Hari-hari ini apabila kita mendapati seorang pemimpin yang berwibawa dan namanya sampai menembus panggung internasional, pasti adalah dari kategori mereka yang cerdas dan terampil.
Hal tersebut mesti ditunjang dengan literasi yang kuat. Sebab orang cerdas lebih-lebih terampil memanifestasikan pikirannya, identik dengan kegemarannya membaca buku.
Sosok Bung Karno, yang namanya tidak sekedar menggelegar di tanah kelahirannya, tetapi juga bergema di perhelatan politik dunia kala itu. Sebagai sosok pemimpin berpengaruh dengan retorikanya yang sarat muatan-muatan ideologis, jelas ditunjang dengan konsumsi bacaan yang tidak minimalis.
Menurut sejarawan Bonni Triyana, bapak Proklamator Indonesia tersebut membaca buku-buku dari penulis mancanegara dengan menggunakan bahasa aslinya.
Jadi presiden pertama Indonesia tersebut, menguasai beragam bahasa, tidak sekedar bahasa Indonesia saja. Salah satu diantara buku favorit yang ia baca dalam bahasa Jerman adalah Der Weg Zur Macht (Jalan Menuju Kekuasaan) karya seorang tokoh kiri Jerman, Karl Kautsky yang ditulis dalam font Gothic Jerman.
Selain itu adapula dalam bahasa Belanda yaitu Geschiedenis van het Moderne Imperialisme yang ditulis Jan Steffen Bartstra dan ia membacanya di dalam pengasingan.
Tidak jadinya, apabila gagasan-gagasan yang ia sampaikan dalam pidato atau tulisan-tulisannya sangat berbobot juga menjadi alat analisis dalam mempertimbangkan sebuah persoalan di tengah-tengah kepemimpinannya.
Apakah kecerdasan dan kemampuan memimpin senantiasa berasal dari buku bacaan? Sosok Gengis Khan, pimpinan bangsa Mongol yang paling dielu-elukan memberikan jawaban tidak.
Pasalnya sosok yang dikenal kejam dalam sejarah hingga hari ini adalah seorang buta huruf. Akan tetapi ketidakmampuannya mengakses aksara ini justru berkebalikan dengan seluruh prestasi yang ia capai dalam kepemimpinannya, saat ia masih hidup atau setelah meninggal.
Kekuasaan bangsa Mongol, yang ia dirikan, mencapai 24 juta KM2 membentang dari benua Asia dan sebagian Eropa. Hegemoni kuat yang ia berikan kepada rakyatnya sangat membekas, hingga dirinya tampil setelah kematiannya, seolah-olah sebagai seorang dewa.
Jika sosok berpengaruh yang hidupnya dari balik tenda dan tidak bica membaca tulisan, maka aset kepemimpinan apa sebenarnya yang ia rawat dan wujudkan dalam membina kekuasaannya? Inilah persoalan menarik yang bisa dibandingkan dengan beberapa sosok pemimpin yang gagal berkuasa akan tetapi menyandang gelar akedemisi.
John Man, seorang sejarawan kelahiran Inggris yang mempunyai minat khusul meneliti bangsa China dan Mongol, dalam bukunya yang berjudul The Leadership Secrets of Genghis Khan membuat sebuah kesimpulan menarik mengenai karakter kepemimpinan Khan Agung Mongol tersebut.
Menurutnya, karakter yang ia tampilkan dalam memimpin merupakan sebuah kebalikan dari prinsip umum yang digunakan manusia, dimana seseorang mendapatkan promosi karena kemampuannya dan tidak lagi dipromosikan setelah dirinya diketahui tidak mampu.
Bagi Genghis Khan tidak demikian, setiap kali ia naik jenjang, makai ia akan mendapatkan kemampuan baru. Kemampuan utama inilah berpadu dengan kemampuan lain. Ia mengajukan pertanyaan baru, memikirkan jalan keluar dan terus melangkah maju.
Perbedaan tersebut sangat kentara, bahwa seorang Genghis Khan akan berupaya mengatasi ketidakmampuannya terhadap hal baru, hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi dengan berbagai cara tanpa kenal lelah dan putus asa.
Ia selalu mempunyai keyakinan pada dirinya, bukan dirinya mampu tetapi harus mampu. Sehingga setiap jenjang akan digunakan untuk mengasah kemampuan baru, bukan lagi menggunakan kemampuan lama untuk tingkatan tersebut.
Karakter demikian, berpadu dengan situasi yang saling bertentangan serta kebaruan yang dialaminya. Ia hidup ditengah padang rumput Persekutuan yang berubah-ubah yang penuh bahaya.
Dimana kepercayaan dan pengkhianatan mempunyai nilai yang sama-sama penting, oleh karena itu ia harus mampu menggunakannya pada proporsi dan waktu yang tepat. Kapan waktunya mendapatkan kepercayaan atau kapan waktunya membenarkan pengkhianatan.
Dia akan berusaha mengetahui, strategi mana yang harus digunakan ketika dia membutuhkannya. Seorang Genghis Khan tidak akan berusaha untuk menjadi koheren, dia akan senantiasa hidup dengan berbagai kontradiksinya.
Sehingga ia mempunyai kecakapan social yang bagus dan rasa moral yang tinggi sekaligus fleksibel, bertautan dengan kepentingan yang ia jalani.