Frensia.id – Posko 16 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Jember, berkolaborasi dengan Bhabinkamtibmas untuk lakukan patroli keamanan di Desa Tempursari, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang (6/8/2024).
Tidak hanya bersama Bhabinkamtibnas yang diwakili oleh Totok Yuswanto, namun Kepala Dusun Taman Bapak Chudori, dan Ketua RW 01 Bapak Dulsari, juga ikut andil melaksanakan operasi patroli yang bertujuan untuk mitigasi segala bentuk kejahatan.
Bagi beberapa penduduk lokal, aksi curanmor dan pencurian hewan ternak seperti biasa terjadi di desa ini.
“Operasi ini merupakan respons terhadap kasus kejahatan di wilayah tersebut dan bertujuan untuk mengurangi potensi kejadian kriminal melalui peningkatan pengawasan dan kewaspadaan”, ungkap Ilyasini salah seorang aktivis mahasiswa KKN posko 16.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa KKN yang berfungsi sebagai bagian dari upaya mitigasi kejahatan, bekerjasama dengan aparat keamanan desa.
Meskipun mahasiswa KKN sebagai pendatang menghadapi risiko keamanan yang signifikan, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan utama untuk meningkatkan rasa aman dan ketertiban di kalangan masyarakat desa.
Patroli ini merupakan manifestasi dari komitmen bersama dalam upaya menjaga keamanan komunitas lokal. Strategi mitigasi yang diterapkan melibatkan pendirian pondok rahasia di beberapa titik tertentu dengan jarak yang relatif jauh.
Meskipun demikian, implementasi dari strategi ini belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi yang diinginkan. Salah satu faktor penyebabnya adalah keberadaan kelompok mafia yang masih aktif di area tertentu, yang menyulitkan pelaksanaan tugas patroli dan mengurangi efektivitas pengawasan.
Menurut salah satu Kepala dusun yang ada di desa tersebut, Chudori mengatakan bahwa patroli malam hari merupakan kegiatan rutin yang telah dilaksanakan setiap malam dengan aparat keamanan juga masyarakat yang ada di desa terkait.
Namun, meskipun adanya upaya rutin, kasus pencurian tetap terjadi. Masalah utama yang dihadapi adalah keterbatasan fasilitas seperti poskamling dan kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang memadai untuk mendukung kegiatan patroli secara efektif.
Yuswanto menambahkan bahwa pemanfaatan fasilitas umum seperti poskamling harus optimal untuk meningkatkan keamanan. Beliau menekankan bahwa tanggung jawab dalam menjaga keamanan harus dibagi antara aparat keamanan dan masyarakat sekitar, agar tercipta lingkungan yang aman dan nyaman.
Dalam pertemuan dengan pihak keamanan desa, Mahasiswa KKN Posko 16 ini menyatakan telah memperoleh informasi mengenai kejadian pencurian ternak (sapi) yang terjadi tiga hari sebelum penugasan mereka.
Kejadian ini menambah keprihatinan mahasiswa KKN terhadap kondisi keamanan di desa. Kejadian tersebut menunjukkan bahwa penanganan masalah ini memerlukan perhatian dari berbagai pihak, tidak hanya di tingkat desa tetapi juga melibatkan pemerintah kabupaten dan petugas keamanan pusat.
Ilyasin salah satu anggota Mahasiswa KKN mengatakan bahwa, penyelesaian konflik kejahatan ini perlu penanganan yang lebih intensif oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang dan pihak berwenang lainnya.
Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan terhadap masyarakat sekitar, penanganan yang signifikan dan terkoordinasi sangat diperlukan untuk mencegah kerugian lebih lanjut dan meningkatkan rasa aman di komunitas desa.
Upaya mitigasi kejahatan di Desa tersebut yang melibatkan kolaborasi antara mahasiswa KKN, aparat keamanan desa, dan masyarakat, merupakan langkah yang penting dalam menangani masalah kejahatan di daerah tersebut.
Meskipun tantangan signifikan tetap ada, termasuk keberadaan mafia dan keterbatasan fasilitas, komitmen bersama untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat harus tetap dijaga.
Penanganan yang lebih terkoordinasi dan dukungan dari pemerintah kabupaten diharapkan dapat meningkatkan efektivitas upaya mitigasi dan memastikan keamanan bagi seluruh warga desa. (*)