Negara Dan Jeritan Petani Dalam Bayang-bayang Mafia Pupuk

Jumat, 8 November 2024 - 17:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id- Diatas ladang dibawah sinar matahari, petani menyambung hidup dengan berjuang sendiri. Tidak hanya cuaca dan alam yang terkadang tak bersahabat dengannya, mereka harus menghadapi tantangan yang lebih berbahaya, mafia pupuk. Jejaring yang mengendalikan distribusi pupuk bersubsidi, dengan akal bulusnya kelompok ini mengelabuhi pupuk dari tangan petani ke pasar gelap demi meraup keuntungan lebih besar.

Mafia pupuk bekerja dengan halus, tak kasat mata, keberadaanya tak terasa seperti sengatan mentari disiang hari, saat petani berjuang di ladang. Namun, jangan salah sangka, ibarat penyakit kronis, kelompok yang teroganisir terlibat dalam praktik ilegal distribusi dan penjualan pupuk ini perlahan tapi pasti, mematikan harapan para petani. Ironisnya, negara terkesan belum punya kekuatan memberantas lingkaran setan ini.

Sering terdengar pemerintah menyatakan siap menindak tegas para mafia pupuk, bahkan telah berupaya memberantas praktik kejam para mafia pupuk. Namun, kenyataanya mereka tetap hidup. Tampak aneh rasanya, mengapa pemerintah sulit membasmi mereka?

Dengan segala power yang dimiliki, seharusnya negara mampu menekan dan memutus mata rantai jejaring mafia pupuk. Tentu tidak masuk akal, negara atua pemerintah kewalahan menghadapi mereka. Jika pemerintah tak bisa diandalkan, lalu siapa lagi yang akan menolong para petani?

Baca Juga :  Menjaga Alam, Merawat Kehidupan

Kelankaan pupuk terus menggelayuti dan membebani petani. Mereka yang menyandarkan hidupnya pada hasil panen, terpaksa harus berupaya keras tanpa jaminan pasokan pupuk. Petani tak jarang dalam keterpaksaan membeli pupuk di pasar gelap dengan harga yang lebih meroket, hanya ingin memastikan ladangnya tetap subur.

Lagi dan lagi, keluh kesah petani atas ketimpangan sistemik dan terorganisir ini, hanya berharap besar pada negara? Dalam bayangan mereka, negara dengan segala perangkat hukumnya, menjadi garda terdepan memberangus praktik mafia yang mengancam kedaulatan pangan.

Para petani sudah kadung menaruh kepercayaan terhadap pemangku jabatan. Tapi, naas komitmen mereka hanya sekedar retorika yang indah, seperti saat kampanye misalnya. Pada akhirnya, mau tidak mau petani menjadi tulang punggung pangan dengan beban kerugian akibat ulah mafia pupuk.

Sejumlah research mengungkapkan perilaku mafia pupuk sangat berbahaya dan dikatakan bahwa mafia pupuk adalah kejahatan kriminal yang sistemik, dan terorganisasi dengan baik. Temuan tersebut sebagaimana diulas oleh Riwandi dalam studinya Mafia Pupuk Adalah Kejahatan Sistemik Dan Teror. Tidak mengherankan kenapa mafia pupuk hingga kini masih saja melenggang dan menggurita.

Baca Juga :  Koalisi Permanen, Jalan Terjal Demokrasi

Kejahatan sistemik dan terorganisasi dengan baik seperti diungkap ole Riwandi, menunjukkan kelompok ini bergerak didukung oleh oknum-oknum yang memanfaatkan sistem distribusi yang lemah. Mulai level atas hingga lapisan bawah, jejaring kelompok ini mendayagunakan kelemahan aturan serta ketidakseriusan pengawasan pemerintah.

Riwandi dalam penelitiannya menyarankan harus ada sangsi yang seberat-beratnya dalam bentuk hukuman penjara bila terbukti bersalah. Tidak terkecuali apakah mafia pupuk itu dari oknum pemerintah, BUMN atau dari perusahaan swasta atau perorangan, siapapun dikenakan hukuman penjara bila terbukti bersalah.

Semuanya kembali kepada negara yang punya kuasa, apakah mereka masih peduli pada petani? Jika pemerintah masih mengklaim berpihak pada petani, tidak ada cara lain para mafia pupuk harus segera dituntaskan. Mulai pengawasan yang ketat, pemberian sangsi tanpa tebang pilih hingga keberanian meretas dan memutus rantai jejaring mafia pupuk.

Membiarkan mafia pupuk mengendalikan pupuk sebagai kebutuhan dasar bagi sektor pertanian, sama halnya negara sedang membentangkan karpet merah bagi petani menuju situasi yang semakin menderita. Bangsa ini tidak hanya gagal melindungi para patani, namun juga memperburuk kondisi mereka yang setiap hari memberi makan negari ini.*

*Moh. Wasik

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan
Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran
Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi
Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 
Negara atau Rentenir? STNK Mati, Motor Ikut Pergi
Evaluasi Flyer Pemerintah di Website Media: Menimbang Maslahat dan Mafsadat dalam Komunikasi Publik
Menjaga Alam, Merawat Kehidupan
Koalisi Permanen, Jalan Terjal Demokrasi

Baca Lainnya

Selasa, 1 April 2025 - 08:23 WIB

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Jumat, 21 Maret 2025 - 23:34 WIB

Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi

Kamis, 20 Maret 2025 - 22:06 WIB

Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 

Rabu, 19 Maret 2025 - 05:57 WIB

Negara atau Rentenir? STNK Mati, Motor Ikut Pergi

Kamis, 20 Februari 2025 - 20:45 WIB

Evaluasi Flyer Pemerintah di Website Media: Menimbang Maslahat dan Mafsadat dalam Komunikasi Publik

TERBARU

Don Quixote, Tokoh fiksi karangan Miguel De Cervantes

Kolomiah

Kita Adalah Don Quixote yang Terhijab

Jumat, 4 Apr 2025 - 13:02 WIB

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB