Frensia.id- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Yahya Cholil Tsaquf yang akrab dipanggil Gus Yahya, pernah menghadiri acara Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) di Kabupaten Rembang. Bukan hanya hadir, ia juga meneken kesepakatan penolakan penambangan yang dilakukan oleh PT Semen Gersik (Pesero) Tbk, di spanduk, 27/03/2014.
Sebagaimana dilansir dari NU Online, Warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, gencar menolak keberadaan PT Semen Indonesia. Mereka dikabarkan berkumpul mengadakan istighotsah akbar di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Leteh.
Terlihat, dalam yang dirilis oleh FNKSDA, Gus Yahya sedang memegang mikrofon dalam acara tersebut. Ia memakai baju, sarung dan songkok yang serba putih.
Gus Yahya yang kala itu masih menjabat sebagai Syuriyah PBNU ternyata juga bersepakat untuk menolak tambang. Buktinya, pada acara yang diadakan di pesantren yang dipimpin oleh KH Mustofa Bisri ini, ia dikabarkan juga menandatangani spanduk sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan pabrik semen.
Informasi ini menjadi bukti bahwa Gus Yahya sebenarnya dahulu pernah gentol dan bersepakat bahwa ada tambang yang dapat merusak kesejahteraan hidup masyarakat. Salah satu buktinya, ia tercatat bergabung bersama melakukan istighosah yang telah digelar kesekian kalinya oleh FNKSDA sebagai aksi penolakan tambang oleh masyarakat NU.
Berdasarkan pres rilis yang tersebar, kala itu, setidaknya ada beberapa tujuan rutinan istighosah yang dihadiri oleh Gus Yahya tersebut. Adapun yang demikian, adalah sebagaimana berikut ini;
- Permohonan kepada Allah Swt untuk memudahkan perjuangan warga Rembang dan mengabulkan harapan-harapan mereka sesuai dengan hajat mereka saat ini.
- Menggalang dukungan moral-spiritual dari berbagai kalangan terhadap perjuangan warga Rembang.
- Menjadi forum silaturahim di antara warga dan para tokoh serta aktivis yang berpihak terhadap kepentingan warga.
- Merekatkan kembali tokoh-tokoh NU dengan umatnya yang sedang membutuhkan dukungan dan dilemahkan oleh kekuatan-kekuatan yangmengancam kemaslahatan umum.
- Memberikan tekanan yang lebih besar terhadap penguasa agar berpihak pada warga/masyarakat dalam proses politik dan hukum pada penyelesaian konflik-konflik berbasis sumberdaya alam di Jawa Tengah.
Historis kehadiran Gus Yahya dalam acara Istighosah ini menunjukkan bahwa sebenarnya ia pernah berkomitmen untuk menolak tambang yang mengganggu kesejahteraan masyarakat. Menariknya, saat menjabat sebagai ketua PBNU, ia malah dipertanyakan tentang komitmen tersebut.
Sebagaimana dikabarkan sebelumnya oleh Frensia.id, bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2024, yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Aturan ini menyangkut tentang pembukaan peluang baru bagi organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan dengan memberikan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Bahkan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan dalam kuliah Umum di Perguruan Tinggi NU, bahwa rencana konsesi tambang batu bara akan diberikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Konsesi ini tidak tanggung-tanggung, mencakup kawasan yang cukup luas dan strategis.
Di lain tempat, dalam jumpa persnya, Gus Yahya sebagai ketua PBNU, menyatakan sangat mengapresiasi niat baik pemerintah. PBNU menurutnya tidak akan mensia-siakan kesempatan itu. Respons demikian, yang hingga saat ini masih hangat dan terus jadi perbincangan di khalayak ramai.