Buku Dewan Fiqh Amerika, Menggugat Mitos Rukyah dan Menuju Kepastian Astronomi

Saturday, 14 February 2026 - 01:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Buku Dewan Fiqh Amerika, Menggugat Mitos Rukyah dan Menuju Kepastian Astronomi (Sumber: Frensia Grafis)

Gambar Buku Dewan Fiqh Amerika, Menggugat Mitos Rukyah dan Menuju Kepastian Astronomi (Sumber: Frensia Grafis)

FRENSIA.ID- Perdebatan mengenai penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal sering kali menjadi momen yang memecah belah umat Islam di berbagai belahan dunia. Di tengah polemik tahunan antara metode rukyatul hilal (pengamatan mata telanjang) dan hisab (perhitungan astronomi), karya Dr. Zulfiqar Ali Shah hadir sebagai sebuah terobosan intelektual.

Dalam tulisannya yang diterbitkan oleh The International Institute of Islamic Thought (IIIT) pada tahun 2009 dengan judul The Astronomical Calculations and Ramadan: A Fiqhi Discourse, Direktur Eksekutif Dewan Fiqh Amerika Utara ini melakukan bedah forensik terhadap literatur fiqh klasik. Ia membongkar argumen tekstual yang selama ini digunakan untuk menolak perhitungan astronomi, membuktikan bahwa penolakan tersebut sering kali didasarkan pada kesalahpahaman konteks sejarah dan linguistik.

Salah satu poin krusial yang dipaparkan Shah dalam buku ini adalah dekonstruksi terhadap hadis populer yang berbunyi, “Kami adalah umat yang ummi (buta huruf), kami tidak menulis dan tidak menghitung.” Selama berabad-abad, kelompok pendukung rukyah murni menggunakan hadis ini sebagai tameng teologis untuk mengharamkan hisab.

Namun, Shah dengan jeli membedah bahwa pernyataan Nabi tersebut bersifat deskriptif, bukan preskriptif. Nabi Muhammad SAW sedang menggambarkan kondisi faktual masyarakat Arab abad ke-7 yang memang belum memiliki infrastruktur ilmiah, bukan sedang mengeluarkan dekrit abadi agar umat Islam menjauhi matematika.

Baca Juga :  4 Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali

Shah menekankan bahwa “illat” (alasan hukum) dari perintah melihat bulan saat itu adalah ketiadaan sarana lain yang lebih akurat. Ketika umat Islam kini telah menguasai teknologi satelit dan astrofisika, alasan “ke-ummi-an” tersebut otomatis gugur. Mempertahankan metode primitif di tengah kemajuan sains, menurut Shah, justru bertentangan dengan semangat Islam yang mendorong kemajuan akal.

Lebih dalam lagi, Shah menantang pemahaman konvensional tentang konsep “syahadah” atau kesaksian bulan. Ia berargumen bahwa Al-Quran menuntut “kepastian” (yaqin) dalam ibadah. Di masa lalu, pengamatan mata adalah satu-satunya jalan menuju kepastian itu. Namun, di era modern, pengamatan mata justru turun derajatnya menjadi zhanni (dugaan) karena rentan terhadap ilusi optik, polusi udara, dan kesalahan manusia.

Sebaliknya, hisab falakiyah kontemporer telah mencapai derajat qat’i (pasti). Shah mengkritik keras sikap yang menolak kepastian matematika demi mempertahankan dugaan visual. Ia menegaskan bahwa tujuan syariat (maqasid syariah) adalah mengetahui masuknya waktu dengan tepat, dan rukyah hanyalah salah satu sarana (wasilah), bukan tujuan ibadah itu sendiri. Jika sarana lain terbukti lebih presisi mencapai tujuan, maka sarana tersebut sah dan bahkan lebih utama untuk digunakan.

Analisis Shah juga menyentuh aspek sensitif yang sering dijadikan senjata oleh penolak hisab, yaitu argumen bahwa menggunakan perhitungan berarti menyerupai kaum Yahudi (tasyabbuh), mengingat kalender Yahudi telah lama berbasis perhitungan matematis sejak abad ke-4 Masehi. Shah menepis kekhawatiran ini dengan argumen historis dan teologis yang matang.

Baca Juga :  Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember

Ia menjelaskan bahwa penolakan ulama klasik—seperti Ibnu Taimiyah—terhadap hisab pada zamannya sangat dipengaruhi oleh fakta bahwa saat itu ilmu perbintangan belum terpisah dari astrologi dan klenik yang berbau syirik.

Para ulama terdahulu melarang hisab karena khawatir umat terjerumus pada ramalan nasib. Namun kini, astronomi telah berdiri tegak sebagai sains murni yang terpisah dari takhayul. Oleh karena itu, hukum haram yang dulu berlaku tidak bisa lagi diterapkan secara membabi buta. Shah menegaskan bahwa kesamaan metode ilmiah dengan umat lain tidak serta merta berarti peniruan akidah.

Buku ini pada akhirnya bukan sekadar diskursus akademik, melainkan sebuah peta jalan menuju persatuan umat. Shah menawarkan visi di mana Kalender Islam Global bukan lagi utopia, melainkan keniscayaan yang dapat dicapai.

Dengan beralih ke hisab, umat Islam dapat menghilangkan ketidakpastian yang melelahkan setiap tahunnya, memungkinkan perencanaan sosial-ekonomi yang lebih baik, dan yang terpenting, menyatukan hari raya umat Islam di seluruh dunia dalam satu hari yang sama, sebagaimana semangat persatuan yang didengungkan Al-Quran.

Penulis : Mashur Imam

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember
4 Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali
Mahasiswa Cendekia BAZNAS UNIKHAMS Jember Gelar Aksi Sosial: Dari Penguatan UMKM Hingga Edukasi Anak Yatim
Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Gagasan Pendidikan Islam Berkarakter Ulil Albab dan Ulin Nuha
UIN KHAS Jember Luncurkan Program Unggulan Selama Bulan Ramadan 2026
Diteliti! Kelompok Perempuan Rentan Diabetnya Meningkat Saat Ramadhan
Gerbang SDN di Jember Disegel Ahli Waris Dini Hari
Gegara Sejoli Mesum, UNEJ Bakal Perbanyak Frekuensi Patroli Security di Wilayah Kampus

Baca Lainnya

Thursday, 19 March 2026 - 23:38 WIB

Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember

Thursday, 12 March 2026 - 12:14 WIB

4 Tingkatan Tauhid Menurut Imam Al-Ghazali

Saturday, 7 March 2026 - 20:00 WIB

Mahasiswa Cendekia BAZNAS UNIKHAMS Jember Gelar Aksi Sosial: Dari Penguatan UMKM Hingga Edukasi Anak Yatim

Saturday, 28 February 2026 - 12:56 WIB

Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Gagasan Pendidikan Islam Berkarakter Ulil Albab dan Ulin Nuha

Thursday, 26 February 2026 - 17:15 WIB

UIN KHAS Jember Luncurkan Program Unggulan Selama Bulan Ramadan 2026

TERBARU

Educatia

Jelang Hari Raya, Laka Depan Antar Pemotor Terjadi di Jember

Thursday, 19 Mar 2026 - 23:38 WIB