Frensia.Id- Menjelang arus mudik Lebaran 2026, sejumlah titik di Kabupaten Jember, Jawa Timur, diprediksi akan mengalami kepadatan kendaraan yang signifikan.
Kasat Lantas Polres Jember, AKP Bernardus Bagas Simarmata, memperkirakan puncak arus mudik akan terjadi menjelang hari raya Idul Fitri.
Salah satu titik paling rawan macet yang menjadi perhatian adalah Simpang Empat Mangli.
“Titik trouble spot yang pertama yang pasti di persimpangan simpang empat Mangli. Karena di sana merupakan percabangan kendaraan yang mau ke arah Bondowoso, Banyuwangi, dan ke arah kota,” katanya, Rabu (18/3/2026).
Selanjutnya kata dia, tak hanya di jalur mudik, kawasan Alun-alun Jember juga diperkirakan akan diserbu masyarakat selama libur Lebaran. Aktivitas warga dan pusat perbelanjaan di sekitarnya diprediksi menjadi magnet kemacetan.
“Pusat keramaian pasti akan masuk di situ (Alun-alun), jadi pasti akan macet,” ujarnya.
Bahkan menurut Bagas, geliat kepadatan kendaraan di sekitar pusat perbelanjaan sudah mulai terlihat sejak saat ini. Untuk mengantisipasi itu, polisi telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas, terutama saat pelaksanaan salat Idul Fitri di kawasan Alun-alun.
“Saat menjelang salat Id, Alun-alun ditutup. Kami lakukan rekayasa. Dari arah Jalan Gajah Mada ke arah Hotel 88 diarahkan belok kiri, melewati bundaran Polres menuju Jalan Ahmad Yani,” paparnya.
Sedangkan kendaraan dari arah Bondowoso yang menuju Alun-alun akan dialihkan di perempatan SMPN 2 Jember. Kantong parkir juga telah disiapkan di area Stasiun Jember.
“Tempat parkir juga telah disiapkan di area Stasiun Jember,” tambahnya.
Sementara bagi masyarakat yang berencana berwisata ke Pantai Watu Ulo dan Papuma, polisi juga menyiapkan skema khusus jika terjadi lonjakan pengunjung. Mengingat jalur menuju pantai tersebut cukup sempit, sistem satu arah (one way) akan diberlakukan.
“Ketika pengunjung membeludak, akan kita buat one way. Pintu masuk Papuma semuanya lewat pos Watu Ulo. Ini untuk menghindari kendaraan berpapasan di jalur sempit,” tambahnya.
Kendati demikian, Bagas menegaskan seluruh rekayasa ini bersifat situasional.
“Kita buat satu arah, masuk satu, keluar satu. Tapi itu semua melihat perkembangan di lapangan,” tandasnya.






