Frensia.id- Debat yang dilakukan oleh Rocky Gerung dan Silfester Matutina dalam acara Rakyat Bersuara di INews pada Selasa (03/09/2024) memicu perhatian publik cukup luas.
Pasalnya acara yang dimoderatori oleh Aiman Witjaksono dalam tajuk “Banyak Drama Jelang Pilkada, Kenapa?”, paparan Rocky Gerung sepertinya memantik emosi dari Silfester.
Sebagaimana yang sebenarnya sudah diketahui oleh publik luas, bahwa akademisi yang mempunyai track record mengajar di Universitas Indonesia selama 15 tahun tersebut seringkali membuka perdebatan dengan mereka yang berseberangan dan cukup sengit.
Berbeda dengan para lawan debatnya yang sebelumnya, pada kesempatan kali ini peran adu argumen yang dilancarkan oleh Ketua Umum Solidaritas Indonesia tidak sekedar dengan kata-kata, juga dibersamai dengan tindakannya yang meninggalkan kursi dan mendekat kepada Rocky.
Kejadian tersebutlah yang mendapatkan perhatian para netizen, dari segi raut wajah dan gerak tubuhnya seolah hendak terjadi baku hantam.
Sampai disini para penonton secara spontan bisa menilai mana dari kedua narasumber INews yang berkesan mempunyai mutu dalam mengutarakan isi pikirannya. Sangat penting kiranya dalam berdebat menjaga attitude sebagai pemenang, sekalipun gagasan bisa jadi nihil.
Mengenai perdebatan, seorang pemikir abad 18, Arthur Schopenhauer memberikan perhatian dengan menulis sebuah buku yang menyoroti tentang persoalan-persoalan adu argumentasi.
Menurutnya perdebatan bukan lagi berkaitan dengan pencarian kebenaran, sekalipun pendebat harus menampilkan kesan bahwa dirinya sebagai representasi dari kebenaran itu sendiri. Hal ini lah yang sering dilakukan oleh Rocky Gerung dalam banyak kesempatan,sehingga ia tampil seolah sebagai argumentator yang unggul.
Kebenaran hanya menjadi pelengkap dalam berdebat, pemikir yang dikenal pesimistis dan misogonis ini menganalogikan bahwa perdebatan layaknya duel ksatria, kebenaran dan kesalahan tidak lagi menjadi pertimbangan yang penting, melainkan kemenangan.
Setelah kemenangan diperoleh, maka kebenaran akan diatur, sedangkan bagi yang kalah debat selamanya akan dianggap bahwa gagasannya salah, sebagaimana golongan yang kalah perang, sekalipun secara dasariah benar, tetapi kalah perang, sejarah tidak akan bisa mengenalnya sebagai seorang yang benar.
Oleh karena itu, dalam bukunya Schopenhauer, memaparkan 38 jurus dalam berdebat, yang digunakan untuk memenangkan perdebatan, bukan lagi mencari kebenaran.
Dari seluruh jurus yang ia paparkan mempunyai ciri khas yang sama, yaitu bagaimana caranya menunjukkan argumen lawan debat dari sudut kesalahannya, serta bagaimana menunjukkan argumen sendiri dari sudut kebenarannya dan menutupi proporsi-proporsi kesalahan.
Tulisan-tulisan filsuf Jerman ini, yang sebenarnya merupakan bunga rampai yang memuat beberapa essay dengan tema yang hampir sama, yaitu perdebatan, dimulai dengan alasan dan motif yang melatarbelakangi dari perhatiannya tersebut.
Menurutnya, para filsuf telah memusatkan mengenai kaidah logika tetapi tidak menggeluti sisi kelam dari dialektika, yaitu kontroversi. Atas dasar itu, kiranya buku ini menjadi penting sebagai salah satu refrensi yang jarang mendapatkan perhatian.