Perempuan, Daycare dan Fenomena Kekerasan Anak

Jumat, 2 Agustus 2024 - 15:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Frensia.id – Perempuan adalah pelindung pertama bagi anak. Ungkapan ini tentu tidaklah berlebihan, dalam banyak budaya dan masyarakat perempuan sering kali dianggap demikian. Hal ini biasanya dikaitkan dengan peran tradisional seroang ibu dalam keluarga, mencakup mengasuh, merawat dan mendidik anak dengan cinta dan kasih sayang.

Peran yang demikian, tentu bukanlah pembakuan peran domestik bias gender terhadap perempuan. Tidak tepat jika perempuan dipahami dan diposisikan sebagai penomorduaan yang hanya berkutat pada urusan kerumahtanggaan. Sebab itulah, urusan melindungi adalah tanggungjawab bersama.

Hanya saja, dalam padangan umum dimasyarakat ibu atau perempuan identik dengan sosok paling melindungi, mengayomi dan sebagainya. Persepsi perempuan sebagai pelindung utama anak, dinilai sebagai salah satu alasan rasional kenapa pengasuh di daycare lumrahnya adalah perempuan.

Meskipun harus diakui kemampuan untuk mengasuh adan melindungi anak tidak bergantung pada jenis kelamin. Sehingga menjadi aneh bahkan menambah ironi mendalam, ketika orang yang dilabeli sosok pelindung utama anak, justru menjadi pelaku kekerasan.

Belum usai kesedihan penganiayaan anak yang terjadi di malang misalnya, kini kekerasan anak terjadi, pelakunya sama-sama perempuan. Ironisnya, Tersangka kali ini adalah pemilik dan salah satu pengasuh taman penitipan anak atau daycare.

Bahkan Informasinya, ia seorang influencer parenting. Dikenal sebagai orang yang kerap mengkampanyekan video perenting serta konten-konten bijak mengenai ibu dan anak, mestinya tidak hanya menjadi pelindung namun contoh dan teladan yang baik.

Diakui atau tidak, tragedi ini akan mengurangi kepercayaan (trust) atau paling tidak membuat masyarakat semakin was-was dengan keberadaan daycare ini. Padahal keberadaan daycare ini dianggap sebagai kebutuhan atas perubahan sosial. Industrialisasi berkeadilan gender yang membuka kran lapangan kerja yang besar bagi perempuan, daycare dinilai sebagai salah satu solusi yang tepat.

Baca Juga :  Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan pengasuhan anak saat para orang tua bekerja, termasuk untuk memberikan ruang bagi perempuan dalam ranah publik. Daycare sendiri secara formal sudah diatur dalam Surat Edaran Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 61 Tahun 2020. Surat edaran ini sebagai pedoman penyelenggaraan taman pengasuhan anak berbasis hak anak atau daycare ramah anak bagi pekerja di daerah.

Tujuan dari surat edaran ini untuk memastikan seluruh anak-anak, khususnya anak-anak dari perempuan dan atau keluarga pekerja/buruh memperoleh layanan pengasuhan yang berkualitas sesuai dengan hak-hak dasar anak agar tumbuh baik fisik, mental, moral dan sosial.

Oleh karena itu, pekerjaan di daycare yang lumrahnya masih didominasi perempuan mestinya dikelola dengan baik. Selain menjalankan tanggungjawabnya, langkah ini sebagai wujud untuk mensupport sesama perempuan. Mengingat latar belakang adanya pengasuhan alternatif dalam bentuk daycare ini, untuk memberikan ruang bagi perempuan dalam ranah publik. Jangan sampai sebaliknya, bersikap kasar apalagi menganiaya.

Selama ini perempuan merasa tertindih ketika laki-laki melakukan kekerasan bagi perempuan dan anak yang kerap kali mendengungkan langgengnya budaya patriarki. Padahal tidak sedikit perempuan tertindas oleh perempuan lainnya, anak dianiaya oleh sosok perempuan.

Baca Juga :  Evaluasi Flyer Pemerintah di Website Media: Menimbang Maslahat dan Mafsadat dalam Komunikasi Publik

Lalu sebutan apa yang pantas bagi perempuan yang demikian.? Bukankah ketika perempuan menganiaya kaumnya sendiri sesama jenis dikategorikan perbuatan yang sangat memilukan?

Sering kali menarasikan pentingnya sistem, regulasi dan budaya ramah perempuan dan anak, namun pada saat yang sama bersifat antagonis bagi kelompoknya sendiri, Ironi. Tentu fenomena kekerasan anak ditempat daycare Depok yang hari ini menjadi perbincangan netizen, tidak bisa dijadikan sample buruknya tempat penitipan anak secara menyeluruh.

Namun harus diakui kekerasan terhadap anak di daycare bukan masalah yang sepele, ini persoalan serius. Orang tua memberikan kepercayaan untuk menitipkan anaknya agar lebih fokus bekerja dan mengembankan karier. Selain itu, berharap tumbuhnya perkembangan kognitif, motorik dan emosional anak yang kesemuanya itu mempersiapkan untuk sekolah formal.

Maka sejatinya, anak yang dititipkan di daycare diperlakukan istimewa seperti anaknya sendiri. Apalagi pengasuhnya perempuan, sosok yang sering kali mendorong keadilan, kesetaraan dan kesejahteraan. Bukanlah suatu yang utopia institusi ramah perempuan, jika perempuan sendiri tidak konsisten dengan narasi-narasi tersebut.

Tidak ada pilihan lain, segala tindakan kekerasan pada anak harus diterapkan kebijakan zero tolerance atau nol toleransi. Artinya, siapapun yang melakukan pelanggaran wajib menerima hukuman atau konsekuensi yang tegas tanpa pengecualian. Apalagi pelakunya perempuan, ia telah melanggar aturan formal negara dan norma moral atas narasinya yang menempatkan sebagai antitesa kekerasan. *

*Moh. Wasik (Anggota LKBHI UIN KHAS Jember, Penggiat Filsafat Hukum dan Anggota Dar Al Falasifah)

Follow WhatsApp Channel frensia.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Baca Lainnya

Lebaran: Subjek Bebas yang Memaafkan
Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran
Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi
Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 
Negara atau Rentenir? STNK Mati, Motor Ikut Pergi
Evaluasi Flyer Pemerintah di Website Media: Menimbang Maslahat dan Mafsadat dalam Komunikasi Publik
Menjaga Alam, Merawat Kehidupan
Koalisi Permanen, Jalan Terjal Demokrasi

Baca Lainnya

Selasa, 1 April 2025 - 08:23 WIB

Lima Jawaban Elegan Untuk Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran

Jumat, 21 Maret 2025 - 23:34 WIB

Karpet Merah untuk TNI, Kuburan bagi Reformasi

Kamis, 20 Maret 2025 - 22:06 WIB

Post Globalization Militarism: Kajian Interdisipliner tentang Hegemoni Ekonomi, Polarisasi Sosial, dan Tatanan Militerisme Dunia 

Rabu, 19 Maret 2025 - 05:57 WIB

Negara atau Rentenir? STNK Mati, Motor Ikut Pergi

Kamis, 20 Februari 2025 - 20:45 WIB

Evaluasi Flyer Pemerintah di Website Media: Menimbang Maslahat dan Mafsadat dalam Komunikasi Publik

TERBARU

Don Quixote, Tokoh fiksi karangan Miguel De Cervantes

Kolomiah

Kita Adalah Don Quixote yang Terhijab

Jumat, 4 Apr 2025 - 13:02 WIB

Kolomiah

Lebaran yang Membumi

Rabu, 2 Apr 2025 - 23:14 WIB