Frensia.id- Hal spesial dari bulan Ramadhan adalah adanya ibadah khusus nan spesial, yakni puasa. Allah SWT akan mengurus sendiri pahala dan balasan. Jadi siapapun yang menunaikannya tentu akan diurus olehNya.
Ahmad Sarwat dalam kitab fiqhul hayat jilid 5 menjelaskan bahwa ibadah puasa memiliki posisi istimewa di hadapan Allah SWT. Saat seorang hamba melakukan ibadah puasa, tindakan tersebut secara langsung mengarah kepada Allah, dan segala urusan balasannya sepenuhnya menjadi tanggung jawab Allah SWT.
Hal ini sebagaimana bunyi sebuah hadist,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ . وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ” .
Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. (HR. Muslim)
Ibadah kepada Allah SWT memiliki berbagai bentuk, selain ibadah puasa, yang dijanjikan dengan balasan pahala berlipat-lipat. Namun, menurut Ahmad Sarwat, semua perkalian pahala tersebut masih dapat dihitung secara matematis, seperti dikali sepuluh hingga mencapai 700 kali lipat.
Berbeda dengan itu, pahala dari ibadah puasa tidak lagi tunduk pada perhitungan matematis. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini mengindikasikan bahwa balasannya sangat melimpah, bahkan mencapai nilai yang tak terhingga, sebab pahala tersebut diberikan dalam jumlah yang sangat besar.
Rahasia di balik keistimewaan ini tercermin pada akhir hadits, di mana seorang hamba yang menjalankan ibadah puasa mampu menahan syahwat dan laparnya semata-mata karena ketaatan kepada Allah SWT.
Tentunya, kemampuan untuk menahan diri dari syahwat dan kelaparan tersebut memiliki nilai yang sangat besar. Nilai demikian yang mampu bersaing dengan berbagai jenis ibadah lainnya. Allah SWT tidak lagi memerlukan pertimbangan atau perhitungan matematis untuk memberikan balasan pahala dari amalan tersebut.
Rugi ummat muslim yang tidak berpuasa. Sebab pahalanya tanpa batas. Maka, mari siap-siap menunaikannya.