Frensia.id- Menggunakan senapan yang ia beli di Abercrombie and Fitch, sastrawan besar Amerika, Ernest Hemingway mengakhiri hidupnya dengan cara menembak kepalanya sendiri pada 2 Juli 1961.
Hemingway mengawali karir kepenulisannya pada usianya yang ke 17 dengan menjadi seorang reporter. Hanya bertahan beberapa bulan, selain karena mendapat pertentangan dari sang ayah, ia membuat keputusan sendiri untuk bergabung menjadi anggota angkatan darat Amerika Serikat.
Sepertnya takdir belum saja menyetujui kehendaknya. Ia dianggap tidak memenuhi syarat karena gagal dalam ujian kesehatan mata. Akhirnya ia bergabung dengan Korps Ambulans Palang Merah dan berangkat ke Italia.
Sekalipun hanya bertugas pada wilayah medis, tekat kerasnya mengantarkan dirinya untuk maju di front paling depan dan cukup berbahaya.
Begitu pula pada momen perang dunia kedua, lagi-lagi Hemingway berusaha ikut dalam perang. Ia mendapatkan tugas untuk menenggelamkan kapal-kapal perang selam Jerman yang mengancam pelayaran di lepas pantai Kuba dan Amerika Serikat.
Perang yang ia lakukan merupakan wujud lain dari keberaniannya untuk mempertaruhkan dirinya di hadapan maut. Beberapa kali peristiwa hampir merenggut nyawanya, diantaranya pada saat perang dunia pertama Hemingway mendapat tugas untuk mengemudikan Ambulan, hampir saja tersambar peluru Meriam Austria.
Ia juga pernah berhadapan dengan Hiu di tengah laut, saat hendak melepaskan tembakan bukan sasaran yang kena, melainkan pahanya sendiri justru yang tertembak.
Pernah juga sampai dua kali menjadi korban pesawat jatuh. Semua kejadian yang membuka peluang kepada dirinya untuk tewas ternyata gagal.
Sampai akhirnya yang menjadi alasan kematiannya cukup tragis dan memilukan. Sebagai seorang mantan serdadu ataupun dalam kapasitas terendah bisa dibilang simpatisan perang, ia harus mati dalam keadaan putus harapan akan hidup, sehingga mengambil cara yang kurang terhormat.
Menurut beberapa catatan, cara yang digunakan untuk mengakhiri hidup yaitu dengan bunuh diri bukan hasil dari keputusan pribadi yang berdasarkan tekanan sosial semata. Melainkan juga ada faktor gen, hal tersebut didukung dengan adanya data bahwa beberapa anggota keluarganya juga melakukan hal yang sama.
Dua orang saudaranya, termasuk pula ayahnya dan terakhir adalah cucunya yang sama-sama mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.
Ada yang menyebut jika hal tersebut dikarenakan adanya faktor genetik, yaitu penyakit turunan yang dikenal dengan hemokromatosis. Adanya konsentrasi zat besi berlebih pada darah yang menyebabkan kerusakan pada pankreas dan ketidakstabilan dalam cerebrum yang juga menyebabkan depresi.
Hal itulah yang menyebabkan penulis besar Amerika dengan pengaruhnya yang kuat terhadap para penulis generasi sesudahnya mengambil jalan pintas dan sama sekali tidak mencerminkan kalau dia adalah mantan veteran perang dunia pertama dan kedua.