Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga “Lenyap” Tanpa Jejak Akibat Senjata Termal

Saturday, 14 February 2026 - 00:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga

Gambar Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga "Lenyap" Tanpa Jejak Akibat Senjata Termal (Sumber: X Mikha'el)

FRENSIA.ID- Langit di atas Kota Gaza belum sepenuhnya terang pada subuh, 10/08/2024, namun udara sudah tebal oleh bau menyengat yang tidak wajar—campuran antara mesiu, beton yang hangus, dan aroma kematian yang sulit dideskripsikan. Di tengah reruntuhan sekolah al-Tabin yang masih mengepulkan asap hitam pekat, Yasmin Mahani menyeret langkahnya yang berat. Ia bukan sedang mencari harta benda, melainkan mencari satu-satunya alasan ia bertahan hidup: putranya, Saad.

Di sekelilingnya, kekacauan terjadi. Teriakan minta tolong bersahutan dengan bunyi sirine ambulans yang meraung putus asa. Yasmin menemukan suaminya di tengah puing-puing, berteriak histeris memanggil nama anak mereka, namun Saad tidak menyahut. Tidak ada suara, tidak ada lambaian tangan, dan yang paling mengerikan, tidak ada tubuh yang bisa dipeluk.

Pencarian Yasmin bukan hanya berlangsung satu atau dua jam, melainkan berhari-hari. Ia menyisir setiap sudut reruntuhan, mendatangi setiap rumah sakit yang kewalahan menampung korban, hingga masuk ke ruang-ruang mayat yang penuh sesak. Namun, hasilnya nihil. Dalam sebuah kesaksian yang mengguncang hati nurani, Yasmin menceritakan momen mengerikan ketika ia menyadari apa yang mungkin terjadi pada anaknya.

“Saya masuk ke masjid dan mendapati diri saya menginjak daging dan darah,” ungkap Mahani kepada Al Jazeera Arabic dalam sebuah investigasi eksklusif yang ditayangkan pada hari Senin. Kalimat itu meluncur dengan nada yang menyiratkan trauma mendalam.

Ia melanjutkan pencariannya dengan harapan yang semakin menipis. “Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jenazah untuk dimakamkan.

Itu bagian tersulitnya,” tambahnya.

Pengakuan ini bukan sekadar cerita kesedihan seorang ibu, melainkan sebuah petunjuk awal dari fenomena mengerikan yang kini terungkap secara ilmiah: ribuan warga Gaza tidak sekadar tewas, mereka dihapuskan dari keberadaan fisik oleh senjata berteknologi tinggi.

Yasmin Mahani hanyalah satu nama dari ribuan orang yang mengalami nasib serupa dalam perang genosida yang dilancarkan Israel di Gaza. Konflik yang telah menewaskan lebih dari 72.000 orang ini menyimpan sebuah statistik gelap yang jarang dibicarakan dunia internasional.

Menurut investigasi mendalam bertajuk The Rest of the Story yang dirilis oleh Al Jazeera Arabic, tim Pertahanan Sipil di Gaza telah mendokumentasikan sebuah angka yang membuat bulu kuduk berdiri.

2.842 warga Palestina telah dinyatakan “lenyap” sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Mereka hilang tanpa jejak, tidak meninggalkan sisa tubuh, tulang, atau identitas apa pun selain percikan darah atau serpihan kecil daging yang menempel di dinding atau lantai lokasi serangan. Investigasi ini membawa bukti kuat bahwa fenomena hilangnya ribuan nyawa tanpa jasad ini bukanlah sebuah kebetulan atau akibat tertimbun reruntuhan semata, melainkan hasil langsung dari penggunaan sistematis amunisi termal dan termobarik oleh militer Israel.

Senjata-senjata ini, yang sering disebut sebagai bom vakum atau aerosol, memiliki kemampuan destruktif yang melampaui bom konvensional. Para ahli militer dan saksi mata di lapangan mengaitkan hilangnya ribuan tubuh manusia ini dengan karakteristik ledakan senjata tersebut. Bom termobarik bekerja dengan menyebarkan awan bahan bakar di udara sebelum meledakkannya, menciptakan bola api raksasa yang menyedot oksigen di sekitarnya untuk menciptakan suhu ekstrem.

