Frensia.id- Dramatis! Laga penuh drama di Jerman, Nordi Mukiele menjadi pahlawan Bayer Leverkusen dengan mencetak gol di menit ke-90, memastikan kemenangan 1-0 atas raksasa Italia, Inter Milan,11/12/2024
Kemenangan ini membawa Leverkusen semakin dekat dengan mimpi besar mereka: tiket ke babak berikutnya Liga Champions.
Inter Milan, yang sebelumnya tak terkalahkan dan bahkan belum kebobolan dalam lima pertandingan Liga Champions musim ini, akhirnya harus menelan pil pahit.
Posisi mereka melorot ke peringkat empat setelah kekalahan tipis yang terasa seperti pukulan telak.
Leverkusen tampil dominan sepanjang pertandingan, menguasai lebih dari 60% penguasaan bola. Mereka terlihat lapar, mengejar kemenangan keenam beruntun di semua kompetisi.
Nathan Tella membuka ancaman dengan tendangan yang membentur tiang, sementara Florian Wirtz dan Jonathan Tah nyaris mencetak gol.
Namun, aksi heroik kiper Inter, Yann Sommer, membuat mereka harus bersabar hingga akhir laga.
Saat waktu hampir habis, momen magis itu tiba. Dalam kekacauan di depan gawang, Mukiele muncul sebagai penyelamat, menghujamkan bola ke dalam gawang.
Sorak-sorai menggema di stadion, seolah kemenangan ini lebih dari sekadar tiga poin—ini adalah pernyataan besar dari pasukan Xabi Alonso.
Leverkusen kini melompat ke posisi kedua klasemen 36 tim, hanya terpaut lima poin dari Liverpool yang kokoh di puncak. Mereka juga unggul tipis atas Aston Villa, Inter, dan Brest berkat selisih gol.
Pertahanan Kokoh Inter Akhirnya Jebol
Statistik menunjukkan bahwa ini adalah pertama kalinya Inter kebobolan di Liga Champions musim ini, setelah menghadapi 97 tembakan.
Lebih ironis lagi, mereka gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran, sesuatu yang terakhir kali terjadi pada Februari 2022 melawan Liverpool.
Sementara itu, Leverkusen mencatat sejarah dengan meraih tiga kemenangan kandang berturut-turut di Liga Champions tanpa kebobolan.
Sebuah pencapaian luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Eropa mereka.
Malam ini, Jerman bersorak untuk Leverkusen, dan Inter harus pulang dengan kepala tertunduk, menghadapi kenyataan pahit bahwa dominasi mereka akhirnya runtuh.