Frensia.id– Peringatan darurat bukan hanya dilakukan dengan aksi medsos dan demontrasi. Sejumlah hacker mengaku telah melakukan aksi mural dengan meretas laman resmi pemerintah.
Tidak hanya mahasiswa dan sejumlah artis yang turun jalan. Sejumlah pihak yang mengaku hacker juga mengaku melakukan aksi.
Peringatan terhadap situasi darurat memang seringkali disuarakan melalui berbagai cara, termasuk aksi di media sosial dan demonstrasi jalanan. Namun, beberapa kelompok memilih pendekatan yang berbeda untuk menyampaikan pesan mereka.
Sejumlah peretas mengklaim bahwa mereka telah mengambil langkah-langkah yang mereka sebut sebagai “aksi mural” dengan meretas situs-situs resmi milik pemerintah. Mereka melihat tindakan ini sebagai cara untuk menarik perhatian publik dan otoritas terkait terhadap isu-isu mendesak yang seringkali diabaikan atau tidak ditanggapi dengan serius oleh pihak berwenang.
Melalui aksi peretasan, para pelaku berharap pesan mereka lebih didengar dan dipertimbangkan oleh pihak berwenang. Ini menjadi salah satu cara ekstrem bagi kelompok tertentu untuk mengekspresikan ketidakpuasan dan kekhawatiran mereka terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memadai dalam menangani masalah kritis.
Mereka meretas sejumlah akun penting, bahkan diindikasikan, salah satunya milik labfor Jatim Polri. Setelah meretas, mereka memasang pesan moral.
“Dari para hacker indonesia yang ikut berdemo sejak tadi magrib melalui mural online (Defacing)”, tulis keterangan resmi yang diterima Frensia.id via telegram, 23/08/2024
Akun yang menyebarkan pesan tersebut juga memberikan klarifikasi bahwa aksi peretasan ini bukan dilakukan oleh sebuah kelompok, melainkan oleh individu.
Dalam pesan yang disampaikan, nama peretas tersebut bahkan dicantumkan dalam script yang ditinggalkannya pada situs yang diretas. Ini menunjukkan bahwa aksi tersebut bersifat personal dan tidak berafiliasi dengan organisasi atau kelompok tertentu.
Peretas tersebut tampaknya ingin menekankan bahwa aksinya adalah bentuk tanggung jawab pribadi terhadap isu yang sedang disoroti, bukan hasil koordinasi dari jaringan yang lebih besar.
Dengan menuliskan namanya secara langsung, ia tampak berupaya mempertegas perannya dalam aksi ini, sekaligus memberikan peringatan kepada publik saat ini.
Langkah ini juga bisa diartikan sebagai usaha untuk menambah bobot mural dari aksinya, menunjukkan bahwa ia tidak bersembunyi di balik anonimitas atau organisasi besar, melainkan bertindak atas dorongan pribadi.
“sesuai nickname tertera pada script mereka atas kesadaran mereka sendiri”, catatnya meberi keterangan.
Adapun pesan muralnya, banyak jenisnya. Ada yang menampilkan pesan #KawalPutusanMK dengan quotes penjajahan oleh bangsa sendiri. Bahkan ada yang menampilkan nasehat untuk ayah yang otoriter.
“Tidak semua keinginan anak harus dipenuhi orang tua. Tidak pula ambisi orang tua harus diikuti oleh anak. Ajarkan anak untuk merasa cukup. Ingat pula agar memiliki rasa malu ketika mengambil sesuatu di luar batas normal dan etika”, bunyi salag satu mural yang disebarkan.