Baca Juga :  Mencari Saruman dan Sauron dalam Konflik PBNU

Investigasi mengungkap bahwa suhu yang dihasilkan oleh amunisi pasokan Amerika Serikat ini dapat melebihi 3.500 derajat Celcius atau setara dengan 6.332 derajat Fahrenheit. Sebagai perbandingan, krematorium modern yang digunakan untuk mengelabuhi jenazah manusia biasanya beroperasi pada suhu antara 800 hingga 1.000 derajat Celcius, dan membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengubah tubuh menjadi abu.

Dengan suhu mencapai 3.500 derajat, tubuh manusia yang terpapar langsung dalam radius ledakan akan mengalami penguapan instan atau vaporization. Struktur tulang, jaringan otot, dan organ dalam hancur seketika menjadi partikel mikroskopis atau abu yang kemudian tersapu angin, meninggalkan keluarga korban dalam ketidakpastian abadi tanpa makam untuk dikunjungi.

Angka 2.842 orang yang lenyap tersebut bukanlah sekadar perkiraan kasar atau spekulasi liar. Angka itu adalah hasil dari akuntansi forensik yang suram dan sangat teliti yang dilakukan oleh tim Pertahanan Sipil Gaza di tengah keterbatasan alat dan ancaman serangan susulan. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memberikan penjelasan teknis mengenai bagaimana mereka sampai pada kesimpulan mengerikan tersebut. Ia menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa timnya menggunakan metode deduksi yang ketat di setiap lokasi serangan.

“Kami memasuki rumah yang menjadi target dan mencocokkan jumlah penghuni yang diketahui dengan jenazah yang ditemukan,” kata Basal.

Prosedur ini dilakukan dengan mencatat siapa saja yang berada di dalam bangunan saat serangan terjadi berdasarkan kesaksian tetangga atau keluarga yang selamat, lalu membandingkannya dengan jumlah kantong jenazah yang berhasil dievakuasi.

Basal memberikan gambaran logis namun mengerikan tentang matematika kematian di Gaza. “Metode eliminasi” yang mereka terapkan menjadi satu-satunya cara untuk mencatat keberadaan mereka yang hilang. Seringkali, tim penyelamat mendapati situasi di mana sebuah rumah yang diketahui dihuni oleh sepuluh orang hancur lebur terkena serangan rudal. Setelah penyisiran menyeluruh, mereka mungkin hanya menemukan sisa-sisa tubuh yang setara dengan tiga atau empat orang, atau bahkan kurang.

“Jika tidak ada jenazah, dan orang tersebut diketahui berada di sana, maka satu-satunya kesimpulan adalah tubuh mereka telah hancur total hingga tak bersisa,” jelasnya.

Fakta ini diperkuat oleh temuan residu kimia dan pola kerusakan termal pada struktur bangunan yang tersisa, yang menunjukkan paparan panas ekstrem yang tidak mungkin dihasilkan oleh bahan peledak konvensional biasa. Logam-logam di sekitar lokasi kejadian seringkali ditemukan meleleh atau terdistorsi dengan cara yang hanya bisa terjadi pada suhu ribuan derajat, sebuah indikator forensik yang tak terbantahkan dari penggunaan senjata termal.

Dampak psikologis dari penggunaan senjata jenis ini terhadap populasi Gaza sangatlah menghancurkan. Dalam budaya dan agama masyarakat setempat, prosesi pemakaman dan penghormatan terakhir terhadap jenazah adalah bagian sakral dari siklus kehidupan dan kematian. Ketiadaan jasad untuk dimakamkan menciptakan trauma ganda bagi keluarga yang ditinggalkan; mereka tidak hanya kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk memberikan penghormatan terakhir yang layak.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai ambiguous loss atau kehilangan yang ambigu, di mana ketiadaan bukti fisik kematian membuat proses berduka menjadi terhambat dan seringkali tidak pernah selesai. Bagi seorang ibu seperti Yasmin Mahani, ketidakhadiran jasad Saad berarti ia harus hidup dengan bayang-bayang pertanyaan yang tak pernah terjawab, meskipun logika menyatakan putranya telah tiada.

Baca Juga :  Ketika Usaha Mengkhianati Hasil

“Tidak menemukan apa pun… itu bagian tersulitnya,” ulangnya, sebuah kalimat yang merangkum penderitaan ribuan keluarga lain di Jalur Gaza.

Penggunaan senjata termobarik di kawasan padat penduduk seperti Gaza juga memicu perdebatan sengit mengenai hukum humaniter internasional. Senjata ini, karena sifat ledakannya yang menyedot oksigen dan menyebar ke segala arah, tidak dapat membedakan antara kombatan dan warga sipil. Gelombang kejut yang dihasilkannya mampu meruntuhkan paru-paru dan organ dalam manusia yang berada di luar radius bola api, membunuh tanpa melukai bagian luar tubuh, sementara mereka yang berada di pusat ledakan musnah seketika.

