Penulis: Imam Muhajir Dwi Putra*
“Latar belakang didirikannya yayasan ini (Komunitas Risalah Nur) adalah karena melihat fenomena zaman modern yang semakin jauh dari nilai-nilai agama,…”
(Faiz 2023, 31)
Kutipan di atas mengungkapkan spirit dakwah keagamaan ‘gerakan Nur’ di Indonesia yang bersumbu pada kebangkitan religiusitas umat dari belenggu dekadensi moral dan spiritual. Salah satu langkah konkrit yang ditempuh, saat ini termanifestasikan dalam bentuk Said Nursi Corner di berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri maupun Swasta yang berkolaborasi dengan Istanbul Foundation for Science and Culture (IFSC) dan Yayasan Nur Semesta.
Persebaran pojok literasi yang begitu massif ini, dilatari oleh kontribusi pemikiran dan gerakan Said Nursi dalam membangun peradaban Islam di negara Turki. Ide tokoh yang telah mendunia ini, ternyata diminati dan diimpor oleh kalangan akademisi seperti Muhammad Faiz, Dosen Fakultas Usuluddin, Adab dan Humaniora (FUAH) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Ahmad Shiddiq (KHAS) Jember.
Salah satu karyanya berjudul “Mengarusutamakan Moderasi Di Tengah Pluralitas Bangsa”. Lahirnya gagasan dalam buku tersebut tampak perlu diperbincangkan kembali sebagai konsep moderasi impor yang disusun Sang Agen Said Nursi Corner ini.
Faiz Sukses Merinci Konsep Moderasi Said Nursi
Dalam upayanya menemukan grand design moderasi yang ideal di Indonesia, Faiz berangkat dari pembacaannya terhadap dinamika sosial keagamaan yang diwarnai aksi radikalisme, terorisme hingga tindakan anarkis. Baginya hal ini ditopang penuh oleh pengamalan tuntunan agama yang keliru.
Implementasi beragama yang demikian berimplikasi pada munculnya citra buruk dan negatif terhadap agama Islam. Tuduhan miring demikian yang seringkali dipropagandakan sarjana barat, yang baginya, tidak obyektif.
Ragam stigma negatif yang terlanjur melekat pada umat Islam tersebut, mampu ia tepis secara komprehensif melalui empat aspek moderasi ala Said Nursi yaitu: Pertama, jihad maknawi. Kedua, aksi dan tindakan positif sebagai asas menjaga stabilitas sosial. Ketiga, sistem pendidikan yang memadukan ilmu agama, sains modern dan pengajaran sufistik. Keempat, rekonstruksi pengamalan ajaran tarekat.
Perlukah Impor Konsepsi Moderasi Said Nursi?
Memang benar, Said Nursi memiliki konsepsi moderasi yang baik. Apakah di Indonesia tidak ada yang sekeren teorinya? Jika ada, masih perlukah impor konsep lain yang tidak tentu cocok dalam kultur masyarakat Indonesia?
Hal demikian yang mestinya disadari lebih awal dalam melihat urgensi buku Faiz ini. Tentu tidak dinafikan, sebagai agen moderasi Said Nursi Corner, Faiz tak perlu diragukan. Melalui buku birunya itu, ia telah dapat dipandang sebagai cendekiawan moderasi.
Sayangnya, tentu semua pihak tidak akan sepakat kalau dirinya dianggap telah menggagas konsep ideal moderasi agama yang cocok untuk masyarakat Indonesia. Tak pantas, jika hanya dengan buku setipis itu dan menjadi penggerak Said Nursi Corner UIN KHAS Jember, sudah bisa disebut pakar moderasi bangsa ini.
Pantasnya, Faiz dapat dikategorikan sebagai lulusan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) yang lagi asyik-asyiknya mengimpor ide moderasi. Mungkin saja, karena terlalu lama baca karya ulama’ asing, lupa pada gairah moderasi ulama’ sendiri.
Pengarusutamaan Moderasi Kiai Pesantren
Diseminasi hasil riset yang diungkap Faiz, dapat diperas lagi ke dalam aspek kritis untuk mempertanyakan relevansi dan kebaruannya. Sejauh ini, usaha mengarusutamakan moderasi dalam bingkai perdamaian di Indonesia, sebenarnya telah jauh-jauh hari dilakukan oleh kalangan pondok pesantren di berbagai sektor kehidupan secara nyata dan konsisten.
Tidak dapat disangkal bahwa ruang sosial di pondok pesantren menjadi bukti konkrit implementasi moderasi. Kedatangan santri dari berbagai daerah untuk rihlah keilmuan, secara tidak langsung membentuk lingkungan yang multikultur. Keragaman latar belakang tersebut senantiasa membentuk sikap dan karakter santri untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada.
Seiring perubahan sosial masyarakat Indonesia yang dinamis, pondok pesantren mengembangkan kurikulum pendidikan yang dapat memberi jawaban dan solusi persoalan umat. Langkah ini dibuktikan dengan insersi materi moderasi beragama melalui dua indikator yaitu, nasionalisme atau komitmen kebangsaan dan pribadi santri maupun alumni yang menghargai tradisi masyarakat.
Selain itu, terdapat bentuk pondok pesantren yang menitikberatkan pada kurikulum berbasis pengajian literatur kitab kuning atau turats Islami, model ini disebut dengan pesantren Salaf. Namun demikian, kiprah dakwah dari Kiainya, tidak dapat dianggap sepele dalam membentuk masyarakat yang moderat, sebagai contoh sebut saja Kiai Haji Maimoen Zubair.
Mbah Moen memiliki gagasan moderasi beragama yang selaras dengan konteks masyarakat Indonesia. Beliau menuangkan idenya dalam konsep kebangsaan yang mencakup sikap nasionalis-religius atau cinta tanah air dan tidak fanatik dalam beragama. Dalam konsep yang integral tersebut, lebih lanjut, beliau merinci empat pilar yang harus terpatri dalam benak masyarakat Indonesia di antaranya: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dapat disingkat PBNU.
Ide Kiai Pesantren Lebih Konkret
Semoga saja Faiz sadar bahwa ide-ide moderasi ulama’ Indonesia telah tumbuh sebelum Said Nursi lahir. Apalagi jika dibandingkan kehadiran dirinya sebagai agen Said Nursi Corner di UIN KHAS, tentu tak sebanding.
Untuk itu, tulisan ini berupaya untuk membuka kembali dikursus pengarustamaan moderasi dalam perspektif Faiz dalam karyanya. Ia yang tampak terbata-bata menggambarkan implikasi konkret gerakan Nur di Indonesia, mestinya sadar bahwa ada ide moderasi yang lebih nyata dampaknya. Konsepsi jihad maknawi maupun integrasi pendidikan ala Said Nursi telah selesai di tangan para kiai melalui budaya pesantren.
Jadi, impor pemikiran ala Said Nursi tampak hanya penambah teoretis saja, yang dalam praksisnya bisa gatot (gagal total). Maka, perlu dipertimbangkan untuk tidak hanya menyusun berpuluh-puluh jurnal tentang pemikiran Said Nursi, namun juga mendalami karya besar para ulama’ moderasi asli Indonesia.
Dengan kata lain, percuma berpayah-payah menyebarluaskan ide moderasi melalui Said Nursi Corner, jika malah meletakkan gagasan kiai pesantren di corner kampus.
- Penulis adalah Alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Artikel ini merupakan pendapat pribadi dari penulis opini, Redaksi Frensia.id tidak bertanggungjawab atas komplain apapun dari tulisan ini.