Ayah Prabowo, Ekonom Hebat Yang Pernah Anti-Pemerintah

Sunday, 28 January 2024 - 17:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Editor Mashur Imam. Sumber pngwing dan Tirto

Editor Mashur Imam. Sumber pngwing dan Tirto

Frensia.id- Prabowo Subianto, Calon Presiden 02 yang hari ini berpasangan dengan putra Jokowi, ternyata keturunan seorang cendekiawan. Nama ayahnya adalah Sumitro Djojohadikusumo. Ia merupakan seorang guru besar ilmu ekonomi. Bukan hanya ahli teori, namun juga memiliki kontribusi penting dalam pengembangan perjalanan sejarah bansa ini.

Ada beberapa fakta menarik terkait dengan historis hebat ayahnya Prabowo ini. Nomer lima mencengangkan;

  1. Berasal dari Keluarga Ningrat dan Bapaknya Juga Pakar Ekonomi

Sumitro lahi pada 29 Mei 1917 dari keluarga kaya Jawa, atau dalam istilah lain dapat disebut ningrat. Ia merupakan akan putra sulung dari Margono Djojohadikusumo. Bapaknya ini merupakan pegawai tingkat menengah dalam pemerintahan kolonial. Dan belakangan dikenal sebagai pendiri Bank Indonesia.

Selaku keluarga ningrat, tentu ia memiliki akses pendidikan yang mudah bahkan istimewa. Ia memiliki akses untuk melanjutkan pendidikan tinggi ekonomi di negara Belanda. Pada tahun 1935 di diterima sebagai mahasiswa Nederlandsche Economische Hogeschool Roterdam.

Saat tidak banyak seorang pribumi yang dapat memiliki akses pendidikan tinggi, apalagi di Eropa. Sumitro tentu sangat beruntung. Apalagi juga diceritakan, ia bukan hanya menempuh studi ekonomi, namun berksempatan untuk belajar filsafat di Universitas Paris. Tidak heran, jika beberapa menteri di era orde baru pernah tercatat pernah berguru padanya.

  1. Menjadi Anggota Delegasi Belanda di PBB

Seusai perang dunia, dilansir dari laman tempo, dia dipilih sebagai perwakilan Hindia Belanda dalam musyawaraha keamananan dunia PBB di London. Tempatnya pada bulan Januari 1946. Walaupun demikian beredar catatan sejarah bahwa sebenarnya didelegasikannya dia menjadi perwakilan di PBB, ada kepentingan Belanda untuk memberikan kesan positif. Kepentingan ini tidak sukses, Sumitro dikecewakan, itu sebabnya dia kembali ke Indonesia.

  1. Dipercaya jadi Mendag dan Industri
Baca Juga :  Belum Dapat Bantuan, Guru Korban Gempa NTT Curhat ke Radio

Ia juga tercatat pernah dipercaya sebagai Menteri Perdagangan dan Industri. Saat itu yang berkuasa adalah Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin Sjahrir. Saat menjabat Sumitor fokus pada program industrialisasi.

Program ini kala itu ditolak oleh Menteri Keuangannya, Syafruddin Prawiranegara. Menteri keuangan lebih sepakat pada sektor pertanian dari industri. Dua tokoh ini seringa berdebat. Mulai dari masalah industri hingga tentang rencana penghemat anggaran negara yang dicanangkan oleh Prawiranegara. Walaupun sering berbeda, keduanya tanpa searah dalam investasi asing sebagai modal pengembangan ekonomi negara. Gagasan kedunya yang banyak ditentang tokoh-tokoh ekonomi lain kala itu.

  1. Menjadi Menteri Keuangan

Soemitro juga pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Wilopo. Kementerian Kala itu para stafnya banyak yang berasal dari pegawai berkebangsaan Belanda. Menurut Sumitro, para pegawai Belanda hanya ahli administrasi, namun tidak memiliki kemampuan dalam ilmu ekonomi. Berasarkan pada kompetensi yang dianggap kurang memadai, akhirnya ia mewajibkan semua anggota dewan direksi BI berkebangsaan Indonesia. Ini cikap bakal terjadinya nasionalisasi Bank Indonesia pertama.

