Frensia.id – Mayoritas umat Muslim di segala penjuru dunia, jelas sudah mengetahui bahwa Lailatul Qadar adalah momen yang memiliki kemuliaan hingga berbanding seribu bulan lebih baik daripada bulan lain.
Kapan Lailatul Qadar terjadi? yang jelas Allah merahasiakannya agar umat Islam senantiasa beribadah dengan ikhlas.
Dilansir dari laman NU Online, Nabi Muhammad Saw juga memberikan bocoran bahwa Lailatul Qadar akan hadir pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Termasuk pula pendapat Sayyidah Aisyah pun telah menyaksikan Nabi Muhammad fokus untuk menjalankan ibadah pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.
Namun, banyak kalangan orang awam bertanya benarkah Lailatul Qadar hanya ada pada bulan Ramadhan saja? atau apa sebenarnya makna dari Lailatul Qadar itu sendiri?
Jelas pertanyaan-pertanyaan tersebut harus terjawab secara rinci sebagai kebutuhan umat Islam sendiri.
Dengan mengetahui makna serta kapan perkiaraan malam itu datang, jelas akan meningkatkan ketaqwaan Umat Islam secara langsung.
Sosok penulis Tafsir Al-Misbah, M Quraish Shihab, dalam karyanya yang bertajuk “Membumikan Alquran”, memaparkan penjelasan tentang arti serta makna qadar itu sendiri.
Pertama, qadar memiliki makna penetapan dan pengaturan. Sehingga Lailatul Qadar dapat dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi alur kehidupan manusia. Pendapat ini didasarkan pada Qs. Ad-Dukhan ayat (3).
Kedua, qadar memiliki arti kemuliaan. Bahwa dalam malam yang mulia ini tentu tiada malam-malam yang menandingi kualitas kemuliaannya. Lailatul Qadar menjadi malam semulia ini karena Ia adalah waktu turunnya Alquran.
Ketiga, qadar bermakna sempit. Malam ini adalah malam yang sempit karena banyak kalangan malaikat pesuruh Tuhan yang turun ke bumi. Hal ini didasarkan pada Surat Al-Qadar: “Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”
Tidak hanya itu, beberapa pertanda datangnya malam mulia ini diantaranya adalah air yang tenang, heningnya suasana, serta pohon-pohon yang menunduk.
Beberapa ulama juga menjelaskan bahwa malam itu adalah malam dimana Allah mengatur ketetapan khittah (perjalanan) serta strategi bagi Nabi Muhammad untuk melancarkan dakwahnya kepada umat manusia.
Senada dengan banyak pernyataan di atas, seorang akademiisi asal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Hengki Ferdiansyah banyak menjelaskan bahwa malam mulia ini hanya ada pada bulan Ramadhan.
Bagi Hengki, memang ada beberapa kelompok dan fatwa ulama yang memaknai lailatul qadar secara esensial.
Maksudnya adalah bahwa kemuliaan malam tersebut bisa terjadi kapan saja di mana manusia sedang mendekatkan diri kepada Tuhannya.
Namun, pemaknaan secara spesifik dan khusus, lailatul qadar yang lebih mulia dibanding seribu bulan sebagaimana pemahaman masyarakat Muslim secara luas, hanya ada pada bulan Ramadhan. Tepatnya 10 hari akhir pada bulan tersebut. (*)