Frensia.id – Mengusung Kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember gelar Penyusunan dan Pengembangan Kurikulum pada 28 Juni 2024.
OBE merupakan konsep pendidikan berbasis hasil, hasil pengetahuan, keterampilan dan perilaku. OBE lebih menekankan pada apa yang dapat dilakukan oleh mahasiswa daripada apa yang dapat mereka ketahui.
Oleh karena itu, Dekan FTIK, Dr. H. Abdul Muis berharap agar luaran dari kurikulum berbasis OBE yang dikembangkan ini sesuai dan lebih berdaya guna dengan kebutuhan masyarakat..
“melalui kegiatan ini benar-benar bisa menjadi momen terbaik untuk menghasilkan kurikulum yang benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ungkapnya dalam sambutan pada acara yang berlansung di Nadia Hotel Bromo Probolinggo tersebut.
Untuk itu, dalam sambutannya Dr. H. Abdul Muis menegaskan bahwa dalam proses penyusunan dan pengembangan kurikulum OBE ini, para koordinator Prodi sudah berusaha untuk melakukan Evaluasi dan penyesuaian kurikulum dengan mengundang beberapa Narasumber sesuai keahlian masing-masing.
Sehingga, ia berharap pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masyarakat ini dapat benar-benar terealisasi, apalagi didukung dengan didapatkannya beberapa prestasi masing-masing prodi melalui kegiatan Akademik maupun non akademik, khususnya dalam perolehan Akreditasi yang mayoritas mendapatkan nilai Unggul.
Selain itu, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni dalam sambutannya tidak hanya menyoroti pengembangan kurikulum di lingkungan FTIK, tetapi juga menekankan pentingnya perbaikan sistem pelayanan akademik.
Prof. Hepni menyatakan pelayanan akademik harus mengedepankan prinsip-prinsip SULTAN, yakni Seger (segar), Ulet (ulet), Lincah (lincah), Aktif (aktif), dan Nyegoro (nyaman).
Konsep pelayanan SULTAN dimaksud ialah prinsip-prinsip pelayanan yang memiliki jiwa melayani, energik, ramah, memudahkan yang dilayani, aktif dalam memberikan informasi akademik, serta memberikan kemudahan alur pelayanan administrasi baik kepada mahasiswa, sesama karyawan, maupun dosen.
“Dalam era sekarang, pelayanan harus lebih energik, ramah, dan memudahkan. Kita harus aktif memberikan informasi akademik dan memastikan kemudahan dalam alur pelayanan administrasi,” ujar Prof. Hepni.
Sehingga konsep pelayanan yang sebelumnya berkonsep “BOLA”, Bulet (rumit/dipersulit), Old Style (gaya lama), Lambat, dan Aoleng (bahasa Madura yang berarti pusing) harus segera ditinggalkan.