Penggunaannya di area urban yang padat penduduk secara luas dianggap sebagai bentuk kejahatan perang karena dampak indiskriminatifnya yang luar biasa. Investigasi ini menyoroti peran pasokan senjata dari negara asing, khususnya Amerika Serikat, yang terus mengalirkan amunisi canggih ini ke Israel. Meskipun ada seruan global untuk embargo senjata dan penghentian genosida, realitas di lapangan menunjukkan bahwa teknologi pembunuh massal yang semakin canggih justru semakin intensif digunakan.

Laporan investigasi ini juga mengungkap bahwa pola serangan yang menyebabkan hilangnya tubuh korban sering terjadi di tempat-tempat perlindungan yang seharusnya aman, seperti sekolah dan tenda pengungsi. Serangan terhadap sekolah al-Tabin dan tenda-tenda di Deir Al-Balah menjadi bukti nyata bahwa tidak ada tempat yang aman di Gaza.

Warga sipil yang melarikan diri dari satu zona bahaya ke zona lain seringkali berakhir menjadi korban dari senjata yang dirancang untuk membunuh dengan efisiensi maksimal tanpa meninggalkan jejak. Foto-foto dan rekaman video yang menyertai laporan investigasi menunjukkan warga yang berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya di lokasi serangan, sementara di latar belakang, sisa-sisa kehidupan manusia telah berubah menjadi abu yang menyatu dengan puing bangunan.

Kisah Saad dan 2.842 warga Palestina lainnya yang “lenyap” adalah bukti bisu dari kebrutalan perang modern yang telah melampaui batas-batas kemanusiaan. Ketika tubuh manusia direduksi menjadi partikel tak kasat mata oleh teknologi militer, dunia dihadapkan pada pertanyaan moral yang mendesak tentang nilai nyawa manusia di mata para pengambil kebijakan perang.

Investigasi Al Jazeera ini tidak hanya menyajikan data statistik, tetapi juga menggugat kesadaran global. Setiap angka dalam daftar “lenyap” tersebut mewakili sebuah nama, sebuah wajah, dan sebuah cerita yang terhenti paksa. Bagi Yasmin Mahani, dan ribuan orang tua lainnya di Gaza, perang ini tidak akan pernah benar-benar berakhir selama mereka tidak pernah bisa mengucapkan selamat tinggal pada jasad anak-anak mereka.

Di tengah reruntuhan Gaza yang terus bertambah, jejak kejahatan ini mungkin telah terhapus oleh api bersuhu 3.500 derajat, namun kebenarannya kini telah terungkap ke permukaan, menuntut pertanggungjawaban di hadapan sejarah dan hukum internasional. Tanpa adanya intervensi yang berarti untuk menghentikan pasokan dan penggunaan senjata semacam ini, daftar mereka yang lenyap tanpa jejak dikhawatirkan akan terus bertambah, meninggalkan lubang hitam dalam memori kolektif bangsa Palestina yang tidak akan pernah bisa ditutup.

Penulis : Mashur Imam

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Ketika Usaha Mengkhianati Hasil
Mencari Saruman dan Sauron dalam Konflik PBNU
Empati Natural dan Empati Artificial
Hari Guru, Untuk Siapa?
Kiai, Amplop dan Keikhlasan Tak Terhitung
Sesat Nalar Netizen atas Pesantren
Kasak-Kusuk Tepuk Tangan Sakinah
Denting Nurani di Tengah Dentuman Horeg

Baca Lainnya

Saturday, 14 February 2026 - 00:29 WIB

Neraka Gaza, Investigasi Ungkap Ribuan Warga “Lenyap” Tanpa Jejak Akibat Senjata Termal

Wednesday, 7 January 2026 - 22:18 WIB

Ketika Usaha Mengkhianati Hasil

Wednesday, 24 December 2025 - 10:38 WIB

Mencari Saruman dan Sauron dalam Konflik PBNU

Tuesday, 2 December 2025 - 19:37 WIB

Empati Natural dan Empati Artificial

Tuesday, 25 November 2025 - 18:53 WIB

Hari Guru, Untuk Siapa?

TERBARU

Foto: Istimewa.

News

17 Desa di Jember Terendam Banjir, 3.944 KK Terdampak

Friday, 13 Feb 2026 - 15:55 WIB