Frensia.id – Idul fitri menjadi kulminasi penantian seorang muslim pasca melakukan puasa ramadhan sebulan lamanya. Setiap sesuatu pasti ada limitasi akhir, begitu pula dengan ramadhan juga akan berakhir.
Mau tidak mau ramadhan akan berakhir yang tidak bisa berakhir adalah kebiasaan-kebiasaan baik yang senantiasa dilakukan pada bulan ramadhan. Kebiasaan melatih sabar, jujur, konsisten dan sebagainya bisa — dan memang harus dilanjutkan– pasca ramadhan.
Pasca ramadhan umat Islam bergembira dengan datangnya idul fitri. Umat Islam bersuka cita merayakan hari kemenangan ini dengan cara mereka masing-masing yang bervariatif. Namun yang jelas idul fitri tidak boleh menjadi moment terputusnya kebiasaan baik yang biasa dilakukan di bulan ramadhan.
Disinilah penting memahami makna hakiki idul fitri itu sendiri. Sebuah pemaknaan yang tidak hanya euforia semata, tidak hanya hari yang penuh dengan aneka konsumsi makan yang enak, tidak hanya moment mengenakan pakaian apik atau berkumpulnya dengan orang-orang atau keluarga tercinta.
Idul fitri harus dimaknai lebih dari itu sebab pemaknaan ini sangat penting dan berpengaruh terhadap perilaku keseharian kita. Para ulama sudah sejak lama menekankan hal ini, menekankan idul fitri harus dimaknai sebagai hari yang senantiasa bertambah ketakwaannya.
Sebagaimana yang dingkapkan Syekh Sulaiman al-Bujairami dalam Hasiyah al-Bujairami al khatib bahwa Allah telah menjadikan tiga hari raya du dunia untuk orang-orang yang beriman yaitu hari raya jum’at, hari raya idul fitri, dan idul adha.
Semua itu diklasifikasikan atau dianggap hari raya setelah sempurnanya ibadah dan ketaatannya. Idul fitri bukanlah mereka yang hanya memakai pakaian baru. Namun mereka yang senantiasa bertambah ketaatannya serta diampuni dosa-dosanya.
Sejalan itu Syek Abdul Qadir al-Jailani dalam al-Ghuniyah li Thalibi Tariqi Haq Azza wa Jalla menguraikan idul fitri bukalah mengenakan pakaian bagus, mengkonsumsi makanan enak, memeluk orang-orang tercinta.
Namun idul fitri adalah kemunculan tanda penerimaan amal ibadah, pengampunan dosa dan kesalahan, kabar baik atas kenaikan derajat di sisi Allah.
Syekh Sulaiman al-Bujairami atau Syek Abdul Qadir al-Jailani tidak menegasikan atau menolak pemaknaan idul fitri pada aspek lahiriyah-material semata. Namun pemaknaan hanya lahiriyah-material ini akan justru semakin jauh dengan esensi hakiki idul fitri.
Diriwayatkan Sayyidina Ali ra pada hari raya idul fitri memakan roti itupun roti kualitas rendah. Hal itu tentu membuat seroang sahabat terkejut kenapa Sayyidina Ali ra hanya memakan roti seperti itu?
Sungguh dahsyat jawaban Sayyidina Ali ra “Bagiku, hari ini hari raya idul fitri, begitu juga esok hari. Setiap hari aku tidak bermaksiat kepada Allah, dan itu artinya setiap hari adalah hari raya idul fitri bagiku.”