KH. Achmad Siddiq : Tujuh Tingkatan Orang Melakukan Ibadah

Rabu, 31 Januari 2024 - 19:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id Manusia diciptakan untuk menyembah dan menghamba pada Allah sebagai tuhan yang menciptakannya. Penegasan penciptaan manusia tidak lain kecuali untuk beribadah kepada Ku kata Allah tertuang dalam QS. adz-Dzariyat 51: 56. Inilah titik khittah manusia, ia sebagai hamba harus berjuang, berusaha beribadah dan bertaqwa kepada Allah.

Idealnya dalam melakoni ibadah digerakkan oleh niat tulus dan murni karena Allah, tidak motif lain. Namun setiap manusia memiliki niat yang bervariatif. Sang pembaharu Nahdlatul Ulama, KH. Achmad Siddiq merinci hal itu, terdapat beberapa motif atau tingkatan orang melakukan ibadah.

Dalam pandangannya titik penting yang harus diperhatikan adalah niat, sebab ini menajadi basic structure dan penentu berkualitas tidaknya ibadah. Berdasakan penggalan hadis yang jamak dikenal إنما الا عمال با النيا ت (bahwa nilai segala amal itu, tergantung pada niat).

Hubungannya dengan amal ibadah, menurut Rois Aam PBNU periode 1984-1991 itu terdapat beberapa motif yang mendorong orang melakukan ibadah, sebagaimana berikut:

1. Karena Takut

Lil Khaufi (للخوف) , karena takut kepada siksa (neraka) yang diancamkan oleh Allah kepada siapa saja yang tidak mau melakukan ibadah.

2. Karena Harapan

Lil Rojaa’i (للرجاء) , karena mengharapakan pahala (sorga) dari Allah, sebagaimana dijanjikan kepada siapa saja yang melakukan ibadah.

Baca Juga :  Sambut Bulan Suci Ramadan, DPC PKB Jember Adakan Ngabuburit Festival Band

3. Karena Syukur

Lisy Syukri (للشكر), karena rasa terima kasih kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat-Nya yang tidak terhitung jumlah dan macamnya. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh Ibusuri, Sahabat Siti Aisyah, untuk apa beliau masih saja beribadah, padahal jaminan sorga sudah jelas, jaminan terlepas dari segala dosa sudah pula pasti. Beliau menjawab: “Apakah saya tidak harus menjadi hamba yang bersyukur?”

4. Karena Keridlaan

Lir Ridla (للرضا) , karena rasa ridla menjadi hamba Allah dan mengharapkan keridlaan Allah.

5. Karena Cinta

Lil Mahabbah (للمحبة), karena rasa cinta kepada Allah dan mengharapkan kecintaan-Nya. Cinta yang sejati mendorong sescorang melakukan apa yang dapat menimbulkan kecintaan dari yang dicintai.

Masih ada dua macam motif lain yang mendorong seseorang melakukan ibadah, tetapi dari sudut pandang yang lain pula, yaitu :

Karena Kewajiban

Lil Wujub (للوجوب), karena sebagai mukallaf merasa terkena kewajiban dari ALLAH.

Karena Kesenangan

Lit Taladz-Dzudz (للتلذذ), karena ibadah itu sendiri dirasakan sebagai sesuatu yang ni’mat, yang lezat, seperti ibadah yang dilakukan oleh para Anbiya dan Shalihin di alam barzakh dan alam akhirat, meskipun mereka sudah tidak terbebani dengan kewajiban melakukannya.

Selain tujuh motif diatas KH. Achmad Siddiq juga mengklasifikasi motif orang melalukan ibadah. Ia mengatakan selain didorong motif diatas terdapat motif karena ada dorongan bisikan setan (syaitan), misalya orang beribadah karena didorong oleh/untuk pamer, riya, ujub dan /atau karena kepentingan-kepentingan lainyang tidak relasinya dengan perkara ukhrowi. Ibadah yang tergolong karena motif seperti akan merusak nilai sebuah ibadah.

Baca Juga :  Ramadan, Musik Religi, dan Keabadian Musisi Favorit Generasi Milenial

Uraian klasifikasi motif beribadah menurut KH. Achmad Siddiq diatas harus dijadikan instrumen muhasabah. Saat ini sudah pada titik mana kita dalam beribadah, apakah masih ditingkatan karena takut dengan siksanya jika meninggalkan ibadah, apakah karena masih kewajiban, atua sebatas transaksional kerena mengharapkan sesuatu atas ibadah kita layaknya para pedagang yang mengharapkan income, atau jangan-jangan ibadah kita tergolong karena Syukur, ridha, cinta dan nikmat. Tentu bersyukur jika pada tahap ini.

Hal yang penting dicatat kita mestinya selalu bersyukur pada tingkatan mana ibadah kita saat ini. Tidak perlu membani diri dengan terlalu memikirkan pada tahap mana kita saat ini, sebab ditakdirkan untuk beribadah sudah merupakan anugerah besar, yang terpenting kita terus berusaha untuk memberbaiki niat dan dorongan kita beribadah. Sehingga pada akhirnya kita berada pada titik kulminasi kesempurnaan beribadah pada Allah.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran
Dari Mustahik ke Miliarder Kecil, Riset Berikut Ungkap Rahasia Program Zakat di Malaysia yang Sukses Raih RM12.000 per Bulan
Manifesto Zakat: Cinta, Kemanusiaan, dan Keadilan
Mereguk Sahur, Meneguk Cahaya Ramadhan
Ramadhan dan Kita yang Sibuk Sendiri
Sekolah Tiga Bahasa Rukun Harapan Jember: Jodoh Perjuangan Gus Dur dengan Pendiri Yayasan
Bikin Haru, Jawaban Nyai Sinta Ketika Ditanya Tentang Kebiasaan Buka Puasa Gus Dur
Viral Pedagang Bakso Jember Diringkus Polisi Diduga Gelapkan Uang Arisan 3 M, Begini Kronologinya

Baca Lainnya

Selasa, 1 April 2025 - 08:23 WIB

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Kamis, 27 Maret 2025 - 21:23 WIB

Dari Mustahik ke Miliarder Kecil, Riset Berikut Ungkap Rahasia Program Zakat di Malaysia yang Sukses Raih RM12.000 per Bulan

Selasa, 25 Maret 2025 - 15:26 WIB

Manifesto Zakat: Cinta, Kemanusiaan, dan Keadilan

Selasa, 18 Maret 2025 - 18:52 WIB

Mereguk Sahur, Meneguk Cahaya Ramadhan

Sabtu, 15 Maret 2025 - 17:41 WIB

Ramadhan dan Kita yang Sibuk Sendiri

TERBARU

Don Quixote, Tokoh fiksi karangan Miguel De Cervantes

Kolomiah

Kita Adalah Don Quixote yang Terhijab

Jumat, 4 Apr 2025 - 13:02 WIB

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB