Frensia.id – Munir Said Thalib, seorang aktivis hak asasi manusia yang terkenal dengan dedikasinya dalam memperjuangkan keadilan dan hak-hak masyarakat, telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Munir Said Thalib, yang lahir pada 8 Desember 1965 di Batu, Jawa Timur, adalah seorang aktivis hak asasi manusia yang sangat berpengaruh.
Ia merupakan salah satu pendiri lembaga swadaya masyarakat Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Imparsial.
Munir terkenal karena dedikasinya dalam memperjuangkan keadilan dan hak-hak masyarakat, terutama bagi mereka yang tertindas.
Pada tahun 2004, ia tewas terbunuh di udara dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam, yang kemudian diketahui bahwa kematiannya disebabkan oleh keracunan arsen yang disengaja.
Dalam buku “Menulis Munir, Merawat Ingatan,” hubungan Universitas Brawijaya dengan Munir terjalin melalui pengalaman awalnya sebagai mahasiswa di universitas tersebut.
Munir dikenal sebagai seorang aktivis yang mulai menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu hak asasi manusia dan keadilan sosial saat masih kuliah.
Salah satu momen penting yang disebutkan adalah ketika Munir membela para petani yang terlibat dalam sengketa lahan dengan pihak kampus yang berencana memperluas area kampus.
Munir mengkoordinasi para petani untuk berdemo demi mempertahankan hak mereka, yang akhirnya membuahkan hasil dengan membatalkan rencana perluasan lahan kampus.
Pengalaman ini menjadi titik awal bagi Munir untuk terus tumbuh sebagai pembela hak-hak kaum tertindas, termasuk buruh dan mahasiswa.
Universitas Brawijaya, sebagai tempat di mana Munir menempuh pendidikan, berperan dalam membentuk pemikiran dan idealismenya yang kemudian membawanya menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan hak asasi manusia di Indonesia.
Dengan demikian, Universitas Brawijaya tidak hanya menjadi latar belakang pendidikan bagi Munir, tetapi juga menjadi saksi awal dari komitmennya terhadap keadilan dan hak asasi manusia yang terus ia perjuangkan sepanjang hidupnya.
Oleh karena, di Universitas yang terletak di Malang Jawa Timur ini hari ini berdiri Gedung dengan nama Munir Said Thalib pada Fakultas Hukum, dan juga di dalamnya terdapat Museum Museum Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib.
Museum HAM Munir di Universitas Brawijaya Malang berada di Lantai 1 Gedung B Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ketika masuk ke gedung tersebut, pengunjung akan melihat beberapa foto Munir yang dipapang di dinding museum. Selain itu, museum ini juga dilengkapi dengan monitor audio visual yang akan membawa pengunjung menyelami kasus-kasus HAM masa lalu.
Sebagai informasi, untuk membaca lengkap tentang Munir salah satunya ialah Buku “Menulis Munir, Merawat Ingatan” disunting oleh Amalia Puri Handayani dan melibatkan berbagai penulis muda yang berkontribusi dengan tulisan-tulisan mereka.
Beberapa penulis yang terlibat dalam buku ini antara lain Jonathan Wijaya Manurung, Eunike Cahya Utaminingtyas, Dhianita Kusuma Pertiwi, Lovina, dan Khamid Istakhori, di antara lainnya. Buku ini merupakan hasil kolaborasi antara Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera (STHI Jentera) dan para penerima beasiswa Munir Said Thalib, serta Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK).