Frensia.id- Diriset, kesan orang saat melihat Pinokio sebagai sosok boneka kayu dan ketika telah jadi manusia. Ternyata hasilnya, mengejutkan. Manusia lebih menyukai pesan yang disampaikan benda non biologis dari yang persis dengan dirinya.
Kisah yang berasal dari Le Avventure di Pinocchio, karya Carlo Collodi ini sangat menarik perhatian para pakar dan akademisi. Pinokio jadi sosok yang banyak menginspirasi masyarakat barat setalah diangkat oleh Disney.
Tidak mengherankan, jika majalah Tempo berkali-kali mengangkatnya menjadi bahan ilustrasi yang unik untuk mengkritik kondisi politik di Indonesia. Bahkan baru-baru ini, mereka mengangkat tulisan dengan tema Ilustrasi Pinokio Jawa karya Prof Sukidi.
Ilustrasi boneka kayu tersebut ternyata lebih kuat memberikan kesan pada hati masyarakat. Kekuatan kesan boneka atau ilustrasi sebagai penyampai pesan pernah secara serius pernah diteliti oleh Barbara C. N. Müller, Rick B. van Baaren, Daniël H. van Someren dan Ap Dijksterhuis.
Karya mereka telah terbit pada tahun 2014 silam. Dipublikasi oleh Guildford Press dalam bentuk jurnal.
Fenomena tersebut dianggap sebagai fakta antropomorfisme. Bagi mereka, mengaitkan sifat-sifat manusia pada objek, ternyata memiliki pengaruh signifikan pada perilaku sosial. Ia meneliti perilaku manusia saat dihadapkan pada dua jenis aktor, yakni aktor biologis dan non-biologis.
Aktor yang dimaksud tentu mirip seperti karakter Pinokio. Melalui pengamatan terhadap video yang menggambarkan masing-masing agen, peneliti mengukur bagaimana persepsi manusia pada aktor yang dilihatnya dalam kisah Pinokio.
Menariknya, saat mereka menonton video yang menampilkan aktor non-biologis, memperlihat kecenderungan kedekatannya, baik secara fisik dan emosional. Bahkan lebih kuat dibandingkan saat menonton video saat Pinokio menjadi manusia seutuhnya.
Mereka, misalnya, memilih duduk lebih dekat dengan karakter saat Pinokio menjadi boneka. Yang demikian menunjukkan bahwa proses antropomorfisasi aktor non-biologis menciptakan persepsi agensi yang lebih besar.
Persepsi yang kuat tersebut, pada gilirannya mendorong kedekatan interpersonal dan perilaku prososial. Dengan demikian, ketika manusia menganggap aktor non-biologis memiliki sifat-sifat manusia, interaksi dengannya hangat dan dekat.
Mereka dapat menciptakan ikatan emosional yang kuat meskipun aktor tersebut bukan manusia. Temuannya tersebut menyimpulkan bahwa kekuatan persepsi manusia dalam menciptakan hubungan sangat kuat dengan entitas yang sebenarnya tidak hidup. (*)