Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat

Thursday, 26 February 2026 - 23:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mekkah Kota Kelahiran Nabi Muhammad SAW (Sumber: Pixabay)

Mekkah Kota Kelahiran Nabi Muhammad SAW (Sumber: Pixabay)

Frensia.id- Sebagai seorang negarawan dan pemimpin umat, Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya teladan yang menjadi rujukan para pemimpin Muslim khususnya dan para pemimpin di dunia pada umumnya. Bagaimana logika berpikir sang baginda agung dalam mengambil kebijakan untuk memberikan maslahat bagi umat sangat perlu dikaji.

Pada aspek prinsipil yang mana didalamnya tidak bisa dilakukan tawar-,menawar, keteguhan idealisme nabi Muhammad menjadi panutan. Salah satunya adalah ketika beliau memberikan jawaban yang tegas kepada Paman, Abu Thalib untuk menghentikan dakwahnya.

Sebagaimana diceritakan oleh Syekh Shofiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyyahnya, para pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib, memintanya untuk berbicara kepada Nabi Muhammad agar menghentikan dakwah Islam yang telah dilakukan secara terang-terangan.

Kapasitas Abu Thalib pada saat itu sangat komplek, sehingga ia dianggap sebagai sosok yang pas untuk meloby. Di kalangan Quraisy, ia merupakan orang yang dituakan, seorang pemuka dari para pembesar dan statusnya adalah orang terhormat. Selain itu, ia merupakan paman dari Nabi Muhammad SAW. Satu-satunya pelindung yang merawat sejak nabi kecil.

Baca Juga :  Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan

Merasakan desakan dari para tokoh Quraisy, akhirnya Abu Thalib merasa getar dan mengirimkan seorang utusan yang berkata:

“Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku, lalu mereka berkata begini dan begitu kepadaku. Maka hentikanlah demi diriku dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membebaniku sesuatu diluar kesanggupanku”

Mendengar apa yang diucapkan oleh Abu Thalib, Rasulullah mengira bahwa sang paman akan menelantarkan dan tidak lagi mendukungnya. Bukan malah kecil hati karena seolah tidak lagi mendapatkan perlindungan, Rasulullah dengan tegas memberikan tanggapan kepada Abu Thalib.

“Wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkannya.”

Mendengar jawaban tersebut dari keponakannya, Abu Thalib mengucurkan air mata dan memanggil beliau seraya berkata, “Pergilah wahai anak saudaraku dan katakanlah apapun yang engkau sukai. Demi Allah aku tidak akan menyerahkan dirimu kepada siapa pun.

Baca Juga :  Diteliti! Kelompok Perempuan Rentan Diabetnya Meningkat Saat Ramadhan

Idealisme Nabi Muhammad SAW sangat penting sekali untuk diperhatikan dan diteladani pada era sekarang. Abu Thalib merupakan orang penting di dekat Rasulullah, tidak hanya sekedar seorang paman melainkan pengganti dari orang tua yang merawat dan menjaga sepeninggal kakeknya, Abdul Muthalib.

Sebagai orang yang benar-benar penting dan sangat berkontribusi, tahun kematian Abu Thalib diperingati secara khusus dalam sejarah hidup Rasulullah, dikenal dengan tahun duka cita. Pada tahun tersebut juga bersamaan dengan meninggalnya istri tercinta, Khadijah. Kehadiran sosok Abu Thalib dalam hidup Nabi Muhammad lebih bernilai daripada segala jenis kemewahan dan kekayaan duniawi. Meskipun demikian, ketika sudah berkenaan dengan masalah prinsipil, maka tidak satupun yang bisa menghentikan dakwah Beliau.   

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan
Riset Orientalis Ungkap Inkonsistensi Moral dan Disiplin Diri Saat Ramadhan Para Pemuda Mesir
Resepsi 100 Tahun NU, Ketua LDNU PBNU Paparkan Tiga Kerangka Khidmat
Peziarah Terhambat Ziarah ke Wali Lima Gegara Bus Masuk Sawah di Mayang Jember
Di Momen Hari Santri Nasional, Brulantara Grup Gerakkan Santri Bangun Kemandirian Laut
Santri Jember Geruduk Transmart, Tuntut Trans7 Minta Maaf 7 Hari Berturut-turut di Medianya Sendiri
Ketua Perbasi Jatim Sumbang Ring Basket ke Ponpes di Sidoarjo

Baca Lainnya

Thursday, 26 February 2026 - 23:19 WIB

Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat

Saturday, 21 February 2026 - 17:00 WIB

Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan

Tuesday, 17 February 2026 - 21:00 WIB

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Kamis, Serukan Persatuan di Tengah Perbedaan

Saturday, 14 February 2026 - 01:29 WIB

Riset Orientalis Ungkap Inkonsistensi Moral dan Disiplin Diri Saat Ramadhan Para Pemuda Mesir

Sunday, 1 February 2026 - 18:05 WIB

Resepsi 100 Tahun NU, Ketua LDNU PBNU Paparkan Tiga Kerangka Khidmat

TERBARU

Mekkah Kota Kelahiran Nabi Muhammad SAW (Sumber: Pixabay)

Religia

Idealisme Nabi Muhammad SAW Ketika DiLobi oleh Orang Terdekat

Thursday, 26 Feb 2026 - 23:19 WIB