Tragedi Ketupat Berdarah, Kisah Lebaran Yang Memilukan

Sabtu, 13 April 2024 - 18:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Tragedi Ketupat berdarah (Sumber Grafis Pngtree, IG @eyedropper_, FB Borneo Oracle)

Gambar Tragedi Ketupat berdarah (Sumber Grafis Pngtree, IG @eyedropper_, FB Borneo Oracle)

Frensia.id- Umumnya lebaran dalam budaya masyarakat di Indonesia tak bisa lepas dari tradisi silaturahmi. Namun, ternyata pernah ada kisah tragedi berdarah yang terjadi di momentum hari raya Idul Fitrih. Banyak orang menyebutnya sebagai tragedi ketupat berdarah.

Kejadian itu disebut juga sebagai tragedi Sambas. Disebut demikiaan karena di wilayah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, terjadi gelombang tak terduga.

Kerusuhan menggema sepanjang tahun-tahun berjalan. Konflik ini telah terjadi sekitar tujuh kali sejak tahun 1970, dan pada akerusuhan tahun 1999 menjadi yang paling dahsyat.

Ketegangan etnis merebak, antara Melayu dan Dayak. Mereka kesal terhadap para pendatang dari Madura. Ratusan nyawa melayang, ribuan rumah terbakar. Sebuah pemandangan pilu, yang tak terlupakan.

Lebih dari 1.188 orang tewas dalam kerusuhan ini. 168 orang mengalami luka parah dan 34 luka ringan.

Bukan hanya itu, mobil-mobil hancur, masjid terpanggang. Sekitar 3.833 rumah dijarah dan dibakar, 12 mobil dan 9 motor dirusak, 8 masjid/madrasah dirusak/dibakar, 2 sekolah rusak, dan 1 gudang tampak hancur porak-poranda.

Baca Juga :  Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan

Setiap kelompok suku memanas dan beringas. Daya dan melayu mengamuk. Akibatnya, sekitar 29.823 warga keturunan Madura mengungsi dari Sambas.

Kisah pilu “Ketupat Berdarah” dimulai dari pencurian sepetak ayam. Kasus ini memicu dendam dan amarah berkobar.

Sang pemiliki ayam yang berasal dari suku melayu meradang dan Warga Madura terkapar di tangan mereka. Bias dari kasus ini berkobarlah perang di bumi Parit Setia Jawai. Padahal kala itu, masyarakat sedang merayakan lebaran hari raya Idul Fitri.

Namun bukan hanya itu, terjadi kasus lain, di sebuah angkot kecil, nenek Melayu dan penumpang Madura bertikai. Ongkos yang tidak dibayar oleh orang dari madura melahirkan dendam dan amarah yang tak terkira.

Lalu perlahan, gelombang amarah tak terbendung, bertumbuh menjadi badai.
Suku Melayu dan Dayak bersatu dalam derita, mereka menentang warga Madura dalam caci dan cela.

Kerusuhan merajalela, amarah tak terkendali. Rumah terbakar. Hingga nyawa melayang. Banyak warga Madura terpaksa meninggalkan tanahnya.

Baca Juga :  Dua Periset UNIB Teliti K.H.R. Ach. Fawaid As’ad Situbondo, Ulama' Politik Yang Menata Bangsa Dari Kehidupan Nyata

Demikianlah, catatan kelam kejadian kesepuluh, yang sebenarnya telah terjadi sejak tahun 1970.

Dalam kejadian tersebut, pihak berwenang berhasil menangkap sebanyak 208 orang yang terlibat dalam kegiatan kriminal. Dari jumlah tersebut, 59 orang telah masuk ke dalam proses peradilan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang suku, dengan 13 orang berasal dari suku Madura, 42 orang berasal dari suku Melayu, dan 4 orang berasal dari suku Dayak.

Selain itu, selama operasi tersebut, berbagai barang bukti yang signifikan berhasil disita. Totalnya termasuk 607 pucuk senjata api rakitan, 2.336 senjata tajam, 76 bom molotov, 86 katapel, 969 anak panah, serta 8 botol dan 8 toples obat mesiu. Selain itu, juga disita 443 butir peluru timah, 79 peluru pipa besi, 349 butir peluru standar ABRI, dan 441 butir peluru gotri.

Hari ini tragedi itu telah menjadi kenangan yang memilukan. Masyarakat setempat mengenangnya dengan sebuah tuguh bernama “Ketupat Berdarah”. Semoga tidak terulang lagi. (.)

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Percaya? Wong Jowo Terlibat Sejak Era Kolonial Dalam Bisnis Narkoba
Geliat Kerajinan Sangkar Burung di Desa Dawuhan Mangli Jember, Mampu Bertahan Sejak Tahun 1955
Dua Periset UNIB Teliti K.H.R. Ach. Fawaid As’ad Situbondo, Ulama’ Politik Yang Menata Bangsa Dari Kehidupan Nyata
Akademisi UNESA Teliti Kasus Nenek Asyani, Dorong Perbaikan Hukum di Indonesia
Diteliti, Waly Al-Khalidy Berperan Besar dalam Desain Otoritas Agama di Aceh
Cerita Alexander The Great kepada Aristoteles tentang Penjelajahannya di India
Penelitian Unik, Temukan Jenis Kentut yang Dapat Hangatkan Bumi
Kakek Prabowo Disebut Akan Diajukan Sebagai Pahlawan Nasional, Berikut Rekam Sejarah Perannya

Baca Lainnya

Sabtu, 29 Maret 2025 - 04:57 WIB

Percaya? Wong Jowo Terlibat Sejak Era Kolonial Dalam Bisnis Narkoba

Jumat, 28 Februari 2025 - 17:02 WIB

Geliat Kerajinan Sangkar Burung di Desa Dawuhan Mangli Jember, Mampu Bertahan Sejak Tahun 1955

Minggu, 16 Februari 2025 - 11:31 WIB

Dua Periset UNIB Teliti K.H.R. Ach. Fawaid As’ad Situbondo, Ulama’ Politik Yang Menata Bangsa Dari Kehidupan Nyata

Minggu, 16 Februari 2025 - 05:07 WIB

Akademisi UNESA Teliti Kasus Nenek Asyani, Dorong Perbaikan Hukum di Indonesia

Minggu, 16 Februari 2025 - 04:42 WIB

Diteliti, Waly Al-Khalidy Berperan Besar dalam Desain Otoritas Agama di Aceh

TERBARU

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB

Ilustrasi idul fitri 1446 H

Opinia

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan

Rabu, 2 Apr 2025 - 13:20 WIB