Frensia.id- Sejumlah akademisi dari Universitas Negeri Jember (UNEJ), Evita Soliha Hani, baru-baru ini merampungkan penelitian mendalam tentang kualitas air di sistem pertanian Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.
Pada 2024, penelitian cukup memberikan pemahaman pada pentingnya air sebagai elemen vital dalam keberlanjutan pertanian dan lingkungan.
Candipuro dikenal dengan sistem irigasi sawahnya yang terbentang luas, yang dibagi menjadi dua jenis: sawah tadah hujan dan sawah dengan irigasi semi-teknis. Irigasi sawah tadah hujan mencakup 92,5% atau 6.304 hektar lahan, sementara sawah semi-teknis melingkupi 7,5% atau 512 hektar.
Tentu yang merupakan tantangan besar bagi sektor pertanian saat ini adalah memastikan keamanan lingkungan, dan air menjadi indikator utama keberlanjutan ekosistem pertanian. Kualitas air di Candipuro dikaji untuk menilai dampak kegiatan pertanian, baik organik maupun non-organik, terhadap ekosistem perairan.
Identifikasi ini penting, karena sistem pertanian diatur sesuai standar nasional, SNI 6729;2016, yang mendorong praktik ramah lingkungan. Penelitian ini mengambil sampel air dari tiga titik strategis: hulu, tengah (irigasi), dan hilir (sungai), dengan pengambilan sampel dilakukan tiga kali di setiap titik untuk mendapatkan data yang representatif.
Untuk mengukur kualitas fisik air, mereka menggunakan alat Combo Quality Meter, sementara analisis kimia dan biologi dilakukan di Laboratorium Lingkungan, Perum Jasa Tirta 1. Penilaian mengacu pada baku mutu air yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001.
Hasilnya menunjukkan bahwa di bagian hulu, indikator pencemaran seperti biological oxygen demand (BOD) mencapai rata-rata 15,03 mg/L untuk sistem organik dan konvensional, sementara fosfat rata-rata berada pada 1,96 mg/L. Di bagian tengah, indikator BOD, fosfat, dan total Coliform untuk sistem organik masing-masing mencapai 6,76 mg/L, 7,37 mg/L untuk non-organik, dan 1.290 CFU/mL.
Di bagian hilir, pencemaran diukur melalui total padatan tersuspensi (TSS), BOD, chemical oxygen demand (COD), dan total Coliform.
Menurut penelitian ini, kualitas air menjadi tolok ukur penting dalam pertanian berkelanjutan. Sistem pertanian organik, misalnya, diharuskan bebas dari kontaminan tanah dan air agar sesuai dengan aturan lembaga sertifikasi organik.
Penggunaan bahan alami dalam budidaya menjadi langkah utama dalam menjaga kelestarian ekosistem perairan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa beberapa parameter, seperti BOD, COD, TSS, total fosfat, dan total Coliform, masih melebihi ambang batas mutu air yang ditentukan. Untuk itu, diperlukan langkah pengendalian agar air dapat memenuhi standar baku mutu, baik untuk sistem organik maupun non-organik.
Tim peneliti menyoroti pentingnya pengendalian antropogenik, yaitu mengurangi limbah domestik dan pertanian yang mengalir ke jaringan irigasi. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengevaluasi sistem budidaya organik, semi-organik, dan non-organik, yang bertujuan menjaga kestabilan ekosistem pertanian dan menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan.
Evaluasi ini diharapkan membantu menciptakan model pertanian yang ramah lingkungan, stabil secara ekosistem, dan mampu menjawab tantangan era modernisasi pertanian.