Baca Juga :  Dituding Pendukung Prabowo, Aurelie Bantah Lewat Reels: "Aku Nggak Pernah Ikut Kampanyenya"

Selain itu gagasan Sumitro saat menjadi mentri keuangan adalah program unggulannya terkait dengan dafisit dan inflasi keuangan negara. Hal ini terjadi pada masa kabinet Burhanuddin. Ia tampil sebagi pahlawan dalam mengendalikan defisit dan inflasi ekonomi yang sedang terjadi.

  1. Pernah Anti Pemerintah dan Sukses Menggulingkan

Tindakan anti pemerintah ini berhubungan dengan sejarah pemberontakan PRRI. Dikisahkan bahwa Soekarno yang kala itu Pro Partai Komunis Indonesia (PKI) begitu benci pada ekonom-ekonom yang pernah belajar di Barat. Salah satunya adalah Sumitro. Kemiskinan di Indonesia kala itu dianggap disebabkan oleh masuknya investor asing. Masuk investor ini dianggap karena kebijakan Soemitro. Ia pun dituduh korupsi. Akhirnya ia lari ke Sumatra.

Menurut pendapat Mzarek, Soemitro bergabung dengan gerakan anti pemerintah. Walaupun pernah dibujuk oleh politisi PSI, namun tekadnya sangat bulat untuk terus berbeda dengan Presiden. Pada akhirnya, ia bekerja sama dengan Amerika serikat yang sangat anti pada komunisme untuk melakukan gerakan. Namun gerakan itu tidak berhasil. Ia pun lari ke Eropa untuk mencari keamanan.

Ia baru pulang dari pelarianya, pasca tumbang kepemimpinan Soekarno. Kala itu Soerhato membantunya. Setibanya di Indonesia, ia kembali menjadi menteri. Pada kabinet pembengunan pertama, ia menjadi menteri perdagangan dan industri. Sedangkan pada kabinet pembangunan kedua ia menjadi menteri riset.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Tinjau Antrean BBM di SPBU, Bupati Jember Minta Pertamina Buka Rute Cadangan
Pemkab Jember dan DPRD Setujui KUA PPAS 2027
Gus Fawait: Atasi Masalah Kemiskinan Harus dengan Data
Antrean SPBU Jember Mengular Gus Fawait Panggil Pertamina
Pemkab Jember Kawal Pemulangan Jenazah PMI Asal Arjasa yang Meninggal di Malaysia
Menjaga Tradisi Tajemtra, Puluhan Tahun Berjalan sebagai Simbol Kebersamaan Masyarakat Jember
Sempat Diinfus, Bupati Jember Tetap Ikut Jalan Bareng 25 Ribu Peserta Tajemtra 2026
Tajemtra 2026 Jadi Rekor Peserta Terbanyak Sepanjang Sejarah, Gus Fawait: Nanti Tembus 26.000 Orang

Baca Lainnya

Tuesday, 8 September 2026 - 22:46 WIB

Tinjau Antrean BBM di SPBU, Bupati Jember Minta Pertamina Buka Rute Cadangan

Tuesday, 8 September 2026 - 16:32 WIB

Pemkab Jember dan DPRD Setujui KUA PPAS 2027

Monday, 7 September 2026 - 23:24 WIB

Gus Fawait: Atasi Masalah Kemiskinan Harus dengan Data

Monday, 7 September 2026 - 18:15 WIB

Antrean SPBU Jember Mengular Gus Fawait Panggil Pertamina

Monday, 7 September 2026 - 02:12 WIB

Pemkab Jember Kawal Pemulangan Jenazah PMI Asal Arjasa yang Meninggal di Malaysia

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading