Penembakan Donald Trump Membawa Kilas Balik Pembunuhan Pangeran Franz Ferdinand yang Menjadi Sebab Perang Dunia Pertama

Sunday, 21 July 2024 - 16:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

foto donald trump setelah menjalani perawatan medis

foto donald trump setelah menjalani perawatan medis

Frensia.id- Mantan presiden Amerika Serikat, Donald Trump nyaris menjadi korban penembakan, saat berkampanye di Pennsylvania, yang dilakukan oleh seorang pemuda berusia 20 tahun, bernama Thomas Matthew Crooks, sebagaimana menurut identifikasi FBI.

Hanya saja Trump haru menderita luka ringan, di bagian atas telinga kanannya. Setelah kejadian tersebut seketika ia berhasil dievakuasi dan menjalani perawatan medis.

Akibat peristiwa penembakan yang mengarah kepada orang yang pernah menjadi nomor satu di Amerika tersebut, didapati korban dari peserta kampanye, satu orang tewas dan dua orang luka parah.

Kejadian tersebut memberikan kilas balik dalam ingatan publik terhadap beberapa petinggi negara yang mencoba untuk dijadikan objek penembakan, salah satunya adalah John F.Kennedy.

Presiden Amerika serikat ke -35 tersebut ditembak saat kunjungannya ke Dallas bersama sang istri tercinta, Jacqueline.

Terdapat berbagai teori yang bersifat konspiratif, mencoba mengungkap latar belakang pembunuhan tersebut. Salah satunya yang dikemukakan oleh David E Kaiser. Bahwa motif utama dari kajadian tersebut erat kaitannya dengan situasi penting AS pada tahun 1950-an, yang mana pemerintah cukup antusias untuk memerangi organisasi mafia.

Selain itu, ia juga mengaitkan dengan percobaan pembunuhan terhadap presiden Kuba saat itu, Fidel Castro oleh agen CIA.

Baca Juga :  Cara Jitu Atasi Budaya Homo di Pesantren dari Hasil Riset

Apa yang dialami oleh Trump dan Kennedy jelas melalui perencanaan yang matang dan berdasarkan motif yang tidak sepele.

Sebagai petinggi negara, terdapat alasan-alasan yang bersifat nasional bahkan internasional dan menjadi bahan kegeraman bagi pelakunya, hingga mereka mesti melakukan kenekatan untuk melakukan peristiwa yang akan senantiasa dikenang dalam sejarah.

Peristiwa Trump, juga membangkitkan ingatan publik terhadap peristiwa pemunuhan pangeran Franz Ferdinand dan istrinya, Shophie Cothek, pada 28 Juli 1914 ketika mereka berada di Sarajevo, Bosnia-Herzegovia. Kejadian tersebut menjadi motif utama yang menyulut perang dunia pertama berkecamuk.

Sang pangeran dan istri diketahui ditembak oleh anggota Black Hand salah seorang anggota teroris Serbia, bernama Gavrilo Princip.

Akhirnya kekaisaran Austria-Hongaria mesti mengambil sikap, dengan cara langsung memberikan ultimatum terhadap Serbia agar segera menyelesaikan perkara tersebut, tetapi justru tidak kunjung ditindaklanjuti.    

Sehingga terjadilah krisis yang bersifat diplomatik dan militer antara dua kubu dan kekuatan-kekuatan utama di Eropa.

Sebagai langkah terakhir dari tindak lanjut dan permintaan yang tidak digubris, maka Austria-Hongaria mendeklarasikan perang, hal ini dilakukan pada 28 Juli 1914.

Baca Juga :  Puluhan Anak dan Wali Murid di Jember Diare Massal Usai Santap Makan Bergizi Gratis

Karena terdapat system aliansi, dalam waktu singkat beberapa negara turut berpartisipasi dengan cara menjalin afiliasi berdasarkan kedekatan dengan dua kubu negara tersebut dan menyatakan kesiapan dirinya untuk berperang.

Serbia mendapatkan dukungan dari Kekaisaran Rusia, Austria-Hongaria memperoleh dukungan dari Jerman. Prancis sebagai sekutu Rusia, turut bergabung, Jerman yang menduduki Belgia pada 4 Agustus membuat Inggris mesti berpihak pada Serbia.

Kasus pembunuhan pangeran Ferdinand memberi ilustrasi bahwa seorang bangsawan atau petinggi negara merupakan simbol dari negara tersebut dan menjadi representasi dari seluruh rakyat yang menempatkan posisinya di tempat terhormat. Sehingga kondisi yang menimpa satu orang saja dari kalangan elit politis, mempunyai imbas yang cukup luas. Hanya saja semuanya tidak bisa melulu disimpulkan dalam konteks perang.

Situasi yang menimpa mantan presiden Amerika Serikat, Donald Trump akan memberi pengaruh pada konstelasi politik di Amerika, minimimal sebagai akan keluar sebagai buntut dari kejadian dalam negeri setelah memperoleh respon dari mereka yang pro dan kontra.

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Agar Bantuan Sosial Tidak Terputus, Pendamping PKH Tegalwangi Mengedukasi untuk Menghindari Judol
Tim URC Macan Blambangan Tangkap Dua Spesialis Perampokan Pecah Kaca Lintas Negara
Cara Jitu Atasi Budaya Homo di Pesantren dari Hasil Riset
Seks dan Relasi Kuasi Kiai Pesantren Diteliti, Ada Dua Salurannya
Menarik! Akademisi Universitas Muhammadiyah Teliti Pendidikan Seksulitas Pesantren
KKN Kolaboratif Desa Sidomulyo-Semboro Jember Dorong Pengelolaan Sampah melalui Pemilahan dan Budidaya Maggot
UIN KHAS Jember Adakan Diklat Kepemimpinan Ormawa, Bekali Mahasiswa Kemampuan Kelola Organisasi
Polije Perkuat Kolaborasi Global Lewat WFK-ICT 2026, Gaet 9 Politeknik se-Indonesia

Baca Lainnya

Friday, 28 August 2026 - 07:28 WIB

Agar Bantuan Sosial Tidak Terputus, Pendamping PKH Tegalwangi Mengedukasi untuk Menghindari Judol

Thursday, 27 August 2026 - 12:49 WIB

Tim URC Macan Blambangan Tangkap Dua Spesialis Perampokan Pecah Kaca Lintas Negara

Wednesday, 26 August 2026 - 09:15 WIB

Cara Jitu Atasi Budaya Homo di Pesantren dari Hasil Riset

Wednesday, 26 August 2026 - 08:56 WIB

Seks dan Relasi Kuasi Kiai Pesantren Diteliti, Ada Dua Salurannya

Wednesday, 26 August 2026 - 08:43 WIB

Menarik! Akademisi Universitas Muhammadiyah Teliti Pendidikan Seksulitas Pesantren

TERBARU

Discover more from Frensia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading