Karya Jurnalis Senior, Zainuddin HM, Ungkap Banjir Jakarta Era Kolonial Hingga Jokowi

Wednesday, 11 December 2024 - 03:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Karya Jurnalis Senior, Zainuddin HM, Ungkap Banjir Jakarta Era Kolonial Hingga Jokowi (Sumber: Grafis/ Mashur Imam)

Gambar Karya Jurnalis Senior, Zainuddin HM, Ungkap Banjir Jakarta Era Kolonial Hingga Jokowi (Sumber: Grafis/ Mashur Imam)

Frensia.id- Dalam sebuah buku yang berjudul Banjir Jakarta (2013), Zainuddin HM membawa pembaca menelusuri sejarah panjang ibu kota yang tak pernah lepas dari bayang-bayang air bah.

Lewat gaya penulisan yang tajam dan kaya akan fakta, Zainuddin, seorang jurnalis senior dari Rakyat Merdeka Group, menyusun narasi memikat tentang perjuangan Jakarta melawan banjir yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota ini.

Mulai dari era Raja Purnawarman, saat air menjadi anugerah sekaligus ancaman, hingga masa pemerintahan Jokowi sebagai gubernur yang bergelut langsung dengan persoalan banjir, buku ini menjadi dokumentasi monumental tentang peristiwa yang selalu menguji daya tahan warganya.

Buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cermin kolektif untuk memahami bagaimana banjir di Jakarta telah membentuk, menghancurkan, dan menguatkan semangat penduduknya. Zainuddin HM menampilkan kronologi banjir dari masa ke masa, lengkap dengan foto-foto yang menuturkan kisah pilu sekaligus heroik tentang bertahannya sebuah kota yang terancam tenggelam.

Foto-foto ini tak hanya merekam bencana, tetapi juga menghidupkan kembali perjuangan masyarakat dalam menghadapi air yang meluap dari sungai, kanal, hingga hujan deras yang tak berkesudahan.

Sebagai jurnalis yang telah menulis banyak buku, seperti How to Be a Writer dan Trilogi Jakarta, Zainuddin membawa pengalamannya dalam menyampaikan cerita dengan kedalaman riset yang luar biasa. Dalam Banjir Jakarta, ia tidak hanya menyoroti kejadian-kejadian besar, tetapi juga menggali pertanyaan mendasar tentang apa yang telah dilakukan, apa yang terlewatkan, dan apa yang seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Baca Juga :  Tim Pemprov Jatim Tinjau Kerusakan Infrastruktur Pasca-Banjir di Jember Pagi Ini

Mengapa banjir di Jakarta terus berulang meski sudah ada berbagai rencana besar seperti Master Plan 1973? Apa yang melatarbelakangi keputusan untuk membangun Bendung Katulampa? Dan bagaimana aksi langsung Jokowi pada tahun 2013 memberikan harapan baru, meskipun solusi jangka panjang tetap menjadi misteri?

Zainuddin menggambarkan banjir tidak hanya sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai cerminan hubungan manusia dengan lingkungannya. Dari banjir besar yang terjadi pada 1621 hingga tahun-tahun penuh intrik politik dan pembangunan yang tak jarang abai terhadap keberlanjutan, pembaca diajak untuk merenungkan bagaimana sejarah terus berulang.

Perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk yang tak terkendali menjadi isu yang menghantui tiap lembar buku ini.

Namun, Banjir Jakarta tidak berhenti pada narasi penuh keluh kesah. Buku ini mengandung semangat untuk menginspirasi perubahan. Zainuddin seolah ingin menggugah para praktisi, sejarawan, dan siapa saja yang tertarik dengan masa lalu untuk tidak hanya mengingat, tetapi juga bertindak.

Baca Juga :  Jember Sering Terkepung Banjir, Bupati Fawait Bentuk Satgas Infrastruktur-Tata Ruang

Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia internasional dalam menghadapi tantangan ini. Banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan peringatan untuk selalu waspada dan menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Membaca Banjir Jakarta adalah seperti membuka jendela yang menghadap ke perjalanan panjang kota Jakarta. Pembaca akan menemukan diri mereka merenungkan tragedi dan harapan yang ada di setiap musim hujan.

Banjir di masa lalu adalah pelajaran bagi masa depan, dan buku ini adalah panduan untuk memahami bahwa setiap tindakan kecil bisa menjadi bagian dari solusi.

Bagi mereka yang mencintai sejarah atau merasa memiliki tanggung jawab terhadap kota yang dihuni oleh lebih dari sepuluh juta jiwa ini, buku ini adalah bacaan wajib.

Dengan bahasanya yang lugas, detail faktual yang kuat, dan emosi yang terasa di setiap halamannya, Banjir Jakarta adalah pengingat bahwa air tidak hanya membasahi, tetapi juga meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam kehidupan manusia.

Di tangan Zainuddin HM, kisah banjir Jakarta menjadi lebih dari sekadar cerita; ia adalah panggilan untuk bertindak.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Penjambretan Istri Hogi Minaya Mengingatkan Kasus Sengkon dan Karta
Muslim di Indonesia Merayakan Natal? Dulu Ketua MUI Pernah Mundur Karena Masalah ini
Film Komedi Keren Tentang Perayaan Natal, “Christmas Every Day” Karya William Dean Howells
Tragedi Natal, Pernah Dikaji Pakar Riset Konflik Politik
Berkat Lobi Perempuan, Sukarno Membatalkan Hukuman Mati Seorang Agen CIA
Rabo Wekasan: Antara Tradisi, Doa, dan Catatan Ilmiah
Masalah Wong Jowo dan Gembong Narkotika Internasional Era Kolonial, Ini Bukti Dokumennya!
Menengok Ulang Wajah Reformasi 1998

Baca Lainnya

Sunday, 1 February 2026 - 21:45 WIB

Penjambretan Istri Hogi Minaya Mengingatkan Kasus Sengkon dan Karta

Thursday, 25 December 2025 - 01:23 WIB

Muslim di Indonesia Merayakan Natal? Dulu Ketua MUI Pernah Mundur Karena Masalah ini

Thursday, 25 December 2025 - 01:03 WIB

Film Komedi Keren Tentang Perayaan Natal, “Christmas Every Day” Karya William Dean Howells

Thursday, 25 December 2025 - 00:26 WIB

Tragedi Natal, Pernah Dikaji Pakar Riset Konflik Politik

Saturday, 6 December 2025 - 18:54 WIB

Berkat Lobi Perempuan, Sukarno Membatalkan Hukuman Mati Seorang Agen CIA

TERBARU

Foto: Istimewa.

News

Angin Kencang Sebabkan Kerusakan Rumah Warga di Jember

Saturday, 21 Feb 2026 - 17:05 WIB

Suasana penumpang Kereta Api Logawa di stasiun Jember. (Foto: Sigit/Frensia).

Religia

Awal Ramadan, Jumlah Penumpang KA di Jember Alami Penurunan

Saturday, 21 Feb 2026 - 17:00 WIB