Penjelasan PTPN 1 Regional 5 Soal KTP Pekerja Borongan Berstatus Karyawan BUMN

Friday, 12 December 2025 - 21:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kegiatan bakti sosial yang digelar PTPN I Regional 5. (Foto: Istimewa)

Kegiatan bakti sosial yang digelar PTPN I Regional 5. (Foto: Istimewa)

Frensia.Id– PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 5, memberikan penjelasan mengenai pemberitaan status warga yang tercantum sebagai karyawan BUMN dalam KTP dan disebut tinggal di area lahan perusahaan. Manajemen memastikan bahwa warga tersebut bukan karyawan PTPN, melainkan pekerja borongan dari desa-desa sekitar.

Permukiman mereka pun berada di luar kawasan Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan.

Plt. Kepala Sub Bagian Humas dan TJSL PTPN I Regional 5, M. Syaiful Rizal, memastikan bahwa warga yang dimaksud bukanlah karyawan PTPN I. Melainkan pekerja borongan dari enam desa sekitar Kebun Silosanen.

Baca Juga :  Pidato Ketua The Fed, Dianggap Memicu Penurunan Bitcoin hingga $77.000

“Mereka bukan karyawan PTPN I. Melainkan pekerja borongan dari enam desa sekitar kebun Silosanen,” ujarnya pada Jum’at, (12/12/2025).

Rizal menjelaskan, status pekerjaan karyawan BUMN di KTP bukan berasal dari data perusahaan. Tapi hasil pendataan saat migrasi KTP manual ke e-KTP beberapa tahun lalu.

“Warga menyebut bekerja ‘di kebun’, sehingga tertulis seperti itu dalam KTP. Faktanya, mereka adalah pekerja borongan, bukan karyawan PTPN,” paparnya.

Rizal menambahkan, pekerja borongan dengan hari kerja 25 hari dan produktivitas tinggi dapat memperoleh pendapatan setara atau bahkan lebih tinggi dari UMK Jember. Semua pekerja menerima upah secara layak, profesional, dan tepat waktu.

Baca Juga :  Jember Jadi Kabupaten dengan Permintaan SLIK OJK Terbanyak hingga Agustus 2026

“Hingga kini, terdapat belasan ribu pekerja borongan di wilayah Kebun Silosanen yang berasal dari enam desa sekitar. Diantaranya Desa Silo, Harjomulyo, Pace, Mulyorejo, Sidomulyo, dan Sumberjati,” tambahnya.

Rizal juga menjelaskan penyebab munculnya anggapan bahwa warga “tinggal di tengah kebun”. Menurutnya, hal itu terjadi karena permukiman warga berbatasan langsung dengan HGU Silosanen.

“Untuk menuju rumah warga memang melewati jalan kebun, sehingga tampak seolah-olah berada di tengah perkebunan,” tandasnya.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Miliarder Crypto Mike Novogratz memperkirakan Bitcoin akan Tembus $100.000
BRI Cabang Jember Sapa Nabasah saat Rayakan Hari Pelanggan Nasional
Sidak Pasar Tanjung-Ritel Modern, Satgas Pangan Jember Pastikan Harga Beras Tak Lampaui HET
Kepala OJK Jember Minta Korban Penipuan Segera Lapor ke IASC Kurang Dari 24 Jam
Jember Jadi Kabupaten dengan Permintaan SLIK OJK Terbanyak hingga Agustus 2026
Kenaikan Indeks Dollar Berpotensi Menekan Nilai Tukar Rupiah
Keluhan Pedagang Pasar Tanjung Jember soal Pembiaran Penataan Lapak Dagang
Bitcoin Melonjak Hingga 4,76 %, Apa Sebabnya?

Baca Lainnya

Tuesday, 6 October 2026 - 10:38 WIB

Miliarder Crypto Mike Novogratz memperkirakan Bitcoin akan Tembus $100.000

Tuesday, 29 September 2026 - 12:45 WIB

BRI Cabang Jember Sapa Nabasah saat Rayakan Hari Pelanggan Nasional

Monday, 28 September 2026 - 13:03 WIB

Sidak Pasar Tanjung-Ritel Modern, Satgas Pangan Jember Pastikan Harga Beras Tak Lampaui HET

Wednesday, 23 September 2026 - 19:32 WIB

Kepala OJK Jember Minta Korban Penipuan Segera Lapor ke IASC Kurang Dari 24 Jam

Wednesday, 23 September 2026 - 15:10 WIB

Jember Jadi Kabupaten dengan Permintaan SLIK OJK Terbanyak hingga Agustus 2026

TERBARU

Bupati Jember, Muhammad Fawait, saat diwawancara awak media, setelah meninjau antrean BBM di salah satu SPBU di Kabupaten Jember. (Foto: Sigit/Frensia).

Politia

Pemkab Jember Terapkan WFH Imbas Antrean BBM

Friday, 16 Oct 2026 - 13:20 WIB

Masyarakat yang akan mengurusi paspor di Kantor Imigrasi. (Foto: Istimewa).

Regionalia

Imigrasi Kantongi PNBP Rp8,68 Triliun, 5.310 WNA Nakal Dideportasi

Thursday, 15 Oct 2026 - 22:52 WIB

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading