Peneliti Universitas Esa Unggul Sebut Kepentingan Konglomerat Media Rusak Demokrasi Pers

Tuesday, 10 February 2026 - 18:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Erman Anom (Peneliti dari Universitas Esa Unggul) (Sumber: grafis Frensia)

Gambar Erman Anom (Peneliti dari Universitas Esa Unggul) (Sumber: grafis Frensia)

FRENSIA.ID-Transformasi media di Indonesia pasca-Orde Baru yang semula diharapkan menjadi pilar demokrasi kini justru terjebak dalam cengkeraman kepentingan oligarki. Hal ini diungkapkan oleh Erman Anom, peneliti dari Universitas Esa Unggul, dalam riset terbarunya yang bertajuk “Business Media Politics in Indonesia: Transformation, Regulation, and Democratic Challenges” yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini.

Erman fokus mengakaji sebuah ironi besar dalam lanskap pers nasional: liberalisasi yang seharusnya melahirkan keragaman suara, justru menyuburkan konsentrasi kepemilikan di tangan segelintir konglomerat yang memiliki agenda ganda, yakni bisnis dan politik.

Dalam studinya, Erman memperkenalkan konsep “business media politics” untuk menggambarkan fenomena di mana institusi media di Indonesia telah bermetamorfosis menjadi entitas hibrida. Media tidak lagi sekadar berfungsi sebagai penyampai informasi atau anjing penjaga (watchdog) demokrasi, melainkan beroperasi secara simultan sebagai perusahaan ekonomi pencari laba, aktor politik, dan instrumen ideologis.

Baca Juga :  Di Harlah Nurul Jadid, KH. Ghofur Maimoen: Imam Syafi'i Jadi Mazhab Besar, Karna Memahami Santri-santrinya

Akibatnya, independensi ruang redaksi tergerus oleh apa yang disebut sebagai “ownership alignment” atau penyelarasan kepemilikan, di mana kebijakan redaksional dibentuk untuk melayani kepentingan ekonomi dan politik sang pemilik modal, bukan kepentingan publik.

Riset ini secara spesifik menyebutkan bagaimana konglomerasi media besar, seperti Kompas Gramedia, Media Group, dan MNC Group, menjadi contoh nyata dari jalinan berkelindan antara struktur kepemilikan dan afiliasi politik. Komersialisasi yang intensif membuat media sangat bergantung pada pendapatan iklan dan sponsor politik, yang pada akhirnya memicu homogenisasi konten.

Alih-alih menyajikan keberagaman sudut pandang yang mencerdaskan, media justru terjebak dalam format yang seragam demi mengejar efisiensi pasar dan mengamankan posisi politik pemiliknya.

Lebih jauh, Erman menekankan bahwa kerusakan demokrasi pers ini diperparah oleh lemahnya penegakan regulasi. Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran yang ada dinilai gagal membendung laju konsentrasi kepemilikan.

Baca Juga :  Logika Penguasaan Negara Pada Karya Jurnalistik Diteliti Akademisi

Bahkan, regulasi digital seperti Peraturan Menteri Kominfo No. 5 Tahun 2020 (MR5) dikritik justru memperkuat kontrol negara dan melegitimasi pengawasan, bukannya melindungi pluralisme. Kondisi regulasi yang rapuh ini menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh para elit untuk mengonsolidasikan kekuasaan mereka tanpa akuntabilitas yang memadai.

Erman menyimpulkan bahwa media di Indonesia kini beroperasi di bawah bayang-bayang kekuasaan, di mana fungsi pers sebagai pilar keempat demokrasi semakin tumpul. Fenomena ini tidak hanya unik di Indonesia, tetapi juga mencerminkan pola yang terjadi di negara-negara Global South lainnya seperti Filipina, India, dan Brasil, di mana “penangkapan media” oleh oligarki mengancam ketahanan demokrasi itu sendiri.

Melalui riset ini, peneliti Universitas Esa Unggul tersebut memberikan peringatan keras bahwa tanpa perbaikan tata kelola yang serius, pers Indonesia akan terus tersandera oleh kepentingan bisnis dan politik para konglomerat.

Penulis : Mashur Imam

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Logika Penguasaan Negara Pada Karya Jurnalistik Diteliti Akademisi
Dispendik Jember Lakukan Trauma Healing di SDN 02 Jelbuk Usai Insiden Guru Over Reaktif
Oknum Guru SD di Jelbuk Jember Telanjangi Murid Gegara Hilang Uang, Dispendik Tarik Pelaku dari Sekolah
David Robie, Periset Yang Pernah Utarakan Standar Kebebasan Pers di Indonesia Bermasalah
Kode Etik Jurnalistik, Pernah Dikaji Akademisi UIN SUKA Dalam Perspektif Islam
Buntut Dugaan Keracunan Siswa, Satgas MBG Jember Tinjau SPPG Umbulsari
Konferensi Akademik di UGM Bahas Masa Depan Demokrasi, Soroti Relasi Polisi, Militer, dan Gerakan Sosial
UIN KHAS Jember Berduka! Pakar Ilmu Komunikasi Islam Wafat

Baca Lainnya

Tuesday, 10 February 2026 - 18:34 WIB

Peneliti Universitas Esa Unggul Sebut Kepentingan Konglomerat Media Rusak Demokrasi Pers

Tuesday, 10 February 2026 - 18:15 WIB

Logika Penguasaan Negara Pada Karya Jurnalistik Diteliti Akademisi

Tuesday, 10 February 2026 - 17:05 WIB

Dispendik Jember Lakukan Trauma Healing di SDN 02 Jelbuk Usai Insiden Guru Over Reaktif

Tuesday, 10 February 2026 - 16:52 WIB

Oknum Guru SD di Jelbuk Jember Telanjangi Murid Gegara Hilang Uang, Dispendik Tarik Pelaku dari Sekolah

Monday, 9 February 2026 - 20:12 WIB

Kode Etik Jurnalistik, Pernah Dikaji Akademisi UIN SUKA Dalam Perspektif Islam

TERBARU