Frensia.id- Nama Yati Pesek kembali mencuat ke publik setelah video yang memperlihatkan Gus Miftah memberikan komentar kurang pantas tentang dirinya viral di media sosial. Komentar yang dianggap bernuansa body shaming itu menuai kontroversi, namun di sisi lain membuka perhatian lebih luas terhadap kiprah Yati Pesek sebagai seorang seniman serba bisa yang memiliki perjalanan karier luar biasa.
Di tengah sorotan publik, Pujiyani, akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menyajikan kajian mendalam tentang Yati Pesek. Penelitian yang diterbitkan pada 2025 itu menggali faktor-faktor yang membentuk Yati sebagai seniman multitalenta di ranah seni pertunjukan populer, atau yang biasa dikenal sebagai tobong.
Menurut Pujiyani, perjalanan seni Yati Pesek dibentuk oleh tiga faktor utama: genetik, lingkungan, dan sosial-ekonomi. Bakat seni Yati ternyata diwarisi dari keluarganya yang lekat dengan dunia seni.
Kakeknya, Raki Martadarma, merupakan pelawak tobong ketoprak, sementara kakek dari pihak lain, Kramadimeja, adalah abdi dalem pengrawit keraton. Ayahnya, Sujito, berprofesi sebagai pengrawit, dan ibunya, Sujilah, adalah penari tobong wayang orang. Lingkungan tempat Yati dibesarkan memperkuat bakat tersebut. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup di tobong, di mana seluruh penghuni merupakan seniman.
Namun, perjalanan hidupnya tak lepas dari tantangan berat. Kehilangan kedua orang tua di usia 12 tahun memaksa Yati mengambil alih tanggung jawab hidupnya sendiri.
Dengan latar belakang sebagai anak putus sekolah, dunia tobong menjadi satu-satunya pilihan untuk menyambung hidup. Yati mulai tampil di panggung sejak usia dini, dan perlahan mengembangkan kemampuan seni peran serta menari yang membuatnya dikenal sebagai seniman tobong profesional.
Kendati demikian, nama Yati Pesek sempat luput dari sorotan besar publik. Perannya di tobong terbatas sebagai penari pembuka atau emban (pembantu), posisi yang jarang menjadi pusat perhatian. Baru pada era 1980-an, namanya mulai dikenal luas melalui acara “Sandiwara Jenaka KR” yang tayang di TVRI Yogyakarta.
Dari layar kaca, Yati memperluas kiprahnya ke dunia film, tampil dalam karya sutradara kenamaan seperti Arifin C. Noer, Slamet Rahardjo, dan R. Suprantio. Melalui media ini, bakat akting Yati mendapat apresiasi, dan popularitasnya meningkat pesat.
Kesuksesan di dunia seni peran membuat Yati Pesek diminati oleh stasiun televisi swasta, dalang-dalang ternama, hingga perusahaan besar untuk tampil di berbagai program hiburan dan iklan.
Meski kemudian lebih sering dikenal sebagai pelawak, Yati tetap menunjukkan keahliannya yang serba bisa. Penampilannya yang unik dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai medium seni menjadikannya ikon dalam dunia seni pertunjukan di Indonesia.
Kepopuleran ini membawa dampak positif bagi kehidupan ekonominya. Dengan bayaran per penampilan yang berkisar antara Rp10 juta hingga Rp25 juta, Yati Pesek berhasil mencapai taraf hidup yang jauh lebih baik dibandingkan banyak seniman panggung lainnya.
Pujiyani menekankan bahwa kesuksesan Yati tidak semata-mata karena faktor genetik atau lingkungan, tetapi juga karena keberuntungan dan peluang yang diberikan Tuhan.
Yati Pesek adalah contoh nyata bagaimana seorang seniman bisa bertahan dan berkembang di tengah tantangan ekonomi dan sosial. Dari tobong sederhana hingga layar kaca nasional, perjalanan Yati membuktikan bahwa talenta, kerja keras, dan sedikit keberuntungan bisa membawa seseorang melampaui keterbatasan.
Di tengah kontroversi yang kini melingkupi namanya, kajian Pujiyani menjadi pengingat akan warisan seni dan dedikasi yang telah Yati Pesek berikan kepada dunia seni Indonesia.