Frensia.id- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf yang akrab dikenal Gus Yahya, menegaskan bahwa NU tidak pernah lagi berkampanye untuk mengajak orang masuk menjadi anggota organisasi yang dipimpinnya.
Hal demikian diucapkannya saat mengisi sambutan pada acara halalbihalal PBNU kemarin 27/04/2024.
“NU itu sudah tidak pernah lagi berkampanye ngajak-ngajak orang masuk NU,” tutur kiai yang di Gedung PBNU tersebut.
Ia menjelaskan tentang transformasi posisi NU sejarah politik praktis di Indonesia. NU saat ini, menurutnya sudah bukan lagi partai politik.
“Kita tahu bahwa NU dulu pernah jadi partai. Tapi kemudian mengundurkan diri polirik praktis dan kembali menjadi jam’iyah, diniyah, ijtima’iyah, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, tegasnya awal.
Tentu berbeda dengan saat dulu yang masih menjadi partai politik. Lumrahya partai politik dan ikut serta dalam kontestasi pemilu, mesti juga berpolitik.
“Kalau waktu jadi partai politik, jelas kampanye. Namanya juga partai politik,”ungkapnya.
Ungkapan tersebut tentu tampak didasarkan pada sejarah NU pada tahun 1973 hingga 1984. Di tahun-tahun tersebut, sebagai partai tiap menjelang pemilu mereka berkampanye untuk mempertahankan dan mendambah suara pemilihnya.
Hasilnya, NU menjadi salah partai yang memiliki kekuatan basis politik yang besar.
Setelah NU menyatakan menarik diri dari politik praktis. Akhirnya, ada tranformasi besar-besaran dalam kegiatannya. Pasca kebijakan penarikan dari dunia politik, tak ada kegiatan politik praktis secara formal di tubuh NU.
Walaupun demikian, NU tetap dapat dianggap berpolitik. Hanya saja tujuannya berbeda.
“Apakah ini soal politik, iya. Tapi motivasinya adalah kemaslahatan rakyat,” tambahnya.
Semua itu dasarnya karena tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Baginya, pengarah ummat harus mengupayakan apapun sebesar-besar untuk kemaslahatan rakyat.
Penjelasan di atas diungkapkan dalam acara Halalbihalal di gedung PBNU yang dihadiri tokoh nasional seperti Capres-Cawapres terpilih Prabowo-Gibran.
Bukan hanya itu, yang hadir juga ada sejumlah dari Kabinet Indonesia Maju. Beberapa Menteri dari Kabinet Indonesia Maju dan duta besar negara sahabat.
Di antara Menteri yang turut hadir adalah Menteri Agama RI Yagut Cholil Goumas dan hadir juga Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Panglima Tentara Nasional Indonesia, Jenderal TNI Agus Subiyanto, serta sejumlah pejabat tinggi seperti Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya Inspektur Jenderal Polisi Karyoto, dan Panglima Komando Daerah Militer Jayakarta Mayjen TNI Mohamad Hasan.