FRENSIA.ID – Viralnya kembali perbincangan mengenai “Epstein Files” belakangan ini merupakan fenomena yang kini telah dikaji secara akademis dan mendalam. Seorang peneliti bernama Thomas Volscho, yang merupakan profesor madya sosiologi di College of Staten Island, telah menuangkan analisis tajamnya mengenai struktur kejahatan ini.
Dengan latar belakang akademis yang kuat pada ekonomi politik, sosiologi penyimpangan elit, serta pengalamannya sebagai mantan reporter investigasi ABC News, Volscho membedah anatomi kejahatan Jeffrey Epstein dalam sebuah jurnal bertajuk Deviant Behavior yang diterbitkan pada 13 Juli 2024.
Dalam riset yang komprehensif tersebut, Volscho menawarkan perspektif baru yang membedakan secara tegas antara perdagangan seks elit dengan perdagangan seks komersial biasa. Ia menyintesis teori manipulasi seksual dengan sosiologi penyimpangan terorganisir untuk membedah dua studi kasus utama, yakni Jeffrey Epstein dan Peter Nygard.
Temuan utamanya sangat mengejutkan: jika tujuan organisasi perdagangan seks komersial adalah semata-mata untuk menghasilkan pendapatan finansial, maka tujuan perdagangan seks elit jauh lebih mengerikan, yakni untuk mengakses dan memasok korban secara khusus kepada pimpinan organisasi atau yang disebutnya sebagai capo trafficante.
Volscho menunjukkan betapa liciknya modus operandi ini. Para pelaku elit ini mempartisi manipulasi seksual dan operasi keuangan mereka ke dalam pembagian kerja organisasi yang sangat rapi melalui peran-peran khusus dalam hierarki kriminal.
Sang capo trafficante beserta para kaki tangannya kerap menampilkan diri mereka sebagai “penjaga gerbang” yang memiliki kuasa penuh atas peluang emas di dunia mode, hiburan, modeling, akademisi, hingga bisnis tingkat tinggi. Posisi inilah yang digunakan sebagai umpan untuk memikat para korban masuk ke dalam jeratan perusahaan kriminal mereka.
Mengerikannya, riset ini menemukan korelasi bahwa seiring bertambahnya kekayaan para elit ini, tingkat kecanggihan organisasi dan jumlah korban pun turut meningkat. Namun, Volscho juga memberikan catatan optimis di akhir kajiannya.
Kekebalan hukum perusahaan-perusahaan semacam ini mulai runtuh berkat gerakan global seperti #MeToo, paparan media yang intensif, serta pembaruan undang-undang.
Kini, para korban memiliki jalan untuk mengungkap perusahaan kriminal tersebut melalui gugatan perdata, yang pada akhirnya dapat menekan otoritas hukum negara untuk memulai penuntutan pidana yang selama ini sulit disentuh.
Penulis : Mashur Imam







