Frensia.id Manusia diciptakan untuk menyembah dan menghamba pada Allah sebagai tuhan yang menciptakannya. Penegasan penciptaan manusia tidak lain kecuali untuk beribadah kepada Ku kata Allah tertuang dalam QS. adz-Dzariyat 51: 56. Inilah titik khittah manusia, ia sebagai hamba harus berjuang, berusaha beribadah dan bertaqwa kepada Allah.
Idealnya dalam melakoni ibadah digerakkan oleh niat tulus dan murni karena Allah, tidak motif lain. Namun setiap manusia memiliki niat yang bervariatif. Sang pembaharu Nahdlatul Ulama, KH. Achmad Siddiq merinci hal itu, terdapat beberapa motif atau tingkatan orang melakukan ibadah.
Dalam pandangannya titik penting yang harus diperhatikan adalah niat, sebab ini menajadi basic structure dan penentu berkualitas tidaknya ibadah. Berdasakan penggalan hadis yang jamak dikenal إنما الا عمال با النيا ت (bahwa nilai segala amal itu, tergantung pada niat).
Hubungannya dengan amal ibadah, menurut Rois Aam PBNU periode 1984-1991 itu terdapat beberapa motif yang mendorong orang melakukan ibadah, sebagaimana berikut:
1. Karena Takut
Lil Khaufi (للخوف) , karena takut kepada siksa (neraka) yang diancamkan oleh Allah kepada siapa saja yang tidak mau melakukan ibadah.
2. Karena Harapan
Lil Rojaa’i (للرجاء) , karena mengharapakan pahala (sorga) dari Allah, sebagaimana dijanjikan kepada siapa saja yang melakukan ibadah.
3. Karena Syukur
Lisy Syukri (للشكر), karena rasa terima kasih kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat-Nya yang tidak terhitung jumlah dan macamnya. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh Ibusuri, Sahabat Siti Aisyah, untuk apa beliau masih saja beribadah, padahal jaminan sorga sudah jelas, jaminan terlepas dari segala dosa sudah pula pasti. Beliau menjawab: “Apakah saya tidak harus menjadi hamba yang bersyukur?”
4. Karena Keridlaan
Lir Ridla (للرضا) , karena rasa ridla menjadi hamba Allah dan mengharapkan keridlaan Allah.
5. Karena Cinta
Lil Mahabbah (للمحبة), karena rasa cinta kepada Allah dan mengharapkan kecintaan-Nya. Cinta yang sejati mendorong sescorang melakukan apa yang dapat menimbulkan kecintaan dari yang dicintai.
Masih ada dua macam motif lain yang mendorong seseorang melakukan ibadah, tetapi dari sudut pandang yang lain pula, yaitu :
Karena Kewajiban
Lil Wujub (للوجوب), karena sebagai mukallaf merasa terkena kewajiban dari ALLAH.
Karena Kesenangan
Lit Taladz-Dzudz (للتلذذ), karena ibadah itu sendiri dirasakan sebagai sesuatu yang ni’mat, yang lezat, seperti ibadah yang dilakukan oleh para Anbiya dan Shalihin di alam barzakh dan alam akhirat, meskipun mereka sudah tidak terbebani dengan kewajiban melakukannya.
Selain tujuh motif diatas KH. Achmad Siddiq juga mengklasifikasi motif orang melalukan ibadah. Ia mengatakan selain didorong motif diatas terdapat motif karena ada dorongan bisikan setan (syaitan), misalya orang beribadah karena didorong oleh/untuk pamer, riya, ujub dan /atau karena kepentingan-kepentingan lainyang tidak relasinya dengan perkara ukhrowi. Ibadah yang tergolong karena motif seperti akan merusak nilai sebuah ibadah.
Uraian klasifikasi motif beribadah menurut KH. Achmad Siddiq diatas harus dijadikan instrumen muhasabah. Saat ini sudah pada titik mana kita dalam beribadah, apakah masih ditingkatan karena takut dengan siksanya jika meninggalkan ibadah, apakah karena masih kewajiban, atua sebatas transaksional kerena mengharapkan sesuatu atas ibadah kita layaknya para pedagang yang mengharapkan income, atau jangan-jangan ibadah kita tergolong karena Syukur, ridha, cinta dan nikmat. Tentu bersyukur jika pada tahap ini.
Hal yang penting dicatat kita mestinya selalu bersyukur pada tingkatan mana ibadah kita saat ini. Tidak perlu membani diri dengan terlalu memikirkan pada tahap mana kita saat ini, sebab ditakdirkan untuk beribadah sudah merupakan anugerah besar, yang terpenting kita terus berusaha untuk memberbaiki niat dan dorongan kita beribadah. Sehingga pada akhirnya kita berada pada titik kulminasi kesempurnaan beribadah pada Allah.