi, secerdas apapun seseorang, tanpa ijazah ia nilai “belum memenuhi persyaratan ilmiah.”

Baca Juga :  Bukan Cuma Seremonial, Intip Uniknya MPLS Humanis di SDN Banjarsengon 02 Jember

Oleh karena itu, belakangan gelar akademik di perguruan tinggi menjadi primadona yang selalu diserbu. Terutama gelar-gelar prestisius, seperti guru besar, gelar doktor atau doktor honoris causa. Semua itu menjadi buruan tak lain karena gelar akademik tersebut dianggap sebagai simbol identitas intelektual seseorang. Apakah benar-benar intelektual, bukanlah jaminan.

Lebih kocak lagi soal lampu merah. Lampu merah yang harus membuat seseorang berhenti di perempatan meskipun sepi. Ini menunjukkan aturan yang tak jarang dipatuhi tanpa pertanyaan, meski pada kondisi tertentu, aturan itu terlihat kurang relevan.

Petuah Kyai Afif Selengang apapun kondisi lalu lintas kalau lampu merah sedang menyala kendaraan tidak boleh terus, sedang tidak hanya berbicara lalu lintas. Ungkapan ini memperlihatkan dunia yang sering kali memaksa manusia mentaati regulasi dan prosedur tanpa menimbang apakah aturan tersebut masih relevan dengan kondisi yang mengitarinya. Pokoknya asal tunduk dan ‘patuh’.

Seperti inilah dunia formal. Kadangkala serius, sesekali aneh dan tak masuk akal. Aturan dibentuk untuk tujuan yang tertib, tapi seringkali terlihat kaku. Orang-orang layaknya robot mekanik, hidup dalam ruang hukum, gelar dan dokumen.

Baca Juga :  Amat Serius! Kuatkan Kapasitas Dosen, Fakultas Dakwah UIN KHAS Gelar Short Course PAR Di Kongsi Tengah

Meski demikian, jangan dikira aturan formal ini tidak ada manfaatnya. Tidak bisa dibayangkan, tanpa SIM, lalu lintas bisa berubah menjadi arena balap liar. Tanpa ijazah, dosen abal-abal akan berkeliaran. Dan, tidak adanya lampu merah, jalan raya akan menjadi arena adu klakson yang kian tak usai. Dunia formal memaksa seseorang tertib-meski kadang membuat terlihat ‘bodoh’ dihadapan aturan yang absurd.

Petuah Kyai Afif ini seolah mengingatkan dunia ini memang penuh aturan-formalitas yang mau tidak mau wajib dipatuhi. Namun, penting dicatat jangan menjadi robot yang kehilangan akal sehat. SIM itu penting, tapi kemampuan mengemudi lebih penting. Ijazah itu perlu, tapi nalar, pengetahuan dan ilmu adalah segalanya. Lampu merah wajib dipatuhi, tapi usahakan agar tidak berhenti selamanya disimpang hidup yang sepi.

Di tengah semua formalitas itu, sebagai manusia yang berpikir semestinya untuk tetap bijaksana, cerdas, dan kritis dalam mematuhi dunia formal. Inilah kenyataan dunia yang penuh dengan simbol dan regulasi, yang terkadang memaksa seseorang untuk lebih patuh pada prosedur daripada mengedepankan akal sehat dan kebijaksanaan. 

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Polije Perkuat Kolaborasi Global Lewat WFK-ICT 2026, Gaet 9 Politeknik se-Indonesia
Amat Serius! Kuatkan Kapasitas Dosen, Fakultas Dakwah UIN KHAS Gelar Short Course PAR Di Kongsi Tengah
Pria Lansia 60 Tahun Meninggal Saat Bantu Nelayan Dorong Perahu di Pantai Kompit Banyuwangi
Pengukuhan Guru Besar Prof Hamdanah Soroti Urgensi Kelembagaan Pendidikan Islam Berkeadilan Gender
Morula IVF Gandeng RSI Fatimah Banyuwangi, Perkuat Layanan Fertilitas
Akademisi Hukum UIN KHAS Sebut Program Homecare Pemkab Jember Mudahkan Akses Kesehatan Warga Kurang Mampu
Polije Gaet Kampus Korsel Gelar WFK-ICT 2026, Libatkan 10 Politeknik
KKN Posko 61 Lakukan Penyuluhan Pencegahan Pernikahan Dini di Kupang Curahdami Bondowoso

Baca Lainnya

Friday, 14 August 2026 - 23:08 WIB

Polije Perkuat Kolaborasi Global Lewat WFK-ICT 2026, Gaet 9 Politeknik se-Indonesia

Friday, 14 August 2026 - 19:38 WIB

Amat Serius! Kuatkan Kapasitas Dosen, Fakultas Dakwah UIN KHAS Gelar Short Course PAR Di Kongsi Tengah

Friday, 14 August 2026 - 18:44 WIB

Pria Lansia 60 Tahun Meninggal Saat Bantu Nelayan Dorong Perahu di Pantai Kompit Banyuwangi

Wednesday, 12 August 2026 - 16:26 WIB

Pengukuhan Guru Besar Prof Hamdanah Soroti Urgensi Kelembagaan Pendidikan Islam Berkeadilan Gender

Monday, 10 August 2026 - 01:33 WIB

Morula IVF Gandeng RSI Fatimah Banyuwangi, Perkuat Layanan Fertilitas

TERBARU

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kabupaten Jember, Gatot Triyono (Foto: Istimewa).

Politia

Dishub Jember akan Berlakukan Kembali Parkir Berlangganan

Saturday, 15 Aug 2026 - 00:20 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading