Frensia.id- Manusia yang terlahir dalam kondisi layaknya kertas putih akan mengalami gesekan dengan berbagai problematika kehidupan yang nantinya akan menciptakan bentuk dari kepribadiannya masing-masing.
Dalam kajian psikologi terdapat terminologi yang menggambarkan karakter mental manusia, diantaranya yang paling populer adalah istilah alfa, beta, gamma, omega, delta dan sigma.
Keenam karakter tersebut bukanlah hasil dari bawaan lahir melainkan pertautan diri dengan lingkungan yang dihadapi, sehingga muncul lah pribadi masing-masing.
Selain enam terminologi yang disimbolkan dengan menggunakan huruf Yunani tersebut, beberapa pakar diantaranya mempunyai istilah dan konsepnya masing-masing.
Diantaranya adalah Friedrich Nietzsche, seorang pemikir penting kelahiran Jerman yang mana salah satu gagasannya tentang kehendak akan kuasa mengilhami Nazi Jerman untuk melancarkan gerakannya.
Dalam bukunya, Also Sprach Zharathustra, Nietzsche mengklasifikasikan mentalitas manusia ke dalam tiga tipe dengan mengacu kepada dua simbol yang direpresentasikan dengan hewan dan satu dengan bayi.
Pertama, Unta, adalah simbol dari karakter seseorang yang selalu menurut terhadap aturan atau perintah orang lain, tanpa mempertimbangkan timbal balik yang akan diterima oleh dirinya. Dalam beberapa kondisi, karakter ini tidak hanya abai terhadap apa yang terjadi pada dirinya tetapi rela mempertaruhkan apapun yang dimiliki untuk orang lain.
Orang dengan mentalitas Unta bisa terwujud manakala ia terlalu takut akan sesuatu, daripada menerima akibat yang ingin ia hindari maka lebih menurut dan menyerah. Atau, seseorang yang terlalu cinta, sehingga menjadi budak atas apa yang ia cintai.
Kedua, Singa, adalah simbol dari karakter seseorang yang gampang memberi reaksi terhadap berbagai situasi disekitarnya. ia cenderung mengatur dan atau terlalu terlibat dalam urusan orang lain yang sebenarnya tidak ada nilai dan kepentingan bagi dirinya, sehingga tanpa sadar diintervensi oleh sesuatu yang bukan berasal dari keinginan pribadi.
Orang dengan mentalitas singa ini, sebenarnya ia terjebak dengan tindakan dan ucapannya sendiri, sebagai respon kepada sekitar, yang mana bukan berasal dari kepribadiannya sendiri.
Ketiga, bayi, menurut inspiratornya Hitler ini, mentalitas bayi menjadi tipe manusia ideal karena bayi selalu mendengarkan suara hatinya sendiri dan membuat aturan untuk dirinya sendiri tanpa harus terlarut dalam situasi sekitar yang melingkupinya.
Ia melakukan apapun yang ia kehendaki untuk dirinya, begitupun sebaliknya, apabila sesuatu itu bertentangan dengan tata nilai yang telah ia atur dan terapkan dalam hidupnya maka siapapun tidak bisa mengintervensinya.
Mentalitas bayi tidak terlalu menganggap penting untuk merespon sebuah kejadian secara serius, sehingga membuat dirinya mesti terjerumus ke dalam sebuah kejadian terlalu dalam, sehingga melupakan kepentingan dirinya yang pribadi.