Frensia.id – Tradisi menyembelih hewan ternak memang banyak dijalani masyarakat Indonesia. Terutama menyembelih sapi.
Beberapa kalangan bahkan di luar Jawa seperti Aceh yang masih kental dengan tradisinya menyembelih hewan menjelang lebaran.
Mereka memiliki istilah tersendiri untuk tradisi tersebut, yakni “Meugang” atau “Makmeugang” yang dilaksanakan selama tiga kali setahun. Saat menjelang Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan Hari Raya Idul Adha.
Termasuk pula masyarakat Banyuwangi yang hingga kini tetap melestarikan tradisi tersebut. Mereka menyebutnya “Belehan”.
Traidisi ini dilakukan tiap kali menjelang lebaran. Tidak hanya untuk untuk menjamu makan saat malam takbir, namun tradisi ini juga menjaga kerukunan masyarakat.
Seperti halnya yang terjadi di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, masyarakat sekitar iuran untuk membeli sapi, dengan besaran Rp500 ribu hingga 1,5 juta rupiah.
Tahun lalu, Desa ini berhasil menyembeli 86 ekor sapi dalam sekali perayaan. Diinformasikan pula dana yang terkumpul sekitar 1,2 miliar.
Pagi ini (Selasa, 9 April 2024), masyarakat juga menyerbu desa sebelah untuk menghaluskan dagingnya.
Salah satu jasa selep daging sekaligus jagal sapi di Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon ini adalah “Bangjo” dan “Kembar Jaya”.
“Hampir semua warga sini setiap tahun iuran untuk belehan, meskipun tak dipatok nominal iuran, masyarakat selalu semangat dan andil dalam tradisi ini,” ungkap Afrika salah seorang warga desa Sumberarum.
Tradisi demikian adalah bagian dari kearifan lokal masyarakat yang perlu dilestarikan, terlebih didukung. (*)