Frensia.id- Animal Farm merupakan novel fabel fiksi yang ditulis oleh George Orwell, yang bercerita mengenai peralihan kekuasaan yang direbut secara revolusioner, melalui pemberontakan yang dilancarkan oleh hewan ternak.
Atas perlakuan yang sewenang-wenang seluruh hewan ternak Mr Jones melakukan pemberontakan.
Tidak ada kepedulian, kasih sayang, empati dan simpati dari si pemilik, maka akhirnya dendam yang telah membatu didalam hati kini telah berada dalam genggaman dan siap untuk menyerang atas kesengsaraan mereka.
Akhirnya tampuk kekuasaan dipegang oleh hewan ternak, kepemimpinan tertinggi berada dibawah kuasa para babi.
Seperti itulah cerita yang ditulis oleh George Orwell dalam novel fabelnya “animal farm“. Mahbub Djunaidi menerjemahkannya dengan judul ‘Binatangisme’.
Bisa diartikan dengan suatu faham para binatang tetapi tidak sekedar ‘faham’ saja, melainkan mengandung arti gerakan.
Sama halnya dengan kata ‘separatisme’, bukan sekedar mengandung makna faham pemecah belah kesatuan, melainkan ada energi gerakannya.
Setelah revolusi berjalan dengan sukses, kini masa depan peternakan ada didalam pikiran para babi.
Ada dua babi yang menonjol, si putih bernama Snowball dan si hitam bernama Napolen. Babi pertama adalah pribadi yang cerdik, mempunyai visi jauh ke depan. Sedangkan Babi kedua adalah pribadi yang diliputi rasa tamak akan kekuasaan.
Hingga akhirnya suatu ketika, Napoleon berhasil mengorganisir perlawanan dengan mengumpulkan para Anjing untuk mengusir Snowball. Hingga kemudian satu-satunya tampuk kekuasaan hanya pada babi hitam itu.
Akhir hayat dari Snowball sangat mengerikan. Padahal ia adalah pahlawan revolusi dengan cita-cita keadilan dan kesejahteraan, harus menutup ceritanya sebagai pecundang. Sebagaimana fitnah yang dilancarkan oleh Napoleon bahwa Snowball ingin mengembalikan Mr Jones kedalam peternakan.
Setelah, si babi hitam, Napoleon adalah satu-satunya penguasa mutlak. Berdasarkan rancangan pikiran dari Snowball untuk membangun kincir dan berbagai teknologi canggih, intruksi-intruksi dari Napoleon hari ke hari terasa lebih bengis dan kejam daripada Mr Jones sendiri.
Ia rela menjual kuda, pekerja paling rajin dan kuat dari semua hewan ternak. Setelah kakinya mengalami cacat akibat perlawanannya setelah peternakan diserang oleh manusia.
Akhir dari segala cerita kekuasaan peternakan milik Mr Jones adalah pemberontakan lagi. Dari para hewan ternak yang sebenarnya bukan menolak untuk diperintah melainkan melawan bentuk kezhaliman dari Napoleon dan sekutunya. Orwell menutup cerita dengan tumbangnya rezim sewenang-wenang.
Lewat novel Fabelnya ini, Orwell sekali lagi mampu menggambarkan bagaimana watak dari kekuasaan beroperasi, mulanya memberi harapan akan kesejahteraan dengan menentang bentuk kesewenang-wenangan.
Tetapi setelah kekuasaan baru terbit, justru dusta yang bertahta. Visi keadilan dan kesejahteraan yang dulu diucapkan, selalu saja mendapatkan alasan untuk diingkari.
Secara umum bukan tipikal manusia seperti Mr.Jones atau para babi, Napoleon dan Snowball, melainkan kekuasaan itu sendiri secara abstrak menghadirkan kesempatan bagi siapapun untuk bertindak jahat.
Setiap kekuasaan yang mampu ditumbangkan dan didukung oleh segenap massa, menunjukkan bahwa establishment sudah tidak lagi rasional menurut peradaban.