Frensia.id – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menyampaikan persamaan dirinya sebagai warga Nahdlatul Ulama’ (NU) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
“Kita ini wah paling untung menjadi orang, karena mewarisi sejarah perjuangan Kiai Ahmad Dahlan, saya mewarisi perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari,” ungkap Cak Imin dalam pembukaan Akademi Politik IMM, pada Kamis (5/12) dilansir dari Instagram @cakiminow.
Menurutnya, baik dirinya maupun IMM sama-sama bagian dari sejarah perjuangan yang memiliki tanggungjawab, kesempatan dan peran mewarnai kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, Cak Imin mengajak untuk bersyukur karena sama-sama lahir dari NU dan Muhammadiyah yang merupakan bagian Gerakan Islam Indonesia.
“Tidak ada merdeka tanpa Islam, tidak ada Indonesia tanpa Islam, tidak ada yang namanya nilai-nilai ke-indonesiaan dan kebangsaan tanpa nilai-nilai dan ajaran Islam,” sambung dalam acar yang digelar di Gedung Pusat PP Muhammadiyah, Jakarta.
Hal tersebut menurut orang nomor satu di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu sangat luar biasa, karena Islam menjadi kekuatan serta solusi yang memiliki ajaran yang lengkap, utuh dan komplit.
Tak lupa Cak Imin juga menegaskan bahwa politik bukan sekedar meraih kekuasaan, bukan sekedar untuk menang atau kalah. Melainkan jalan untuk mempengaruhi kebijakan dan seni kemungkinan.
“Ada satu lagi, politik itu jalan tol untuk menjalankan seluruh ideologi dan misi serta cita-cita kita (NU dan Muhammadiyah, red),” tegasnya.
Karena itu, Cak Imin berharap peserta Akademi Politik dapat menggali pengetahuan tentang politik yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif untuk menjawab tantangan zaman.
Cak Imin juga mengapresiasi pada upaya IMM dalam mengembangkan pemahaman politik yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan semangat kebangsaan.
Lebih dari itu, Cak Imin juga menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan politik bagi masyarakat, terutama kalangan muda, agar mereka lebih siap dalam menghadapi dinamika politik global dan lokal.
“Melalui program-program seperti ini, kita berharap dapat mencetak pemimpin yang tidak hanya berkompeten, tetapi juga memiliki integritas tinggi dalam menjalankan tugasnya,” pungkasnya.