Frensia.id – Akademisi Hubungan Internasional (HI) Universitas Jember (UNEJ) Eko Ernada, menyebut ketegangan konflik peperangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menjadi penentu masa depan negara Timur Tengah.
Eko menyebut bahwa konflik ini bukan sekadar serangan militer antar negara. Tetapi perebutan pengaruh dan gambaran keamanan di negara Timur Tengah dengan keterlibatan Amerika Serikat.
“Jadi yang diperebutkan bukan sekadar wilayah, tetapi hegemoni dan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah,” kata Eko pada Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut Eko, alasan adanya konflik peperangan ini karena Iran ingin memperluas pengaruh regional melalui jaringan aliansi dan kelompok proksi. Informasi tersebut diketahui oleh Israel sehingga menganggapnya sebagai ancaman.
Ia mengatakan jika keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut karena ada kepentingan tersembunyi yang sedang dijalankan.
“Dua kepentingan besar: keamanan Israel dan stabilitas energi global,” kata dia.
Lulusan Australian National University (ANU) Specializing Middle East dan Central Asia itu, menjelaskan kalau konflik peperangan ini di hadapan hukum Internasional selalu kalah dengan pengaruh politik.
“Dalam praktiknya, hukum Internasional sering kali kalah oleh politik kekuatan. Di sinilah problem utamanya,” kata Eko.
Eko mengatakan, meskipun negara sekutu Barat seperti Jerman, Inggris dan Perancis sudah menyatakan dukungan kepada Amerika dan Israel dalam keterlibatan agresi ke Iran. Hal itu sangat kecil kemungkinannya bagi negara sekutu lain seperti China, Rusia dan Korea Utara, yang juga ingin terlibat langsung memberi dukungan kepada Iran.
“Mereka lebih mungkin memberi dukungan diplomatik atau strategis, bukan turun langsung. Tidak ada yang ingin konflik ini, berubah menjadi perang global terbuka melawan Amerika,” kata dia.
Konflik ini diprediksi akan terjadi perang regional negara, jika kelompok pro-Iran di Lebanon, Suriah atau Yaman ikut terlibat perang. Kata Eko, apabila kawasan Selat Hormuz terganggu, maka dampaknya bisa besar karena menyangkut distrubusi minyak dunia.
“Perang regional besar akan sangat mahal secara ekonomi dan politik. Jadi, yang lebih mungkin adalah eskalasi terbatas, bukan perang total,” ujar Eko.
Lebih lanjut, kata Eko konflik yang bersifat struktural dan ideologis ini, akan terus memunculkan ketegangan, selama tidak ada sistem keamanan bersama di negara Timur Tengah.
Namun demikian, Eko menyebut bahwa konflik ini akan menentukan kekuatan negara Timur Tengah di masa mendatang.
“Ini adalah pertarungan menentukan siapa yang mengendalikan masa depan Timur Tengah, di tengah dunia yang sedang bergerak dari unipolar menuju multipolar,” pungkasnya.







